Headline.co.id, Jakarta ~ Child grooming kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan keluarga dan masa depan anak-anak serta remaja di Indonesia. Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengimbau masyarakat untuk memahami fenomena ini guna melindungi generasi muda dari eksploitasi dan kekerasan seksual. Isu ini kembali mencuat setelah buku karya Aurelie Moeremans yang membahas pengalaman terkait child grooming menjadi viral.
Ratu Ayu Isyana menjelaskan bahwa child grooming bukanlah kejadian tunggal, melainkan proses manipulasi sistematis yang dilakukan pelaku untuk membangun kedekatan emosional dengan korban sebelum mengeksploitasi mereka. “Proses ini membuat tanda-tanda awal grooming sulit dikenali karena tampak seperti perhatian yang wajar,” ungkap Isyana dalam acara Kelas Orang Tua Bersahaja di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Isyana memaparkan bahwa proses grooming umumnya melalui lima tahapan krusial: Penargetan, Membangun Kepercayaan, Isolasi Sosial, Desensitisasi, dan Mempertahankan Kontrol. Tahapan ini melibatkan pemilihan anak yang rentan, pemberian hadiah dan pujian, menciptakan ketergantungan emosional, melemahkan batasan kenyamanan anak terhadap perilaku seksual, dan menggunakan rasa takut serta malu untuk merahasiakan hubungan tersebut.
Di era digital, child grooming semakin kompleks dengan adanya praktik catfishing, di mana pelaku menyamar sebagai teman sebaya melalui media sosial atau game daring. Hal ini sering berujung pada permintaan foto atau video tidak pantas yang digunakan sebagai alat pemerasan. Kondisi ini membuat anak merasa terjebak dan memilih diam karena rasa malu.
Wamen Isyana juga menyoroti aspek biologis otak remaja berdasarkan buku karya Frances E. Jensen. Bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan penilaian risiko, yaitu Prefrontal Cortex (PFC), baru berkembang optimal pada usia sekitar 25 tahun. Dampak dari child grooming sangat serius, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga trauma jangka panjang.
Sebagai langkah pencegahan, Isyana menekankan pentingnya merawat kelekatan dalam keluarga. “Kelekatan keluarga adalah benteng pertahanan utama,” jelasnya. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) telah membuka program Bersahabat dengan Remaja untuk mendorong orang tua menjalin hubungan lebih baik dengan anak remaja mereka guna menghindari risiko sosial, termasuk child grooming.




















