Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah berencana mempercepat pemulihan sektor pendidikan di Aceh yang terdampak bencana melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Sebanyak 114 sekolah di Provinsi Aceh akan segera direhabilitasi setelah penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pelaksanaan program tahun 2026. Program ini diprioritaskan untuk sekolah-sekolah dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat.
Program revitalisasi ini digerakkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Tujuannya adalah untuk memulihkan pendidikan secara cepat, menyeluruh, dan berkelanjutan bagi peserta didik di wilayah terdampak bencana.
Penandatanganan PKS dilakukan oleh perwakilan sekolah terdampak di Banda Aceh pada Kamis (29/1/2026). Ini menjadi langkah awal pelaksanaan revitalisasi fisik sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung dengan aman dan layak.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah bukan hanya perbaikan bangunan, tetapi juga langkah strategis negara dalam melindungi hak anak atas pendidikan. “Dokumen yang ditandatangani hari ini adalah awal dari pemulihan ekosistem pendidikan di sekolah masing-masing. Pemerintah ingin memastikan sekolah kembali menjadi ruang belajar yang nyaman dan aman bagi siswa, guru, serta seluruh warga sekolah,” ujar Tatang.
Ia menambahkan bahwa setelah PKS ditandatangani, pencairan dana bantuan akan segera dilakukan sehingga pekerjaan fisik dapat langsung dieksekusi. Pemerintah menargetkan, pada awal tahun ajaran baru, sebagian besar sekolah penerima bantuan sudah dapat digunakan secara optimal.
Program revitalisasi ini juga merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Kemendikdasmen dalam mempercepat rekonstruksi dan rehabilitasi pendidikan di daerah terdampak bencana. Berdasarkan data Kemendikdasmen, dari 114 sekolah yang akan direvitalisasi di Aceh, terdiri atas 99 SMK, 13 SLB, dan 2 PKBM dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga rusak berat. Seluruh sekolah tersebut berada di bawah pembinaan Ditjen Pendidikan Vokasi PKPLK.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Dahlawi, menyebut revitalisasi ini sebagai harapan baru bagi pemulihan pendidikan di Aceh, mengingat dampak bencana menyebabkan hampir separuh SMK dan SLB di wilayah tersebut mengalami kerusakan. “Revitalisasi ini sangat penting agar layanan pendidikan di Aceh segera pulih dan kualitasnya kembali sejajar dengan daerah lain,” ujarnya.
Dampak langsung program ini dirasakan oleh sekolah-sekolah yang selama ini terpaksa menjalankan pembelajaran di ruang darurat. SMK Ummul Ayman 2 di Kabupaten Pidie Jaya, misalnya, mengalami kerusakan total pada ruang kelas dan area praktik akibat bencana. Kepala SMK Ummul Ayman 2, Faisal, berharap revitalisasi dapat segera menghadirkan ruang belajar dan praktik yang layak bagi siswa. “Selama ini pembelajaran dilakukan di kelas darurat. Kami berharap unit kelas baru segera dibangun agar siswa bisa belajar lebih nyaman,” katanya.
Hal senada disampaikan Alfrizi Maulana, siswa kelas XI SMK Ummul Ayman 2, yang mengaku kesulitan mengikuti pembelajaran praktik karena fasilitas rusak akibat banjir. “Kami rindu belajar di kelas yang nyaman dengan fasilitas praktik yang lengkap,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Suprananta, menyebut PKS revitalisasi sebagai kabar baik bagi lebih dari 260 murid berkebutuhan khusus di sekolahnya. “Sekolah sudah kembali aktif, tetapi masih menggunakan kelas darurat. Dengan revitalisasi ini, kami optimistis sekolah dapat dibangun kembali dan pembelajaran berjalan lebih baik,” pungkasnya.



















