Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kg akan tetap stabil meskipun terjadi penyesuaian harga pada LPG nonsubsidi. Pernyataan ini disampaikan Bahlil sebagai respons terhadap dinamika harga energi global dan untuk memastikan ketersediaan stok nasional tetap di atas standar minimum.
Bahlil menyatakan, “Kami berkomitmen untuk menjaga daya beli masyarakat dengan menahan harga LPG 3 kg, sama seperti kebijakan pada bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Biosolar.” Ia menambahkan bahwa sejak program konversi LPG dimulai pada 2007, pemerintah konsisten tidak menaikkan harga komoditas bersubsidi tersebut.
Namun demikian, Bahlil mengakui adanya fluktuasi harga di lapangan yang disebabkan oleh oknum distribusi. “Kami tidak menutup mata terhadap fluktuasi harga di lapangan akibat ulah oknum distribusi,” tegasnya. Untuk mengatasi masalah distribusi, Bahlil juga mengevaluasi kebijakan penghapusan pengecer pada Februari 2025 yang sempat memicu antrean panjang.
Sebagai solusi, pemerintah mendorong para pengecer untuk mendaftarkan diri secara resmi sebagai subpangkalan. Langkah ini diambil untuk memitigasi lonjakan harga di tingkat retail dan memastikan distribusi tepat sasaran kepada masyarakat miskin. Sementara itu, harga LPG nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan per 18 April 2026.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG 12 kg sebesar 18,75 persen menjadi Rp228.000 per tabung. Sedangkan varian 5,5 kg naik 18,89 persen menjadi Rp107.000 per tabung untuk wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Bahlil menjelaskan bahwa penyesuaian harga nonsubsidi bersifat fleksibel mengikuti mekanisme pasar internasional, khususnya merujuk pada harga Saudi Aramco. “Kan ada formulasinya. Jadi, kalau harga dunia turun, dia pasti turun juga. Kalau harga dunia naik, naik,” pungkasnya.




















