Headline.co.id, Jakarta ~ Memasuki bulan suci Ramadan, umat Muslim di berbagai daerah mulai mengucapkan Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak sebagai bentuk sukacita menyambut bulan puasa. Istilah ini digunakan saat datangnya Ramadan untuk saling mendoakan dan menyemangati ibadah. Namun, apa arti Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak, siapa yang menganjurkannya, serta bagaimana pandangan ulama terhadap kedua ucapan tersebut? Penjelasan mengenai makna, dasar bahasa, dan dalil hadis menjadi penting agar umat Muslim memahami penggunaan istilah ini secara tepat dan bijak.
Ramadan merupakan momentum ibadah yang dinanti umat Islam setiap tahun. Selain meningkatkan amal, masyarakat juga menyemarakkan bulan suci dengan ucapan doa dan harapan kebaikan. Dua frasa yang paling sering terdengar adalah Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak. Meski terdengar serupa dan sama-sama bermakna baik, keduanya memiliki perbedaan makna secara bahasa dan penekanan teologis.
Pemahaman yang benar mengenai arti Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak penting agar ucapan yang disampaikan tetap sesuai dengan ajaran dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Berikut penjelasan lengkapnya.
Pengertian Ramadhan Kareem Secara Bahasa dan Makna
Secara bahasa, kata Karim berarti murah hati atau mulia. Dalam ajaran Islam, Al-Karim juga termasuk salah satu dari 99 Asmaul Husna, yang mencerminkan keagungan Allah SWT sebagai Zat Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Nikmat.
Secara etimologis, Ramadhan Kareem berarti “Ramadan yang bermurah hati.” Dalam terjemahan bebas, ucapan ini sering dimaknai sebagai “semoga Ramadan bermurah hati kepadamu.”
Namun, sejumlah kalangan menilai penggunaan istilah ini kurang tepat jika dipahami secara literal. Sebab, Ramadan sebagai bulan tidak memiliki sifat memberi atau bermurah hati. Yang memberikan pahala, ampunan, dan kebaikan adalah Allah SWT melalui momentum bulan Ramadan.
Segala bentuk kebaikan, pahala yang dilipatgandakan, serta limpahan rahmat bukan berasal dari bulan itu sendiri, melainkan dari Allah SWT yang menjadikan Ramadan sebagai waktu istimewa. Karena itu, sebagian ulama berpendapat bahwa sifat “Karim” lebih tepat disematkan kepada Allah, bukan kepada bulan Ramadan.
Meski demikian, tidak sedikit pula yang memahami Ramadhan Kareem sebagai ungkapan simbolik yang mencerminkan besarnya berkah dan kemurahan Allah SWT selama bulan suci. Dalam konteks sosial, ucapan ini tetap dimaknai sebagai doa dan harapan kebaikan.
Arti Ramadhan Mubarak dan Dasar Dalilnya
Berbeda dengan Ramadhan Kareem, frasa Ramadhan Mubarak dinilai lebih tepat secara makna dan penggunaan. Secara bahasa, Mubarak berarti diberkahi. Dengan demikian, Ramadhan Mubarak berarti “Ramadan yang diberkahi” atau “Ramadan yang penuh keberkahan.”
Pandangan ini diperkuat oleh salah satu cendekiawan Muslim, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Ia menjelaskan secara tegas:
“Hukumnya adalah bahwa kalimat ini ‘Ramadan Karim’ (terjemahnya: Ramadan itu pemurah) adalah tidak benar. Yang benar adalah ‘Ramadan Mubarak’ (Ramadan yang diberkahi) atau yang semisal, karena bukan Ramadan yang memberi sehingga disebut pemurah, akan tetapi Allah Ta’ala yang memberikan keutamaan ini.”
Penegasan tersebut menunjukkan bahwa secara teologis, keberkahan Ramadan berasal dari Allah SWT, sehingga penyebutan “Mubarak” lebih sesuai dengan prinsip akidah.
Selain pendapat ulama, penggunaan istilah Mubarak juga memiliki dasar hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW bersabda:
“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan mubarak (bulan yang diberkahi). Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad).
Hadis ini secara eksplisit menyebut Ramadan sebagai bulan mubarak, atau bulan yang diberkahi. Hal tersebut menjadi dasar kuat bahwa penggunaan Ramadhan Mubarak memiliki landasan syariat yang jelas.
Mengapa Perbedaan Ini Perlu Dipahami?
Perbedaan arti Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak bukan sekadar persoalan istilah, tetapi menyangkut pemahaman makna dan akidah. Dalam Islam, ketepatan penggunaan kata memiliki nilai penting karena berkaitan dengan keyakinan terhadap sifat-sifat Allah SWT.
Sebagian ulama berhati-hati agar tidak menisbatkan sifat pemberi kepada selain Allah. Oleh karena itu, mereka lebih menganjurkan penggunaan Ramadhan Mubarak yang secara langsung merujuk pada keberkahan yang Allah turunkan di bulan suci.
Meski demikian, perbedaan pandangan ini tidak seharusnya menimbulkan perpecahan. Sebab, kedua ucapan tersebut sama-sama dimaksudkan sebagai doa dan ungkapan kebahagiaan menyambut Ramadan. Sikap bijaksana dan saling menghormati tetap menjadi prinsip utama dalam menyikapi perbedaan.
Lebih dari Sekadar Ucapan
Terlepas dari perdebatan mengenai arti Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak, esensi utama Ramadan bukan hanya pada ucapan, melainkan pada peningkatan kualitas ibadah.
Bulan Ramadan adalah waktu ketika Allah SWT membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam hadis. Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Ucapan selamat datang Ramadan sebaiknya menjadi pengingat untuk memperbaiki niat dan memperbanyak kebaikan, bukan sekadar tradisi tahunan. Keberkahan Ramadan akan terasa apabila diiringi dengan puasa yang sungguh-sungguh, tilawah Al-Qur’an, sedekah, serta amal kebajikan lainnya.
Ucapan yang Tepat dan Sikap yang Bijak
Kini masyarakat telah memahami arti Ramadhan Kareem dan Ramadan Mubarak secara lebih jelas. Ramadhan Kareem berarti “Ramadan yang bermurah hati,” sementara Ramadhan Mubarak berarti “Ramadan yang diberkahi.”
Berdasarkan penjelasan ulama dan dalil hadis, penggunaan Ramadhan Mubarak dinilai lebih tepat karena sesuai dengan penyebutan dalam hadis Nabi Muhammad SAW dan tidak menisbatkan sifat memberi kepada selain Allah SWT.
Namun demikian, perbedaan pandangan hendaknya disikapi dengan bijaksana. Yang terpenting bukan hanya pilihan kata, tetapi bagaimana umat Muslim memaksimalkan ibadah dan memanfaatkan bulan suci dengan sebaik-baiknya.
Dengan memahami makna yang benar, diharapkan ucapan yang disampaikan tidak hanya menjadi formalitas, melainkan doa tulus agar Ramadan benar-benar menjadi bulan penuh keberkahan bagi semua.





















