Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat lembaga inkubator untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu melahirkan wirausaha berkualitas dan berdaya saing. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan hal itu saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Provinsi Jawa Timur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Rabu (23/9/2026). Penguatan inkubator dilakukan untuk memastikan pelaku UMKM memperoleh pendampingan terstruktur dan berkelanjutan, mulai dari pengembangan usaha hingga akses pembiayaan dan pasar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menargetkan lahirnya 10 juta penduduk yang berusaha dan bekerja melalui penguatan ekosistem kewirausahaan.
Inkubator yang diperkuat mencakup lembaga yang berada di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar kampus. Menurut Maman, lembaga tersebut berperan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan pembinaan kepada pelaku usaha secara sistematis dan berkelanjutan.
“Kenapa harus inkubator? Karena kita membutuhkan perpanjangan tangan agar pembinaan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah lebih terstruktur, sistematis, terintegrasi, serta berkelanjutan,” kata Maman melalui keterangan resminya, Kamis (24/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Inkubator Jembatani Riset dan Komersialisasi
Maman mengatakan masih banyak produk UMKM dan hasil inovasi yang memiliki kualitas baik, tetapi belum berkembang secara optimal. Kondisi itu terjadi karena produk dan inovasi tersebut belum memperoleh pendampingan berkelanjutan, penguatan riset, serta perencanaan komersialisasi.
Karena itu, Kementerian UMKM memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk menjembatani hasil riset dan inovasi agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
“Kita ingin inovasi yang dihasilkan kampus ke depan bisa dikomersialkan, masuk ke industrialisasi, dan dimanfaatkan masyarakat,” ujar Maman.
Ia mencontohkan inovasi yang dikembangkan ITS, termasuk teknologi kesehatan dan robotika. Pemerintah, kata Maman, perlu hadir untuk membantu mempercepat berbagai tahapan agar inovasi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas, termasuk melalui dukungan dalam proses perizinan dan sertifikasi.
Bursa Wirausaha Unggulan dinilai menjadi momentum untuk memperluas sinergi pengembangan kewirausahaan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, dan lembaga inkubator.
Kolaborasi tersebut diarahkan tidak hanya untuk membantu wirausaha bertahan menjalankan usaha, tetapi juga meningkatkan skala usaha dan menciptakan lapangan kerja.
“Tidak mungkin kita melakukan pembinaan kalau tidak berkesinambungan dan berkelanjutan. Karena itu, kita bersama-sama dengan kampus menghidupkan inkubator. Mudah-mudahan dari kebijakan ini lahir usaha mikro, kecil, dan menengah yang berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tutur Maman.
Target Rasio Kewirausahaan
Penguatan inkubator sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. Regulasi tersebut menjadi payung kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, lembaga inkubator, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya.
Kebijakan itu diarahkan untuk mempercepat pencapaian rasio kewirausahaan sebesar 3,6 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.
Selain pendampingan, Maman menekankan pembiayaan sebagai bagian dari ekosistem pengembangan usaha. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Timur hingga saat ini mencapai Rp37,11 triliun kepada sekitar 643 ribu debitur UMKM. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp23 triliun disalurkan ke sektor produksi.
Namun, Maman mengingatkan pembiayaan tidak dapat berdiri sendiri. Akses permodalan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas usaha, pemenuhan legalitas, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar agar dapat mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.
“Kalau pembiayaan sudah diberikan, tetapi produknya tidak bisa dijual, usaha juga akan kesulitan berkembang. Karena itu, selain legalitas dan pembiayaan, pasar menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi UMKM,” katanya.
Produk Lokal Didorong Masuk Pasar Ekspor
Pemerintah juga terus memperkuat posisi produk lokal di pasar domestik sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing agar mampu menembus pasar ekspor.
Kementerian UMKM bersama Kementerian Perdagangan memperluas akses pasar serta mengupayakan kemudahan regulasi dan insentif bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar global, termasuk produk unggulan dari Jawa Timur.
“Catatan pertama kalau kita bicara ekspor adalah kualitas. Produk lokal kita tidak kalah kualitasnya. Sekarang kami bersama Kementerian Perdagangan terus membuka akses agar produk-produk Indonesia, termasuk dari Jawa Timur, dapat masuk ke pasar internasional,” ujar Maman.
Melalui Bursa Wirausaha Unggulan, Kementerian UMKM berharap kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, dan inkubator semakin kuat. Kolaborasi itu diharapkan memberi wirausaha pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan dan teknologi, serta peluang pasar yang lebih luas agar dapat tumbuh dan naik kelas.
Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati mengatakan ITS siap memperkuat kapasitas teknologi, inovasi, produktivitas, dan daya saing UMKM di Jawa Timur.
Peran tersebut diwujudkan melalui pendampingan desain kemasan bagi UMKM serta pengembangan lebih dari 180 perusahaan rintisan melalui Inkubator dan Layanan Bisnis Inovasi (ILBI) ITS.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi penyemangat bagi perguruan tinggi untuk berperan sebagai enabler teknologi, desain, dan inovasi bagi UMKM. Kami siap mendukung upaya pemerintah untuk menaikkan level UMKM sehingga menjadi pemeran utama kemandirian ekonomi bangsa,” ujar Bambang.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















