Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti proyeksi produksi beras dunia dan negara-negara ASEAN untuk memperkuat kebijakan pangan Indonesia. Dalam bahan paparan Kementerian Pertanian yang diterima pada Kamis (24/9/2026), proyeksi FAO dan USDA menjadi gambaran kondisi pasokan beras global serta regional. Di tengah dinamika tersebut, produksi beras Indonesia terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, pengembangan lahan sawah, cadangan nasional, dan penerapan teknologi pertanian modern. Langkah itu dilakukan untuk menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat.
Proyeksi produksi beras Indonesia dan negara-negara produsen lainnya menjadi perhatian karena perubahan produksi global dapat memengaruhi dinamika pasokan beras dunia. Proyeksi produksi beras dunia yang digunakan Kementan mengacu pada FAO Food Outlook—Biannual Report on Global Food Markets edisi Juni 2025.
Data tersebut memperlihatkan persentase kenaikan produksi beras di sejumlah negara produsen utama dunia, lain India, Vietnam, Mesir, China, Jepang, Bangladesh, Filipina, Myanmar, Indonesia, dan Brasil.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Proyeksi Beras ASEAN Mengacu pada USDA
Selain data global, bahan Kementerian Pertanian memuat ramalan produksi beras negara-negara ASEAN berdasarkan USDA Rice Outlook April 2025. Proyeksi itu mencakup Indonesia, Vietnam, Thailand, Filipina, Kamboja, Laos, dan Malaysia.
Perkiraan produksi beras negara-negara ASEAN tersebut disajikan dalam ribuan ton berdasarkan hasil gilingan. Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan dalam proyeksi produksi kawasan bersama negara-negara produsen beras utama ASEAN lainnya.
Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan penguatan produksi dalam negeri penting dilakukan di tengah perubahan kondisi pangan dunia. “Penguatan produksi dalam negeri menjadi penting di tengah dinamika pangan global. Pemerintah, kata dia, terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat cadangan beras nasional,” kata Mentan dalam keterangan tertulisnya.
Produksi Beras Indonesia Surplus 3,56 Juta Ton
Upaya memperkuat produksi domestik tercermin dari data capaian produksi beras Indonesia. Data dalam bahan Kementan yang bersumber dari BPS, Kementan, Kementerian Perdagangan, dan SINAS-NK Kemenko Perekonomian, kemudian diolah Badan Pangan Nasional serta diperbarui 3 September 2026.
Data tersebut mencatat produksi beras mencapai 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan beras tercatat 31,21 juta ton. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 3,56 juta ton.
Kementerian Pertanian juga mencatat ketersediaan beras nasional yang relatif kuat. Per September 2026, estimasi total stok beras mencapai 26,91 juta ton. Jumlah itu disebut cukup untuk memenuhi konsumsi nasional selama sekitar 10,35 bulan atau 310 hari, hingga Juni 2027.
Sementara itu, produksi beras pada Januari-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 31,41 juta ton.
Stok Beras Bulog dan Penguatan Cadangan Nasional
Dari sisi cadangan pemerintah, stok beras Bulog pada 19 September 2026 tercatat 4,605 juta ton. Dalam paparan Kementerian Pertanian, angka tersebut disebut sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah.
Sebelumnya, stok tertinggi tercatat pada 19 Mei 2026 sebesar 5,37 juta ton. Sebagian stok itu telah disalurkan untuk bantuan pangan serta program beras SPHP.
Amran mengatakan capaian produksi dan ketersediaan beras tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional. “Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah perkembangan produksi beras dunia dan kawasan ASEAN. Proyeksi FAO serta USDA memberikan gambaran mengenai kondisi produksi beras global dan regional, sementara peningkatan produksi domestik menjadi salah satu instrumen Indonesia dalam menjaga ketersediaan beras bagi masyarakat,” ujar Mentan Amran.
PM-AAS Dorong Produktivitas Pertanian
Amran menegaskan pemerintah akan terus mendorong peningkatan produksi melalui penguatan sektor pertanian. Upaya itu mencakup pengembangan lahan sawah dan penerapan teknologi pertanian modern.
Dalam bahan Kementan, sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) disebut sebagai sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi. Sistem tersebut menekankan efisiensi, mekanisasi, presisi, dan pendekatan berbasis korporasi.
Untuk komoditas padi, metode PM-AAS disebut memiliki potensi produktivitas lebih dari 10 ton per hektare. Kementan menempatkan proyeksi produksi beras global menurut FAO dan ramalan produksi negara-negara ASEAN menurut USDA sebagai konteks dalam kebijakan pangan Indonesia.
Melalui kebijakan tersebut, pemerintah tidak hanya memantau perkembangan pasokan beras dunia dan kawasan ASEAN, tetapi juga memperkuat produksi serta cadangan beras dalam negeri sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















