Highlight Berita BMKG Ungkap Penyebab Hujan Masih Sering Turun Saat Musim Kemarau, Ini Penjelasannya:
Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap alasan mengapa hujan masih sering terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meski musim kemarau mulai meluas. Dalam prediksi cuaca sepekan periode 30 Juni hingga 6 Juli 2026, BMKG menjelaskan bahwa berbagai fenomena atmosfer masih aktif sehingga mendukung terbentuknya awan hujan di berbagai daerah. Kondisi tersebut menjadi penjelasan mengapa prakiraan cuaca hari ini maupun prediksi cuaca besok di beberapa wilayah masih menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat.
Melalui informasi resmi yang diterima Headline.co.id, BMKG menyebut sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) diperkirakan memasuki puncak musim kemarau sepanjang Juli 2026. Namun, kondisi atmosfer yang dinamis menyebabkan hujan tetap berpotensi turun, terutama di wilayah Indonesia bagian utara, kawasan ekuator, serta sejumlah daerah di Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap musim kemarau identik dengan cuaca cerah setiap hari. Sebaliknya, masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan informasi cuaca karena perubahan kondisi atmosfer dapat memicu hujan sewaktu-waktu.
Musim Kemarau Tidak Menghilangkan Potensi Hujan
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau yang mulai meluas hanya ditandai dengan menurunnya curah hujan secara umum di berbagai wilayah Indonesia.
Pada dasarian pertama Juli, curah hujan kategori rendah diperkirakan mendominasi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Banten hingga Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian besar Papua.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya.
“Meski musim kemarau semakin meluas, peluang hujan masih tetap ada di sejumlah wilayah,” tulis BMKG dalam informasi prakiraan cuaca periode 30 Juni–6 Juli 2026.
BMKG Beberkan Faktor Penyebab Hujan Masih Terjadi
BMKG menjelaskan terdapat sejumlah fenomena atmosfer yang masih aktif sehingga mendukung pembentukan awan hujan di Indonesia.
Faktor pertama adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diperkirakan masih memengaruhi wilayah Samudra Hindia barat Sumatera, Maluku, Papua, dan Laut Arafuru.
Selain itu, Gelombang Rossby Ekuator diperkirakan aktif di Samudra Hindia barat Sumatera, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, dan Samudra Pasifik utara Maluku.
BMKG juga mencatat Gelombang Kelvin masih signifikan di wilayah Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Barat.
Tidak hanya itu, keberadaan sirkulasi siklonik di perairan barat Sumatera Barat, Selat Makassar, dan Samudra Pasifik utara Papua turut membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Kondisi atmosfer lokal di beberapa wilayah juga masih menunjukkan tingkat labilitas yang mendukung proses konveksi. Dengan kombinasi berbagai faktor tersebut, hujan masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari mendatang, meskipun secara umum sebagian wilayah telah memasuki periode musim kemarau,” jelas BMKG.
Bibit Siklon dan Gelombang Atmosfer Ikut Berpengaruh
Dalam pemantauan sebelumnya, BMKG juga mencatat adanya Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatera serta aktivitas MJO yang aktif secara spasial di Sumatera dan Papua.
Selain itu, keberadaan bibit Siklon Tropis 96W di Samudra Pasifik dan sirkulasi siklonik di wilayah Papua ikut membentuk daerah konvergensi maupun belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena-fenomena atmosfer tersebut menjadi salah satu penyebab masih tingginya peluang hujan meskipun sebagian besar wilayah mulai memasuki musim kemarau.
BMKG Minta Masyarakat Tetap Waspada
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap mencermati perkembangan cuaca selama sepekan ke depan karena kondisi atmosfer masih berubah secara dinamis.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap mencermati perkembangan cuaca dalam sepekan ke depan, mengingat kondisi atmosfer di Indonesia yang dinamis,” tulis BMKG.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah yang telah memasuki musim kemarau, BMKG meminta agar mengantisipasi cuaca yang cenderung lebih cerah dan panas dengan menjaga kecukupan cairan tubuh serta menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, masyarakat di daerah yang masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir, genangan, tanah longsor, pohon tumbang, gangguan perjalanan, hingga berkurangnya jarak pandang.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan informasi cuaca ekstrem melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial resmi BMKG, sehingga dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini terhadap potensi dampak cuaca.























