Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menekankan pentingnya perubahan strategi dalam menangani ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Pendekatan yang selama ini bersifat reaktif saat wabah meningkat harus diubah menjadi strategi yang lebih preventif, prediktif, dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan untuk mencapai target Indonesia Nol Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030.
Pernyataan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dalam acara Temu Media ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 yang diadakan secara daring di Jakarta pada Senin (15/6/2026). Andi menegaskan bahwa perubahan strategi ini sangat mendesak mengingat data tahun 2025 menunjukkan adanya sekitar 161 ribu kasus dengue di Indonesia dengan lebih dari 600 kematian.
Andi menjelaskan bahwa fluktuasi angka kasus dengue setiap tahunnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim, kondisi lingkungan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta kesiapan sistem kesehatan di berbagai daerah. “Kita harus mengantisipasi dan beradaptasi dengan dinamika lingkungan yang kompleks ini,” ujar Andi.
Dalam kesempatan tersebut, Kemenkes juga menyoroti peran penting media massa sebagai jembatan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat. Media diharapkan dapat mengedukasi masyarakat mengenai deteksi dini, terutama dalam mengenali pola demam dan tanda bahaya dengue sebelum terlambat. Selain itu, masyarakat diimbau untuk aktif dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus: Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah penyimpanan air, Memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta melakukan tindakan pencegahan tambahan untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
Andi menekankan bahwa target Indonesia Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030 tidak mungkin tercapai jika hanya mengandalkan Kemenkes atau sektor kesehatan saja. Diperlukan komitmen dan kolaborasi lintas sektor yang nyata untuk mencapai tujuan tersebut. “Kolaborasi lintas sektor adalah kunci keberhasilan kita,” pungkas Andi.



















