Headline.co.id, Tangerang ~ Fleksibilitas jaringan listrik dinilai menjadi kunci bagi Indonesia untuk memperluas energi terbarukan sekaligus memenuhi peningkatan kebutuhan listrik dari industrialisasi, elektrifikasi, dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Kelompok teknologi global Wärtsilä menyampaikan pandangan tersebut dalam Enlit Asia 2026 x MKI Electricity Connect di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026). Menurut Wärtsilä, sistem tenaga listrik harus mampu merespons perubahan pasokan dan permintaan secara cepat agar keandalan jaringan tetap terjaga. Fleksibilitas itu dapat dibangun melalui kombinasi energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi, serta pembangkit yang dapat dioperasikan sesuai kebutuhan.
Managing Director PT Wärtsilä Indonesia Ossi Ylinen mengatakan, ketahanan energi pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan sistem tenaga listrik beradaptasi terhadap perubahan.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan digital. Dengan arsitektur sistem tenaga yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, mengintegrasikan lebih banyak energi bersih secara signifikan, serta menyediakan fondasi yang andal untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan,” kata Ylinen di ICE BSD.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Target Kapasitas Energi Terbarukan
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) pada 2034. Penambahan itu mencakup 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas gas baru.
Seiring meningkatnya kontribusi pembangkit listrik tenaga surya dan angin, sistem kelistrikan harus mengelola pasokan yang bersifat variatif. Pada saat yang sama, kebutuhan listrik dari sektor industri dan infrastruktur digital terus bertambah.
Wärtsilä juga menyoroti ambisi Indonesia yang telah diumumkan untuk mengembangkan 100 GW tenaga surya. Peningkatan kapasitas tenaga surya akan membuat kebutuhan terhadap kapasitas penyeimbang yang fleksibel semakin besar, terutama ketika produksi listrik berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam.
Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy Frederic Carron mengatakan, pembangkit listrik berbasis mesin dapat melengkapi pembangkit energi terbarukan yang produksinya berubah-ubah.
“Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel,” kata Carron.
Menurut dia, mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit. Output pembangkit juga dapat disesuaikan dengan cepat mengikuti kebutuhan jaringan, sehingga berfungsi sebagai kapasitas penyeimbang ketika produksi energi terbarukan mengalami perubahan.
Kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan lain dalam pengelolaan sistem tenaga listrik. Jaringan listrik membentang di wilayah kepulauan, mulai dari sistem interkoneksi besar dan pusat industri yang berkembang hingga sistem kelistrikan pulau-pulau kecil yang terisolasi. Karena itu, teknologi yang fleksibel dan dapat diskalakan dinilai penting untuk menyesuaikan kebutuhan tiap sistem.
Pengalaman Fleksibilitas Jaringan di Lombok
Nilai penting fleksibilitas jaringan listrik telah terlihat dalam pengoperasian pembangkit di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pembangkit berkapasitas 135 megawatt (MW) yang dilengkapi 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40 persen kebutuhan listrik pulau tersebut.
Sebagian kapasitas pembangkit itu digunakan untuk mendukung penyeimbangan jaringan. Fleksibilitas operasionalnya membantu sistem mengintegrasikan 20 MW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sekaligus menjaga stabilitas jaringan listrik.
Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia Febron Siregar mengatakan, tahap berikutnya dalam transisi energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas energi terbarukan yang dibangun.
“Tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan,” ujar Febron.
Ia menambahkan, perencanaan sistem tenaga yang lebih fleksibel sejak sekarang dapat membantu Indonesia menghindari persoalan keandalan dan stabilitas ketika penggunaan energi terbarukan semakin tinggi.
Dalam jangka panjang, dekarbonisasi membutuhkan kerja bersama energi terbarukan, penyimpanan energi, infrastruktur transmisi, serta kapasitas pembangkit yang dapat dioperasikan sesuai kebutuhan. Wärtsilä menyatakan pendekatannya menggabungkan ketiga unsur pembangkitan energi terbarukan, penyimpanan energi, dan pembangkit mesin fleksibel untuk penyeimbangan sistem.
Portofolio mesin Wärtsilä juga terus dikembangkan agar dapat menggunakan bahan bakar berkelanjutan apabila tersedia secara komersial dalam skala besar. Perusahaan tersebut menyebut langkah ini sebagai jalur menuju emisi yang lebih rendah tanpa mengorbankan keandalan sistem.
Pusat Data Membutuhkan Pasokan Listrik Cepat
Selain transisi energi, pertumbuhan AI, komputasi awan, dan layanan digital turut mengubah pola permintaan listrik. Pusat data membutuhkan kapasitas daya besar dan terkonsentrasi. Namun, fasilitas tersebut kerap dibangun di lokasi dengan infrastruktur jaringan terbatas atau koneksi listrik yang belum tersedia sesuai jadwal pembangunan proyek.
General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy Patrik Farkas mengatakan kecepatan memperoleh pasokan listrik menjadi pertimbangan penting bagi pengembang pusat data.
“Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri,” ujar Farkas.
Menurut Farkas, pembangkitan listrik di lokasi atau onsite generation yang dapat ditingkatkan secara bertahap memungkinkan proyek pusat data berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas. Ketika koneksi jaringan telah tersedia, aset pembangkit tersebut dapat dialihkan fungsinya menjadi kapasitas penyeimbang atau pembangkit beban puncak.
Wärtsilä menyebut telah menjual proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa. Perusahaan itu mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia sebagai pasar yang memiliki peluang jangka menengah hingga panjang untuk solusi kelistrikan pusat data.
“Transisi energi dan pertumbuhan digital Indonesia sedang berlangsung secara bersamaa. Peluangnya terletak pada pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung keduanya. Akses terhadap pasokan listrik yang andal dapat membuka investasi digital, sementara aset energi yang adaptif dapat terus memberikan nilai saat jaringan berkembang dan bauran pembangkitan berubah,” tutur Febron.
Enlit Asia 2026 x MKI Electricity Connect berlangsung pada 22-24 September 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Jakarta Raya. Kegiatan itu mempertemukan lebih dari 11.000 profesional dan lebih dari 280 peserta pameran internasional untuk membahas ketahanan energi, dekarbonisasi, serta sumber baru permintaan listrik di Asia Tenggara.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















