Highlight Berita:
Headline.co.id, Lampung Selatan ~ Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tidak hanya menghasilkan abu vulkanik, tetapi juga semburan merah menyala menyerupai lava fountain atau lava air mancur, disertai suara gemuruh dan laporan getaran dari sejumlah wilayah. Aktivitas tersebut berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 malam dan masih dilaporkan berlanjut pada akhir pekan, dengan status gunung tetap Level III atau Siaga. Fenomena itu membuat pencarian anak krakatau ada dimana kembali meningkat karena masyarakat ingin mengetahui lokasi gunung aktif tersebut dan seberapa jauh dampaknya dapat dirasakan. Badan Geologi dan PVMBG meminta warga tetap tenang, tidak memasuki radius 3 kilometer dari kawah aktif, serta hanya mengikuti informasi resmi.
Gunung Anak Krakatau berada di wilayah Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Lokasinya berada di kawasan yang berhadapan dengan pesisir Banten sehingga aktivitas vulkaniknya menjadi perhatian masyarakat di sekitar Selat Sunda, terlebih setelah suara dentuman dan getaran dilaporkan dari sejumlah daerah.
Semburan Merah Menyala Menyerupai Lava Fountain
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, tinggi kolom erupsi pada rangkaian aktivitas sebelumnya tidak teramati, tetapi warna merah menyala dari semburan erupsi terlihat jelas dan berlangsung terus-menerus.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai ‘lava fountain’ atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi,” kata Lana.
Lava fountain merupakan fenomena ketika lava menyembur dari lubang erupsi menyerupai air mancur dan dapat menghasilkan aliran lava. Dalam laporan aktivitas periode Sabtu pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, erupsi secara visual juga diinterpretasikan sebagai lava fountain yang terlihat pada malam hari.
Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya larangan mendekati kawah aktif ketika gunung erupsi karena material dapat terlontar dari pusat aktivitas.
Dentuman dan Getaran Dirasakan Warga
Aktivitas erupsi juga disertai laporan dentuman dan getaran. BPBD Banten menerima laporan getaran yang menyebabkan pintu dan jendela rumah warga bergerak. Getaran dilaporkan terjadi beberapa kali sejak Sabtu dini hari.
Seorang warga bernama Rizqi mengatakan dentuman dan getaran sudah dirasakan sejak dini hari. “Getaran jendela dan dentuman keras sesekali ini sudah kami rasakan sejak jam 2 dini hari tadi,” kata Rizqi.
Ia mengaku awalnya menduga getaran hanya dirasakan di rumahnya. Namun, “Sempat kami kira hanya terasa di rumah kami saja tapi tadi pagi ternyata tetangga-tetangga kami semuanya sama merasakan,” ujarnya.
Di kawasan laut, seorang pemancing yang berada dalam rombongan perjalanan di Selat Sunda juga menyaksikan semburan dari arah Anak Krakatau. Setelah dentuman terdengar, kru dan awak kapal memilih menjauh dari kawasan tersebut. Seluruh penumpang dan awak kapal dilaporkan selamat.
Mengapa Suara Erupsi Bisa Terdengar Jauh
Badan Geologi menduga suara dentuman dan getaran yang dilaporkan di Jawa Barat, Banten, dan Lampung berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan. Menurut Lana, pelepasan gas secara cepat serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi pada konduit dapat menghasilkan gelombang suara yang merambat melalui atmosfer.
“Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas,” kata Lana.
Namun, BMKG memiliki catatan kehati-hatian berbeda terhadap laporan dentuman di Bandung Raya. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menyatakan aktivitas vulkanik Anak Krakatau memang terdeteksi pada periode yang sama, tetapi sumber dentuman di Bandung belum dapat dipastikan.
“Ini memang belum terjawab,” kata Suaidi. BMKG menyebut fenomena tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Di sisi lain, PVMBG menyatakan erupsi Anak Krakatau tetap menjadi salah satu kemungkinan sumber berdasarkan pengalaman erupsi Anak Krakatau pada 2020 dan Gunung Kelud pada 2014 yang suaranya dapat terdengar hingga jarak jauh.
Evaluasi Pemerintah soal Potensi Tsunami
Dentuman dan aktivitas erupsi memunculkan kekhawatiran masyarakat pesisir terhadap tsunami. Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari peristiwa 22 Desember 2018 ketika aktivitas dan perubahan tubuh Anak Krakatau berkaitan dengan tsunami di sekitar Selat Sunda.
PVMBG menyatakan kondisi morfologi gunung saat ini berbeda. Berdasarkan evaluasi terkini, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ujar Lana.
Meski demikian, pemerintah menegaskan pemantauan aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi tetap dilakukan secara intensif. Masyarakat diminta tidak menyebarluaskan informasi mengenai potensi tsunami yang belum terverifikasi.
Radius 3 Kilometer Harus Dikosongkan
Status Gunung Anak Krakatau hari ini masih berada pada Level III atau Siaga. Pada tingkat aktivitas tersebut, ancaman yang perlu diwaspadai antara lain aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, serta hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Lana menegaskan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer. “Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi,” katanya.
BNPB juga meminta pemerintah daerah dan BPBD memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, sarana komunikasi, serta kebutuhan dasar masyarakat siap digunakan apabila terdapat perubahan aktivitas yang membutuhkan langkah lanjutan. Untuk saat ini, masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap beraktivitas dengan memperhatikan perkembangan informasi resmi dan mematuhi arahan petugas.
















