Headline.co.id, Lumajang ~ Di tengah perkembangan kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, filosofi karawitan Jawa dianggap tetap relevan sebagai pengingat pentingnya harmoni, kesabaran, dan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai tersebut menjadi inti dari kegiatan ngangsu kaweruh seni karawitan yang diselenggarakan oleh Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Lumajang di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu (21/5/2026).
Sebanyak 26 pengrawit dari tim karawitan PWRI Lumajang berpartisipasi dalam kegiatan ini untuk memperdalam wawasan seni budaya serta memahami filosofi luhur dalam tradisi karawitan Jawa. Rombongan diterima oleh Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Riyo Susilo Madyo, di Pendopo Pangurakan dalam suasana penuh tata krama dan nuansa budaya khas keraton.
Dalam pemaparannya, Riyo menjelaskan bahwa karawitan bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari pendidikan nilai kehidupan yang mengajarkan keseimbangan batin, kesabaran, dan kemampuan menjaga harmoni sosial. Menurutnya, istilah karawitan berasal dari kata “rawit” yang berarti rumit atau tidak sederhana, menggambarkan dinamika kehidupan manusia yang penuh persoalan dan perbedaan.
“Melalui karawitan, manusia diajarkan untuk menghadapi kerumitan hidup dengan olah rasa. Kehidupan tidak hanya bergantung pada mata dan telinga, tetapi juga menyentuh hati sanubari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa setiap instrumen gamelan memiliki bunyi dan peran berbeda, tetapi semuanya harus berjalan selaras agar menghasilkan harmoni yang indah.
Dari filosofi tersebut, manusia diajarkan pentingnya saling mendengar, menghargai peran satu sama lain, serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan bersama. “Karawitan mengajarkan bahwa tidak ada bunyi yang berjalan sendiri. Semua harus saling mendukung agar melahirkan harmoni,” ungkapnya.
Menurut Riyo, nilai-nilai ini semakin penting di tengah perkembangan zaman modern yang sering membuat kehidupan sosial berjalan cepat, kompetitif, dan minim ruang kebersamaan. Oleh karena itu, seni tradisional seperti karawitan tidak hanya berfungsi menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter dan penguatan nilai sosial masyarakat.
Sementara itu, Ketua PWRI Lumajang, Endang Istijowati, menyatakan bahwa kegiatan ngangsu kaweruh menjadi ruang pembelajaran penting bagi para pengrawit untuk memperdalam filosofi budaya Jawa secara langsung dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Menurut Endang, belajar karawitan tidak cukup hanya memahami teknik musikal, tetapi juga perlu memahami nilai kehidupan yang terkandung dalam setiap irama dan harmoni gamelan.
“Harapan kami, setelah belajar langsung di lingkungan Keraton Yogyakarta, kemampuan dan kualitas penampilan para pengrawit PWRI Kabupaten Lumajang akan semakin baik,” ujarnya. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya Jawa di tengah arus modernisasi dan budaya digital yang terus berkembang.
PWRI Lumajang menilai pelestarian budaya harus dimaknai sebagai upaya menjaga identitas, nilai kebersamaan, dan filosofi hidup masyarakat agar tidak hilang di tengah perubahan zaman. Melalui kegiatan tersebut, PWRI Lumajang berharap seni karawitan tetap hidup bukan hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga sebagai sumber pendidikan nilai yang relevan untuk memperkuat harmoni sosial masyarakat modern.




















