Headline.co.id, Jakarta ~ (Kemenag) — Dalam menghadapi tantangan era digital, Humas Kementerian Agama diharapkan mampu beradaptasi dengan penggunaan Artificial Intelligence (AI) sambil tetap memegang teguh etika dan tanggung jawab. Pesan ini disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik, Ismail Cawidu, dalam webinar Penguatan Tata Kelola Kehumasan yang diadakan oleh Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama. Acara ini diikuti oleh seribu peserta dari berbagai Kanwil Kemenag dan Kemenag Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Ismail menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak dalam tugas kehumasan. Meskipun AI dapat mempercepat pekerjaan, keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia. “Bagaimana kita bekerja di tengah serangan AI yang begitu dahsyat, ada 10 poin yang ingin saya sampaikan agar kita dapat menggunakan AI, tanpa kehilangan makna sebagai seorang Humas,” ujarnya pada Rabu (19/8/2026).
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah kemampuan Humas untuk mendeteksi dan menangkal penyebaran informasi palsu. Di tengah maraknya konten AI di media sosial, Humas harus mampu mengenali produk AI dan segera mengambil tindakan jika ada informasi yang tidak sesuai atau hoaks terkait kebijakan Kementerian Agama. “Begitu muncul hal yang terkait dengan kebijakan Kementerian Agama yang tidak sesuai atau hoaks, segera lakukan langkah-langkah dan tindakan, gunakan intuisi, lalu berkoordinasilah dengan pimpinan,” tegas Ismail.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lebih lanjut, Ismail menekankan bahwa peran Humas harus beralih dari sekadar pusat informasi menjadi pusat kepercayaan. Kepercayaan publik terhadap berita dari Kemenag harus diukur dengan seberapa besar mereka mempercayai informasi yang disampaikan. Ia mengingatkan agar Humas tidak membuat berita tanpa dasar data yang valid, karena kesalahan sekecil apa pun dapat menjadi bumerang. “Seorang Humas tidak hanya membuat konten, tetapi juga harus mampu membangun narasi,” tambahnya.
Ismail juga menyoroti pentingnya komunikasi berbasis data yang valid. Humas Kemenag harus memastikan validitas data sebelum dinarasikan, dan jika data diperoleh dari AI, perlu dilakukan verifikasi dengan membandingkan antar-sumber data. Selain itu, ia mengingatkan agar Humas tidak kehilangan jati diri dan tetap menjadi pemimpin dalam penggunaan AI. “Jangan menyerahkan seluruh pekerjaan kita kepada AI. Kita harus tetap menjadi punggawa dan lead dari AI yang ada sekarang,” pungkasnya.
Di akhir materinya, Ismail berharap agar Humas tetap semangat meskipun dalam kondisi anggaran yang terbatas. Webinar ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan semangat para insan humas di lingkungan Kementerian Agama.

















