Highlight Berita:
Headline.co.id, Bogor ~ Cuaca hari ini di Bogor dan Depok diperkirakan cenderung cerah pada Minggu, 6 September 2026, di tengah meluasnya perhatian terhadap sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan prakiraan yang tercantum dalam bahan BMKG, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok mengalami kondisi berawan pada pagi hari kemudian cerah pada siang hingga malam. Kondisi minim hujan menjadi perhatian karena dalam bahan disebutkan cuaca kemarau dan tidak adanya hujan dapat membuat abu vulkanik bertahan di udara dan terbawa angin lebih jauh dari sumber erupsi. Karena itu, perkembangan Cuaca BMKG menjadi salah satu informasi yang penting dipantau masyarakat di Jawa bagian barat.
Erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebabkan abu vulkanik teridentifikasi di sejumlah wilayah. Dalam bahan disebutkan Serang, Tangerang, Jakarta Selatan, Bekasi, hingga Karawang terdampak abu vulkanik pada Minggu. BMKG melalui analisis citra satelit pukul 08.00 WIB juga mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyampaikan pembaruan SIGMET menunjukkan pergerakan abu pada dua lapisan ketinggian yang berbeda. “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Cuaca Depok Diperkirakan Cerah hingga Malam
Untuk Kota Depok, cuaca pada pagi hari diperkirakan berawan. Memasuki siang hingga malam, kondisi diprakirakan cerah. Suhu udara tertinggi dalam bahan diperkirakan mencapai 35 derajat Celsius sekitar pukul 13.00 WIB.
Kecepatan angin di Depok juga tercatat dapat mencapai 20,8 kilometer per jam dengan arah menuju barat laut. Kecepatan angin kemudian diperkirakan berkurang pada pukul 17.00 WIB menjadi sekitar 5,4 kilometer per jam.
Arah dan kecepatan angin menjadi relevan dalam kondisi erupsi karena BMKG juga memantau pergerakan abu vulkanik di atmosfer. Pada ketinggian hingga 20.000 kaki, abu dilaporkan bergerak ke timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan sekitarnya.
Meski prakiraan Kota Depok menunjukkan cuaca cerah, masyarakat tetap perlu memperhatikan pembaruan resmi karena kondisi atmosfer dan distribusi abu dapat berubah mengikuti dinamika erupsi dan arah angin.
Bogor Cerah dengan Suhu Maksimum 32 hingga 35 Derajat Celsius
Kondisi serupa diperkirakan terjadi di Kabupaten Bogor. Cuaca pada pagi hari diprakirakan berawan, kemudian cerah pada siang dan malam. Suhu udara tertinggi mencapai sekitar 35 derajat Celsius pada pukul 14.00 WIB dengan kecepatan angin 12,3 kilometer per jam.
Sementara itu, Kota Bogor juga diperkirakan berawan pada pagi hari dan cerah pada siang hingga malam. Suhu tertinggi diperkirakan mencapai 32 derajat Celsius sekitar pukul 14.00 WIB. Kecepatan angin tercatat sekitar 10,2 kilometer per jam menuju selatan.
Prakiraan tersebut menunjukkan belum adanya hujan dalam periode utama aktivitas masyarakat pada siang hari. Dalam bahan disebutkan, semakin tidak ada hujan maka abu vulkanik dapat terbawa semakin jauh. Hal ini menjadi salah satu alasan pemerintah menyiapkan langkah untuk mengurangi partikel abu yang telah mengganggu sejumlah wilayah.
BNPB Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menyatakan pemerintah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC untuk menangani penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Untuk supaya kondisinya lebih kondusif, terutama di DKI Jakarta, tentu saja rekan-rekan media juga merasa ya saat ini sudah banyak abu vulkanik di sekitar permukiman kita, hari ini juga kita melaksanakan operasi modifikasi cuaca,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Minggu.
BNPB menyiapkan satu unit pesawat di Bandara Pondok Cabe untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca hingga Minggu malam. Pemerintah menyiapkan dua skema berdasarkan kondisi atmosfer.
Jika terdapat awan yang memungkinkan, modifikasi cuaca diarahkan untuk memicu hujan. “Kalau nanti hujannya turun dengan cukup deras, tentu saja abu vulkanik yang dari mulai kemarin sampai hari ini mengganggu kehidupan kita ini bisa segera luruh,” ujar Suharyanto.
Apabila tidak terdapat pertumbuhan awan hujan, operasi diarahkan menggunakan water mist atau kabut air. “Untuk DKI Jakarta, Banten, Lampung, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, kami dengan BMKG juga sepakat untuk menggunakan metode water mist yaitu untuk mengurai partikel abu yang berbahaya,” kata Suharyanto.
BMKG Pantau Arah Sebaran Abu Anak Krakatau
BMKG mengintensifkan pemantauan selama 24 jam penuh terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut Selat Sunda. Pemantauan dilakukan melalui pendekatan multi-instrumen dan dipadukan dengan analisis PVMBG-Badan Geologi.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan laporan Situs Magma Kementerian ESDM, erupsi menerus tercatat berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga laporan pada Minggu pukul 00.31 WIB dibuat. Dalam periode pengamatan sebelumnya, cuaca di lokasi gunung berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang menuju utara dan barat laut.
Masyarakat di Bogor, Depok, Jakarta, Banten, Lampung, dan wilayah lain yang berpotensi terdampak diminta tidak hanya berpatokan pada kondisi langit yang terlihat cerah, tetapi juga mengikuti pembaruan resmi mengenai sebaran abu. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada, tidak panik, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Untuk mengetahui perkembangan cuaca hari ini maupun dinamika erupsi, masyarakat dapat merujuk informasi resmi BMKG, Badan Geologi atau PVMBG, dan pemerintah daerah berwenang. Pengunjung dan wisatawan juga diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.





















