Headline.co.id, Jakarta ~ Mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) Sumatera Selatan berperan penting dalam pemulihan pascabencana di Sumatra dengan menghadirkan inovasi teknologi air bersih di Kampung Landuh, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Program ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Inovasi ini tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi juga menawarkan solusi berkelanjutan melalui teknologi tepat guna yang memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Dua unit instalasi pengolahan air bersih dipasang untuk mendukung kebutuhan Kelompok Tani Ladang Lestari Kampung Landuh. Setiap unit mampu memproduksi hingga 2.000 galon air per hari dengan memanfaatkan sistem adsorpsi dan teknologi membran ultrafiltrasi.
Air baku dari sungai dan sumur diolah melalui tabung adsorben yang berisi karbon aktif, manganese greensand, dan silika teraktivasi, sebelum disaring menggunakan membran berpori halus. Proses ini menghasilkan air yang layak konsumsi dan aman untuk kebutuhan rumah tangga serta pertanian. Dosen Pembimbing Tim Mahasiswa Berdampak Universitas Sriwijaya, David Bahrim, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang untuk mengatasi keterbatasan akses air bersih yang dialami warga pascabencana. “Pascabencana, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air layak konsumsi karena sumur tercemar dan kualitas air tidak memenuhi standar akibat pH serta TDS yang tinggi. Teknologi ini diharapkan dapat menyediakan akses air yang lebih layak dan meringankan beban masyarakat,” ujar David dalam keterangan tertulis yang diterima , Kamis (26/2/2026).
Koordinator Program Mahasiswa Berdampak Unsri, Dandi Dwi Wiradinata, menambahkan bahwa teknologi membran ultrafiltrasi mampu menyaring partikel tersuspensi, bakteri, virus, hingga koloid tanpa bahan kimia tambahan. Proses penyaringan dilakukan dengan tekanan pompa yang mendorong air melewati membran sintetis berbahan polimer, kemudian diperkuat dengan sterilisasi lampu ultraviolet untuk memastikan air aman dikonsumsi. “Saat teknologi mulai dioperasikan, masyarakat langsung mengantre mengambil air minum. Air yang dihasilkan sudah dapat dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Dandi.
Keunggulan sistem ini terletak pada proses operasional yang kontinyu, hemat energi, mudah dalam perawatan, serta berpotensi dikembangkan dalam skala lebih besar. Penggunaan material adsorben yang dapat diproduksi pelaku usaha kecil lokal juga membuka peluang ekonomi baru di desa. Teknologi serupa sebelumnya telah diterapkan di lebih dari 30 lokasi di Sumatra Selatan, mulai dari sekolah hingga industri kecil.
Warga Desa Landuh Rantau menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa Unsri yang tidak hanya menghadirkan teknologi air bersih, tetapi juga membantu pemulihan fasilitas umum pascabanjir. Mahasiswa turut membersihkan polindes yang sebelumnya tertutup lumpur hingga dapat difungsikan kembali, serta menanam tanaman obat keluarga sebagai bagian dari penguatan kesehatan masyarakat. “Kami sangat berterima kasih karena bantuan ini membuat masyarakat merasa diperhatikan dan sangat terbantu, terutama dengan adanya teknologi air bersih,” ujar salah seorang warga.
Sebelumnya, pada 19–21 Desember 2025, mahasiswa BEM Unsri juga terlibat dalam penanganan banjir di Pasaman Barat, Sumatra Barat, dengan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar serta membantu distribusi logistik bersama Tentara Nasional Indonesia agar tepat sasaran. Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa tidak hanya hadir membawa bantuan saat krisis, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui transfer pengetahuan dan keterampilan pengelolaan teknologi. Pendekatan ini diharapkan memperkuat ketahanan desa sekaligus memastikan masyarakat mampu mengelola akses air bersih secara berkelanjutan di masa depan.





















