Headline.co.id, Merauke ~ DLH Kabupaten Merauke bersama WWF-Indonesia mendorong penguatan peran Sekolah Adiwiyata untuk mengurangi sampah makanan melalui edukasi dan kampanye di lingkungan sekolah. Upaya tersebut dilakukan dalam pembinaan Sekolah Adiwiyata selama dua hari, 14–15 September 2026, di SMP YPPK Yoanes 23 Merauke. Kegiatan ini digelar melalui kolaborasi WWF-Indonesia Program Papua dan DLH Kabupaten Merauke dalam Joint Work Plan. Edukasi tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menyambut Hari Kesadaran Internasional tentang Susut dan Sisa Pangan yang diperingati setiap 29 September.
Kepala Bidang Perencanaan Lingkungan Hidup dan Peningkatan Kapasitas DLH Kabupaten Merauke, Widodo Supriyanto, mengatakan Sekolah Adiwiyata memiliki peran penting dalam membentuk kepedulian siswa terhadap lingkungan, termasuk kebiasaan mencegah makanan terbuang.
Saat ini, sebanyak 19 sekolah tingkat SD dan lima sekolah tingkat SMA telah terdaftar sebagai Sekolah Adiwiyata di Kabupaten Merauke. Namun, berdasarkan pemantauan DLH, baru dua sekolah yang telah menerapkan program tersebut, yakni SD Inpres Polder dan SMP Negeri 2 Merauke.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pembinaan Sekolah Adiwiyata di Merauke
Widodo berharap kegiatan pembinaan dapat membantu sekolah menyusun perencanaan program Adiwiyata untuk empat tahun dan satu tahun. Sekolah juga diharapkan mengenalkan 24 kriteria Adiwiyata serta lima aspek utama kepada para siswa.
“Kami berharap setelah kegiatan ini sekolah dapat menyusun perencanaan empat tahun dan satu tahun untuk program Sekolah Adiwiyata. Selain itu, sekolah juga diharapkan dapat mengenalkan 24 kriteria Adiwiyata serta lima aspek Adiwiyata kepada siswa,” ujar Widodo.
Lima aspek tersebut mencakup kebersihan dan sanitasi sekolah, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, konservasi energi, serta konservasi air. Penerapan aspek-aspek itu dinilai penting untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini.
“Dengan demikian, guru dapat menanamkan kecintaan terhadap lingkungan kepada murid-murid sehingga mereka memiliki kepedulian dan kebiasaan untuk menjaga lingkungan,” katanya.
Widodo menyebut sekolah-sekolah lainnya baru terdaftar pada Mei 2026. Karena itu, SD Inpres Polder dan SMP Negeri 2 Merauke diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain dalam menerapkan program Adiwiyata.
Guru Berperan Membentuk Kebiasaan Siswa
Perwakilan guru Sekolah Adiwiyata SMPN 2 Merauke, Titik Budik Ningsih, mengatakan guru memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan siswa agar lebih bijak terhadap makanan. Menurutnya, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari.
“Ya memang betul bahwa guru punya peran yang cukup besar karena setiap hari kami berinteraksi dengan anak-anak. Jadi, bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh dan membiasakan mereka melakukan hal-hal sederhana. Apa yang mereka dapatkan di sekolah juga bisa mereka ceritakan kembali kepada orang tua dan keluarga di rumah,” jelas Titik.
Ia mengatakan, pemahaman siswa mengenai pentingnya mencegah makanan terbuang dapat menjadi langkah awal untuk mendorong perubahan perilaku. Perubahan itu diharapkan berlangsung tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga.
Peran guru dinilai semakin penting karena interaksi dengan siswa berlangsung setiap hari. Melalui contoh dan pembiasaan, pesan tentang pengurangan sampah makanan dapat diterapkan dalam aktivitas sederhana di sekolah dan diteruskan kepada orang tua serta keluarga di rumah.
WWF Tekankan Pengurangan Sampah dari Sumber
Staff Waste Management WWF-Indonesia Program Papua, Dony, mengatakan pengurangan sampah dari sumber merupakan bagian penting dalam pengelolaan sampah, termasuk sampah makanan.
Menurut Dony, makanan yang berhasil dicegah agar tidak terbuang sejak awal dapat mengurangi jumlah sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, langkah pencegahan perlu dikenalkan melalui edukasi di lingkungan sekolah.
“Dalam pengelolaan sampah, upaya mengurangi dari sumber tentu menjadi bagian yang penting. Sampah makanan yang berhasil dicegah sejak awal berarti mengurangi jumlah sampah yang nantinya harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, langkah sederhana untuk mencegah makanan terbuang perlu mendapat perhatian, termasuk di lingkungan sekolah, salah satunya melalui aksi edukasi,” ujar Dony.
Kolaborasi DLH Kabupaten Merauke dan WWF-Indonesia tersebut menempatkan Sekolah Adiwiyata sebagai ruang pembelajaran untuk membangun kepedulian lingkungan. Edukasi mengenai sampah makanan diarahkan untuk mendorong kebiasaan menjaga lingkungan sejak sekolah hingga keluarga.






