Headline.co.id, Jogja ~ Sebanyak 11 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam program Fisipol Mengajar telah mengabdikan diri selama sebulan di wilayah terdampak bencana di Aceh. Mereka menemukan bahwa kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di daerah tersebut masih sangat minim. Oleh karena itu, tim relawan ini memfokuskan upaya mereka pada penguatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, serta kegiatan mengaji dan permainan edukatif untuk mendukung pemulihan psikososial anak-anak. Para relawan ini ditempatkan di tiga wilayah terdampak, yaitu Pantan Nangka, Ketol, serta Takengon di Desa Bintang dan Desa Toweren, sejak 10 Januari hingga 8 Februari 2026. Program ini merupakan inisiatif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM dalam mendukung rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, khususnya di sektor pendidikan, bekerja sama dengan Yayasan Sukma.
Adit, salah satu relawan, menyatakan bahwa pendidikan belum menjadi prioritas utama bagi masyarakat di tengah keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar. “Seperti sembako, air bersih, dan rekonstruksi infrastruktur. Sayangnya, di sini pendidikan belum menjadi prioritas,” ujar Adit, relawan yang bertugas di Pantan Nangka, dalam keterangan yang dikirim ke wartawan pada Kamis (12/2).
Di wilayah Ketol, Efendi, relawan lainnya, mengungkapkan bahwa tantangan semakin berat dengan menyusutnya bantuan logistik. Setelah dapur umum ditutup, terjadi keterbatasan barang donasi serta menipisnya stok makanan masyarakat. “Selain barang donasi yang jumlahnya sangat terbatas, stok makan masyarakat juga semakin menipis. Dapur umum ditutup karena bantuan sembako hampir tidak ada lagi,” jelas Efendi.
Sufaat, rekan relawan di Ketol, menambahkan bahwa distribusi bantuan belum sepenuhnya memprioritaskan area yang paling terdampak. “Di Ketol, persoalan ketersediaan air bersih, perlengkapan sekolah, hingga kondisi psikososial anak-anak masih menjadi perhatian serius,” tambah Sufaat.
Menanggapi berbagai catatan tersebut, Fisipol UGM menegaskan komitmennya untuk mendorong respons yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Wakil Dekan Bidang Akademik, Prof. Poppy S. Winanti, mendorong penyusunan modul pengabdian pendidikan pascabencana sebagai luaran konkret yang nantinya dapat direplikasi untuk situasi serupa di masa mendatang.
Dekan Fisipol, Wawan Mas’udi, berharap program Fisipol Mengajar dapat menjadi titik awal konsolidasi upaya yang lebih luas untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi. “Tentunya ini perlu melibatkan lebih banyak pihak dalam menangani persoalan-persoalan prioritas pascabencana di wilayah terdampak,” imbuhnya.
Menurut Wawan, upaya pemulihan pascabencana berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan fisik, pendidikan, hingga penguatan sosial masyarakat. Oleh karenanya, segala lini masyarakat memiliki peran untuk hadir langsung di tengah suasana terdampak, termasuk perguruan tinggi.
Apresiasi penuh disampaikan Wawan Mas’udi atas dedikasi para relawan yang telah berkontribusi dan menjalankan pengabdian dengan baik hingga akhir. Menurutnya, pengalaman lapangan para relawan tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian semata. Wawan mengungkapkan ini dapat menjadi landasan pengembangan riset sosial, kerja-kerja advokasi kebijakan, hingga model rehabilitasi pendidikan pascabencana yang lebih komprehensif.
Wawan menuturkan bahwa inisiatif ini dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat, tetapi mendapat respons yang sangat baik. Ia juga menyoroti tingginya antusiasme mahasiswa dalam mengikuti program tersebut. Dari pengalaman di lapangan, Wawan meyakini banyak temuan penting yang telah dicatat dan direfleksikan oleh para relawan. Tidak sampai sini saja, ia berharap program serupa bisa ditindaklanjuti dalam berbagai bentuk. “Fakultas berharap betul ada keberlanjutan. Mungkin contohnya bisa dalam bentuk riset sosial terkait pemulihan pascabencana,” paparnya.
















