Headline.co.id, Jogja ~ Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia memiliki ciri khas yang membedakannya dari perayaan di negara-negara muslim lainnya. Di Indonesia, Idul Fitri identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga. Hal ini tidak terlepas dari budaya masyarakat Indonesia yang sangat menghargai nilai leluhur dan kekerabatan.
Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A., seorang dosen Antropologi Budaya di Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa esensi lebaran di Jawa berkaitan erat dengan Tradisi Nyadran atau ziarah kubur yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Beberapa masyarakat urban memaknai tradisi ini dengan melakukan ziarah dan sungkeman saat lebaran. Momen ini juga penting untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat. “Tradisi halal bihalal dan sungkeman menjadi bentuk kekerabatan dan penghormatan kepada yang lebih tua. Budaya setempat mempengaruhi tradisi perayaan lebaran di masing-masing daerah,” ujar Sita.
Menurut Sita, tren baju baru dan seragam keluarga saat Idul Fitri adalah persepsi sosial yang wajar. Fenomena ini didorong oleh peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dan dimaknai sebagai ekspresi kegembiraan serta persatuan untuk berkumpul bersama keluarga yang dilakukan setahun sekali.
Lebih lanjut, Sita menyatakan bahwa saat ini terdapat pergeseran nilai Lebaran yang paling menonjol, yaitu dalam hal konsumerisme. Dahulu, penggunaan baju baru saat lebaran merupakan hal yang sangat istimewa. Namun, kini beberapa masyarakat lebih menonjolkan aspek pamer dan tren semata. “Momen Idul Fitri seharusnya menjadi momen yang bermakna untuk mengingatkan kita tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah tetapi juga dengan orang-orang terdekat. Membangun kebersamaan dan solidaritas sosial yang lebih tinggi,” tuturnya.








