Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pertanian (Kementan) sedang mengembangkan konsep Dapur Susu Indonesia (Dasi) untuk memperkuat pasokan susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Konsep ini melibatkan unit pengolahan susu skala kecil yang terintegrasi dengan dapur MBG di berbagai daerah. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menyatakan bahwa konsep ini juga bertujuan untuk meningkatkan penyerapan susu segar dari peternak lokal dan memperluas pengembangan sapi perah di seluruh Indonesia.
Makmun menjelaskan bahwa Dapur Susu Indonesia dirancang untuk menghubungkan unit pengolahan susu dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar. Dengan demikian, penyerapan susu dari peternak dapat lebih terjamin. Sebagai contoh, peternakan dengan kapasitas 100 hingga 200 ekor sapi perah dapat didukung oleh unit pengolahan susu skala kecil yang hasil produksinya langsung disalurkan ke SPPG di sekitarnya.
Menurut Makmun, pola ini dapat membuka pasar baru bagi peternak dan memperluas industri pengolahan susu di luar Pulau Jawa. “Kami sudah buat prototipe-nya dengan modal mungkin di bawah Rp5 miliar itu sudah bisa membuat satu unit dapur susu yang kemudian bisa menyuplai sekitar lima sampai 10 SPPG di sekitarnya,” jelasnya.
Makmun menambahkan bahwa pengembangan sapi perah selama ini masih terpusat di Pulau Jawa. Oleh karena itu, wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Indonesia Timur memiliki peluang untuk pengembangan peternakan sapi perah. Teknologi saat ini memungkinkan peternakan dikembangkan di dataran rendah, seperti yang sudah dilakukan di Subang dan Brebes.
Program MBG dianggap sebagai peluang besar bagi pengembangan peternakan sapi perah nasional karena susu menjadi salah satu menu dalam program tersebut. Penyerapan susu melalui program MBG dapat menjadi pasar bagi peternak dan mendorong pengembangan pengolahan susu di daerah. “Kalau di negara-negara lain (rata-rata) produksinya ada di atas 30 liter per hari, kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per hari itu meningkat menjadi di atas 20 liter per hari, mudah-mudahan bisa (mencapai) 25 liter per hari,” kata Makmun.
Kementan mencatat bahwa populasi sapi perah nasional saat ini sekitar 540.657 ekor, dengan lebih dari 90 persen berada di peternakan rakyat. Produksi susu dalam negeri saat ini baru memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan nasional, sementara sisanya masih dipenuhi dari impor. Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas pakan, kesehatan hewan, serta penambahan populasi sapi perah guna mengurangi ketergantungan impor susu secara bertahap. Pemerintah bersama pelaku usaha juga telah mengimpor hampir 15 ribu ekor sapi bunting sepanjang tahun lalu untuk mendukung peningkatan populasi.























