Headline.co.id, Serangan Yang Dilakukan Oleh Amerika Serikat Dan Israel Terhadap Iran Telah Menimbulkan Berbagai Dampak ~ salah satunya adalah gangguan pada pasokan pupuk berbasis nitrogen. Negara-negara di kawasan Teluk dikenal sebagai produsen utama pupuk jenis ini, dan serangan tersebut mengganggu distribusinya. Hal ini berpotensi menimbulkan krisis keamanan pangan secara global.
Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D, seorang Guru Besar dari Fakultas Pertanian UGM, menyatakan bahwa perang di Timur Tengah berdampak pada sektor pangan, terutama dalam hal kelangkaan pupuk berbasis nitrogen yang digunakan untuk produksi pupuk kimia. Menurutnya, kelangkaan ini sebenarnya dapat diatasi karena tidak semua bahan pupuk harus diimpor. “Kalau misalnya pupuk organik, kemudian pupuk hayati kan sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor,” jelasnya pada Senin (30/3).
Subejo menambahkan bahwa jika konflik ini berlangsung lama dan kapal-kapal pengangkut bahan baku tidak dapat masuk ke Indonesia, maka akan ada risiko besar. Namun, situasi ini juga bisa menjadi peluang untuk meningkatkan produksi pupuk dalam negeri. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dan kompos dari limbah organik dapat dioptimalkan. “Jadi di satu sisi, tetap ada risiko kekurangan pupuk kimia, tapi kita berkesempatan untuk mengganti ke pupuk organik. Kalau hal ini serius pemerintah dengan swasta, bersama masyarakat, ini adalah momentum untuk memanfaatkan sumber daya yang kita punya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Subejo menjelaskan bahwa jika kondisi ini tidak segera membaik, akan berdampak pada stok pupuk untuk musim tanam berikutnya. Menurutnya, pemerintah pasti memiliki stok pupuk untuk musim saat ini. “Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira yang berisiko, kalau ini misalnya distribusi bahan bakunya tidak lancar,” ungkapnya. Meskipun Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi pupuk organik, kebutuhan pupuk non-organik tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh pupuk organik. Subejo memperingatkan bahwa jika stok pupuk berkurang hingga 50%, akan ada risiko besar di masa depan.
Jika situasi ini terus berlanjut, Subejo menyarankan agar persiapan dilakukan dengan memproduksi pupuk organik. Selain itu, antisipasi perlu dilakukan di tingkat desa melalui kelompok tani atau BUMDES. Bantuan berupa mesin pengolah pupuk tidak harus besar, tetapi cukup untuk produksi di tingkat desa. “Ini diantisipasi mulai sekarang, karena 4 bulan tidak disiapkan dan tiba-tiba bahan bakunya betul-betul tidak bisa masuk, pasti nanti akan beresiko kebutuhan petani, sehingga petani tidak bisa memproduksi berbagai komoditas dengan baik,” jelas Subejo.
Sebagai penutup, Subejo menekankan langkah-langkah yang harus diambil pemerintah untuk mengatasi situasi ini. Menurutnya, pemerintah harus mengedukasi masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan mulai beralih ke pupuk organik. Strategi lainnya adalah memberikan bantuan mesin pengolah pupuk organik ke desa-desa. Langkah ini bisa menjadi momentum untuk mengajarkan pentingnya pupuk organik dengan mensosialisasikan dan menyiapkan infrastrukturnya sambil memantau perkembangannya. “Jika hal tidak disiapkan, nanti ketika misalnya betul-betul terjadi kelangkaan, harganya sangat mahal, kemudian tidak tersedia, pasti masyarakat akan kolaps. Tapi kalau strategi tersebut dilakukan, melalui penyuluhan, melalui pengadaan mesin, termasuk mungkin pelatihan, saya kira menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mulai disiapkan,” pungkasnya.




















