Headline.co.id, Jakarta ~ Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau para investor di pasar modal Indonesia untuk tetap optimis meskipun terjadi fluktuasi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal Februari 2026. OJK juga menekankan agar investor tidak bereaksi berlebihan terhadap perubahan ini. Pernyataan ini disampaikan oleh Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Senin (2/2/2026).
Friderica menjelaskan bahwa pada hari tersebut, pasar ditutup dengan penurunan sebesar 4,88 persen, membawa indeks ke level 7.922,73. Namun, ia menyoroti adanya kabar baik di balik penurunan ini, yaitu setelah empat hari berturut-turut mengalami penjualan bersih oleh investor asing, pada hari itu tercatat pembelian bersih asing sebesar Rp654,9 miliar. “Ini berita bagusnya bahwa ternyata foren buy hari ini setelah 4 hari kemarin net sale dari foreign,” ujarnya.
Pada perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG melemah 406,875 poin, turun 4,88 persen ke level Rp7.922,731, dibandingkan penutupan Jumat (30/1/2026) di level Rp8.329,606. Friderica melihat sisi positif dari koreksi ini, dengan investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Ia juga menjelaskan bahwa pelemahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di bursa saham regional lainnya.
Indeks Kospi di Korea Selatan mengalami koreksi lebih dalam hingga 5,4 persen, dan kondisi serupa terjadi di bursa Hong Kong, India, Singapura, dan Tiongkok. Harga emas dunia juga terpantau melemah. Penurunan IHSG kali ini dipicu oleh aksi ambil untung, di mana investor melakukan penyesuaian terhadap saham-saham yang harganya sudah naik terlalu tinggi. “Kalau kita melihat investor melakukan rebalancing portfolio mereka,” tambahnya.
OJK terus memantau perkembangan pasar yang dinamis dan memperkuat koordinasi dengan seluruh Self Regulatory Organization (SRO) untuk memastikan perdagangan tetap berjalan wajar dan efisien. Friderica mengingatkan investor untuk fokus pada prospek investasi jangka panjang, mengingat fundamental ekonomi nasional yang masih sangat baik. “Kami menghimbau kepada seluruh investor di tanah air, seluruh investor pasar modal untuk tetap tenang, tidak panik,” tegasnya.
Sementara itu, Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa pihaknya bersama SRO baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pertemuan ini bertujuan membahas langkah-langkah strategis untuk memperkuat posisi pasar modal Indonesia di mata dunia. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) ini juga dihadiri oleh perwakilan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BPI Danantara.
Hasan menjelaskan bahwa OJK telah mengajukan proposal solusi untuk menjawab sejumlah kekhawatiran MSCI, dengan fokus pada transparansi dan peningkatan likuiditas pasar saham domestik. Salah satu poin penting dalam proposal tersebut adalah peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, dengan OJK berkomitmen membuka data kepemilikan saham dengan porsi di atas 1%. “Kami sudah memiliki rencana untuk melakukan pemenuhan atas semua isu yang terkait,” kata Hasan.
Selain transparansi, OJK berencana mempertajam klasifikasi data investor di KSEI, yang saat ini terbagi dalam 9 kategori utama, menjadi 27 sub-tipe investor. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas pengungkapan pemilik manfaat atau ultimate beneficial ownership. Poin krusial lainnya adalah rencana kenaikan porsi saham publik atau free float dari 7,5% menjadi 15%.
Kebijakan ini merupakan bagian dari 8 rencana aksi yang dicanangkan oleh Ketua OJK dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, dengan fokus pada klaster transparansi dan penguatan likuiditas pasar. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan pasar modal Indonesia tetap kompetitif dan menarik bagi investor global, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di pasar modal secara bertahap.





















