Headline.co.id, Sleman ~ Di Dusun Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Sugiyanto berperan aktif sebagai pegiat literasi desa. Sebagai Ketua Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Sumber Biwara Moyudan, Sugiyanto mendedikasikan waktu dan pemikirannya untuk memastikan informasi dapat diakses, dipahami, dan dimanfaatkan oleh warga secara efektif.
Sugiyanto menegaskan bahwa KIM bukan hanya sekadar sarana komunikasi, tetapi juga menjadi simpul literasi desa. Melalui KIM Sumber Biwara Moyudan, ia mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pengelola dan penyampai informasi yang bertanggung jawab. “KIM harus hadir di tengah masyarakat sebagai sarana informasi yang dekat, mudah diakses, dan memberi manfaat nyata,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
Misi ini diwujudkan melalui langkah-langkah konkret. Pertama, KIM Sumber Biwara berfungsi sebagai sarana informasi bagi warga dengan menjembatani kebutuhan data dan pengetahuan di tingkat lokal. Kedua, arus informasi pemerintah dan masyarakat, serta sebaliknya, diperlancar agar kebijakan publik tersampaikan dengan utuh dan aspirasi warga terakomodasi. Ketiga, kapasitas anggota KIM diperkuat agar mampu mengakses, mengelola, dan mengembangkan informasi yang relevan dengan kebutuhan desa.
Sugiyanto menekankan bahwa informasi yang baik harus berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Oleh karena itu, KIM Sumber Biwara berupaya mengembangkan konten yang memberikan nilai tambah, mulai dari isu layanan publik, pembangunan desa, hingga praktik baik pemberdayaan masyarakat. “Informasi tidak berhenti pada kabar. Informasi harus mendorong perubahan dan memberi solusi,” katanya.
Peran KIM juga diperluas sebagai penyerap aspirasi warga. Melalui diskusi, pendokumentasian kegiatan, dan publikasi, KIM Sumber Biwara menyampaikan suara masyarakat kepada pemerintah secara berimbang dan faktual. “KIM berada di posisi strategis mendengar dari warga dan menyampaikan kepada pemerintah dengan bahasa yang konstruktif,” jelasnya.
Pandangan Sugiyanto tentang menulis menjadi fondasi kerja literasi tersebut. Menurutnya, menulis bukan semata berorientasi finansial, melainkan ruang penuangan ide dan gagasan untuk kemaslahatan bersama. “Menulis adalah cara kami merawat ingatan kolektif desa dan menyampaikan gagasan agar bisa dibaca, dipahami, dan ditindaklanjuti,” tuturnya.
Dengan pendekatan yang konsisten dan kolaboratif, Sugiyanto menunjukkan bahwa literasi desa dapat tumbuh dari komunitas. Melalui KIM Sumber Biwara Moyudan, informasi dikelola secara bertanggung jawab, aspirasi warga disalurkan secara sistematis, dan budaya menulis dirawat sebagai ikhtiar membangun desa yang berpengetahuan, partisipatif, dan berdaya. (KIM Depok/Athiful)




















