Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia sedang mempercepat penyusunan peta jalan swasembada susu nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang saat ini masih mendominasi pasokan dalam negeri. Saat ini, produksi susu segar nasional hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan domestik, sementara 80 persen sisanya masih diimpor.
Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam peringatan Hari Susu Nusantara 2026, mengingat rendahnya produksi nasional sejalan dengan rendahnya konsumsi susu masyarakat Indonesia yang baru mencapai sekitar 16,8 liter per kapita per tahun. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan bahwa peningkatan produksi susu nasional menjadi agenda prioritas pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Produksi susu segar nasional kita baru mencukupi sekitar 20 persen kebutuhan. Ini tantangan besar yang harus diselesaikan bersama,” ujarnya dalam diskusi Hari Susu Nusantara 2026 di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Agung menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian telah menyiapkan tiga strategi utama untuk mempercepat peningkatan produksi susu nasional. Strategi pertama adalah meningkatkan produksi dan produktivitas susu segar melalui perbaikan genetik sapi perah, termasuk inseminasi buatan dan transfer embrio untuk menghasilkan ternak yang lebih adaptif terhadap iklim tropis Indonesia serta memiliki produktivitas susu lebih tinggi.
Langkah kedua adalah penguatan regulasi. Agung mengungkapkan bahwa rancangan Instruksi Presiden tentang Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional telah difinalisasi dan akan segera ditandatangani oleh Presiden. Regulasi ini akan menjadi dasar kebijakan baru dalam percepatan pengembangan sektor persusuan nasional. “Dengan Inpres ini, roadmap persusuan nasional akan disesuaikan agar percepatan produksi susu bisa berjalan lebih terarah,” katanya.
Strategi ketiga adalah penguatan hilirisasi melalui pengembangan industri pengolahan susu dan perluasan pasar, termasuk dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG dinilai berpotensi menjadi pasar jangka panjang yang sangat besar bagi industri susu nasional.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, menegaskan bahwa persoalan utama sektor persusuan masih berada di sisi hulu, terutama keterbatasan populasi sapi perah dan kapasitas peternak. Oleh karena itu, pemerintah mendorong peningkatan populasi sapi perah secara masif, pengembangan sentra susu di luar Pulau Jawa, serta penguatan koperasi modern dan kemitraan industri.
“Peternak tidak bisa berjalan sendiri, industri juga tidak bisa berjalan sendiri. Semua harus terintegrasi dari produksi sampai hilirisasi,” ujarnya.
Widiastuti menambahkan bahwa pemerintah juga tengah menyusun blueprint persusuan nasional yang mencakup investasi pada breeding, pakan, teknologi, digitalisasi, serta pembangunan peternakan terintegrasi.
Sementara itu, dari sisi industri, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Merrijanti Punguan Pintaria, menyatakan bahwa kebutuhan bahan baku susu industri nasional mencapai sekitar lima juta liter per tahun, namun baru sekitar satu juta liter yang dapat dipenuhi dari dalam negeri. Artinya, sekitar empat juta liter masih harus diimpor.
Ia menegaskan bahwa impor sebenarnya bukan pilihan ideal bagi industri, melainkan kebutuhan akibat terbatasnya pasokan susu lokal. “Jika pasokan dalam negeri mampu mencukupi, industri siap menyerap seluruh produksi susu lokal,” ujarnya.
Kementerian Perindustrian, lanjut Merrijanti, juga mendorong digitalisasi pengumpulan susu melalui modernisasi Tempat Penampungan Susu (TPS). Program ini telah diterapkan di 96 TPS yang mencakup sembilan koperasi dan melibatkan sekitar 12 ribu peternak.
Selain itu, pemerintah menyiapkan insentif restrukturisasi industri melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 40 Tahun 2024, berupa reimbursement hingga 35 persen untuk investasi pengemasan dan fasilitas produksi.
Dari sisi peternak, Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, menyatakan optimisme bahwa produksi susu nasional dapat meningkat signifikan jika ekosistem hulu–hilir berjalan selaras. Saat ini, GKSI menaungi 63 koperasi, sekitar 57 ribu peternak, dengan populasi 235 ribu sapi perah yang menghasilkan sekitar 1,3–1,4 juta liter susu per hari.
Dedi menilai program MBG berpotensi menjadi game changer bagi industri susu nasional. Menurut perhitungannya, jika susu menjadi komponen wajib dalam menu MBG, konsumsi susu nasional dapat melonjak hampir dua kali lipat. “Kalau program ini berjalan optimal, konsumsi susu nasional bisa naik dari 16,8 liter menjadi sekitar 33 liter per kapita per tahun. Ini lompatan besar,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya perbaikan genetika ternak, pencegahan inbreeding, dan penguatan ketersediaan pakan untuk meningkatkan produktivitas sapi perah. Melalui kolaborasi pemerintah, industri, koperasi, dan peternak, Indonesia diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor persusuan nasional. Target akhirnya bukan hanya meningkatkan produksi susu, tetapi juga memastikan generasi mendatang tumbuh lebih sehat, kuat, dan kompetitif menuju Indonesia Emas 2045.





















