Headline.co.id, Jakarta ~ Ambisi Alex Pereira untuk mencetak sejarah sebagai juara UFC di tiga divisi berbeda harus tertunda setelah petarung asal Brasil itu tumbang di tangan Ciryl Gane pada UFC Freedom 250 di South Lawn, White House, Washington DC, Minggu (14/6/2026) waktu setempat. Dalam duel perebutan sabuk interim kelas berat tersebut, Alex Pereira kalah melalui technical knockout (TKO) pada ronde kedua setelah mendapat tekanan bertubi-tubi dari Gane.
Sebelum laga berlangsung, Alex Pereira menjadi sorotan besar karena menjalani debutnya di kelas berat dengan target meraih gelar juara ketiga setelah sebelumnya sukses di kelas menengah dan kelas berat ringan. Banyak kalangan MMA menilai kemenangan atas Gane akan menjadi pencapaian bersejarah yang belum pernah dilakukan petarung UFC mana pun.
Namun, Ciryl Gane mampu membungkam ekspektasi tersebut. Petarung asal Prancis itu tampil disiplin dengan memanfaatkan kecepatan tangan, akurasi jab, serta tekanan agresif yang akhirnya memaksa wasit Herb Dean menghentikan pertandingan pada ronde kedua.
Ciryl Gane Redam Ambisi Alex Pereira
Laga pendukung utama UFC Freedom 250 itu berlangsung sengit sejak awal. Pereira langsung menunjukkan ancaman melalui tendangan tinggi dan calf kick khasnya.
Meski demikian, Gane tampil lebih efektif dengan mengandalkan jab untuk mengontrol jarak. Petarung berjuluk “Bon Gamin” itu juga beberapa kali memberikan ancaman takedown yang membuat Pereira harus lebih berhati-hati.
Menjelang akhir ronde pertama, Gane dinilai lebih unggul setelah beberapa kali mendaratkan kombinasi pukulan bersih.
Memasuki ronde kedua, momentum berubah drastis.
Gane menghantam Pereira dengan pukulan kanan keras yang membuat mantan juara dua divisi itu goyah. Meski sempat bertahan, Pereira terus dihujani pukulan hingga akhirnya wasit Herb Dean menghentikan pertarungan.
Berdasarkan hasil resmi UFC, Ciryl Gane dinyatakan menang melalui TKO pada ronde kedua dengan waktu 1 menit 27 detik.
Official result: Ciryl Gane def. Alex Pereira via second-round TKO (1:27).
Usai laga, Gane langsung menyatakan keinginannya untuk menghadapi Tom Aspinall.
“Let’s do it in Paris in September,” ujar Ciryl Gane setelah pertarungan.
Perdebatan Taktik Alex Pereira Sebelum Pertarungan
Sebelum duel berlangsung, sejumlah mantan juara UFC berbeda pendapat mengenai strategi terbaik yang seharusnya diterapkan Pereira.
Mantan juara kelas berat UFC, Junior dos Santos, meyakini gaya menyerang Pereira akan menyulitkan Gane.
“I think [Pereira’s] style will complicate [Gane],” kata Junior dos Santos.
Menurutnya, kemampuan Pereira dalam memotong sudut pergerakan lawan dapat menjadi senjata utama.
“Alex goes on the offensive mode all the time and always cutting angles, circling and gradually breaking down his opponents. Gane moves well backwards, but once ‘Poatan’ cuts angles very well, they must collide, and when it happens, ‘Poatan’ has the advantage of having one-punch knockout power,” ujar Dos Santos.
Ia bahkan percaya Pereira mampu mencetak sejarah.
“I believe he will win and make history by being the first athlete to be champion in three different divisions,” tambahnya.
Namun, pandangan berbeda datang dari Fabricio Werdum.
Fabricio Werdum Sarankan Alex Pereira Bermain di Matras
Mantan juara kelas berat UFC tersebut menilai Pereira seharusnya memanfaatkan perkembangan kemampuan grappling miliknya.
“They are both great strikers, if ‘Poatan’ decides to exchange punches it can be a chess match with Ciryl having more chances to surprise,” analisis Fabricio Werdum.
Werdum menilai kelemahan terbesar Gane berada pada pertarungan bawah.
“I saw ‘Poatan’ training on the ground with Glover [Teixeira] and he clearly evolved his ground skills, so in my opinion he should expose Ciryl like Ngannou and Jones did,” kata Werdum.
Ia menambahkan bahwa pertarungan akan lebih mudah bagi Pereira apabila mampu membawa Gane ke matras.
“‘Poatan’ can win standing up, but if he takes Gane to the ground, he will make it easier,” ujarnya.
Jon Anik: Status GOAT Alex Pereira Masih Terlalu Dini
Performa luar biasa Pereira dalam beberapa tahun terakhir juga memunculkan perdebatan mengenai statusnya dalam daftar petarung terbaik sepanjang masa atau GOAT.
Komentator UFC Jon Anik menilai pencapaian Pereira memang luar biasa, tetapi belum cukup untuk disejajarkan dengan Jon Jones.
“It’s interesting,” tutur Jon Anik.
Menurutnya, ukuran kehebatan seorang petarung harus mempertimbangkan jumlah pertahanan gelar.
“I feel like greatness should be judged on championship title defenses,” sebut Anik.
Ia membandingkan catatan Pereira dengan Jon Jones.
“If they hung a banner in Albuquerque, N.M. every time Jon Jones defended the title, they’d have 15 banners hanging up,” kata Anik.
Meski demikian, Anik tetap mengakui besarnya pencapaian yang sedang diburu Pereira.
“My gosh, Mount Rushmore is getting awfully crowded,” ucapnya.
Anik menambahkan bahwa Pereira sedang mengejar sesuatu yang belum pernah dicapai petarung lain.
“‘Poatan’ is certainly chasing rarefied air that no one has breathed before, and we’ll see if he can check that box,” lanjutnya.
Israel Adesanya Tetap Apresiasi Perjalanan Alex Pereira
Dukungan terhadap Pereira juga datang dari mantan rivalnya, Israel Adesanya.
Menurut Adesanya, langkah Pereira naik ke kelas berat merupakan penyegaran yang dibutuhkan divisi tersebut.
“This is what the division needed. (Jon) Jones is in or out; we don’t know,” ujar Adesanya.
Ia memuji perjalanan karier Pereira sejak beralih dari kickboxing hingga menjadi salah satu bintang terbesar UFC.
“Aspinall is still recovering from the last fight with Gane, so now they need something fresh, a guy like Alex who’s come to the UFC, smoked dudes to fight me, and then beat me, and then from there becoming the light heavyweight champion,” katanya.
Adesanya mengajak publik menghargai pencapaian Pereira, terlepas dari hasil yang diraih di White House.
“Whether you love him or hate him, you have to really appreciate the magnitude of where this guy is taking it to now. This is crazy,” ujar Adesanya.
Jalan Alex Pereira Menuju Sejarah Masih Terbuka
Kekalahan dari Ciryl Gane memang menghentikan langkah Alex Pereira untuk sementara dalam upayanya menjadi juara UFC di tiga kelas berbeda. Namun, perjalanan petarung berjuluk “Poatan” itu tetap menjadi salah satu kisah paling fenomenal dalam sejarah UFC modern.
Sementara itu, kemenangan ini mengantarkan Ciryl Gane kembali menjadi juara interim kelas berat UFC dan membuka peluang duel ulang melawan Tom Aspinall dalam perebutan sabuk juara utama. Dengan performa impresif di UFC Freedom 250, Gane berhasil membuktikan bahwa dirinya masih menjadi salah satu kekuatan paling berbahaya di divisi kelas berat.





















