Headline.co.id, Sidoarjo ~ KKP bersama UNDP Indonesia mendorong peningkatan produksi dan hilirisasi rumput laut Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur. Kolaborasi ini dilakukan melalui rehabilitasi tambak, penyediaan bibit unggul, penguatan sarana produksi dan pascapanen, serta upaya menarik investasi di sektor pengolahan. Langkah tersebut disampaikan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (26/9/2026), seiring proyeksi permintaan rumput laut global pada 2029 yang mencapai 40–43 juta ton. Penguatan dari hulu hingga hilir diharapkan meningkatkan nilai tambah rumput laut dan memperkuat keterhubungan pembudidaya dengan industri pengolahan.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu atau Tebe mengatakan, pengembangan budi daya Gracilaria memiliki prospek besar. Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar kedua dunia, dengan volume produksi mencapai 9,8 juta ton pada 2024.
Dari total produksi tersebut, Gracilaria menyumbang sekitar 16,5 persen produksi di 15 provinsi produsen utama. Di Jawa Timur, produksi Gracilaria tercatat sebanyak 31.947 ton. Komoditas itu dibudidayakan melalui sistem polikultur bersama ikan bandeng.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Produksi Gracilaria Jawa Timur Capai 31.947 Ton
Menurut Tebe, potensi Gracilaria tidak hanya terletak pada peningkatan produksi. Penguatan rantai usaha juga perlu dilakukan agar hasil budi daya dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
“Potensinya tidak berhenti pada produksi. Hulu harus diperkuat, kemudian hilirisasinya juga perlu terus didorong agar muncul investasi dan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” ujar Tb Haeru Rahayu.
Untuk memperkuat usaha pembudidaya di Sidoarjo, KKP telah memberikan sejumlah dukungan. Bantuan tersebut mencakup dua unit ekskavator untuk mendukung perbaikan tambak, bibit Gracilaria unggul, benih bandeng, serta dukungan pembiayaan.
Penguatan berikutnya diarahkan agar produksi di tingkat pembudidaya semakin terhubung dengan industri pengolahan. Dengan demikian, upaya peningkatan produksi tidak berhenti pada hasil panen, tetapi berlanjut pada pengembangan produk dan perluasan nilai ekonomi di dalam negeri.
KKP Kembangkan Bibit Gracilaria Berbasis Spora
KKP juga menyiapkan pengembangan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora di dua unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya di Pulau Jawa. Kedua unit tersebut adalah Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Situbondo dan Balai Besar Perikanan Budi Daya Air Payau Jepara.
Pengembangan teknologi itu ditujukan untuk mendekatkan penyediaan bibit dengan sentra produksi rumput laut di Pulau Jawa. Selama ini, teknologi pembibitan berbasis spora telah berjalan di Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, yang juga berada di bawah KKP.
Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar Boyun Handoyo mengatakan, pengiriman bibit hasil teknologi spora ke Sidoarjo telah dilakukan tahun ini.
“Tahun ini telah dikirimkan sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora ke Sidoarjo. Harapannya bibit ini dapat terus dikembangkan dan diperbanyak sehingga pembudidaya memiliki sumber bibit berkualitas,” kata Boyun.
Penyediaan bibit berkualitas menjadi salah satu bagian dari penguatan produksi Gracilaria. Selain bibit, perbaikan tambak, dukungan sarana produksi, pembiayaan, serta penguatan tahap pascapanen juga menjadi bagian dari kolaborasi KKP dan UNDP Indonesia.
UNDP Dorong Keterlibatan Investor dan Industri
Resident Representative UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella menilai perbaikan pengelolaan bibit, proses panen, dan pengolahan merupakan bagian penting untuk meningkatkan nilai yang diterima pembudidaya.
Ia mengatakan keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri dibutuhkan untuk mendukung koperasi melakukan diversifikasi produk. Keterlibatan berbagai pihak tersebut juga diperlukan untuk memperkuat pengolahan dan memperluas akses produk rumput laut Indonesia ke pasar global.
“Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, dan Sidoarjo relevan dalam potensi besar tersebut. Selanjutnya, hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” kata Sara.
Kolaborasi KKP dan UNDP Indonesia di Sidoarjo dengan demikian mencakup penguatan produksi Gracilaria sekaligus penyiapan rantai usaha menuju hilirisasi. Rehabilitasi tambak, penggunaan bibit unggul, pengembangan teknologi berbasis spora, serta dukungan pascapanen diarahkan untuk memperkuat usaha pembudidaya dan membuka peluang investasi di bidang pengolahan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















