Headline.co.id, Jakarta ~ Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan beberapa wilayah di Sumatra telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan menguji ketahanan sistem pelayanan kesehatan. Dalam situasi ini, pemerintah berupaya memastikan layanan kesehatan tetap berjalan. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa layanan kesehatan harus terus beroperasi tanpa henti, bahkan di tengah bencana.
Koordinator Krisis Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan, Sumarjaya, menyatakan bahwa prioritas utama saat bencana adalah memastikan rumah sakit kembali berfungsi. “Ketika bencana terjadi, yang paling pertama harus kita pastikan adalah rumah sakit kembali berfungsi, karena itu menyangkut hidup dan mati,” ujarnya dalam dialog Kemenkes di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Pemulihan layanan kesehatan dilakukan secara bertahap dan terencana. Rumah sakit menjadi prioritas utama, diikuti oleh puskesmas dan fasilitas kesehatan dasar lainnya. Dari 87 rumah sakit yang terdampak bencana, sembilan sempat berhenti beroperasi, namun dalam dua pekan pertama, semuanya berhasil diaktifkan kembali. Layanan krusial seperti hemodialisis menjadi perhatian khusus karena menyangkut pasien dengan ketergantungan tinggi pada alat dan jadwal terapi yang ketat. “Layanan dialisis tidak bisa menunggu. Alhamdulillah, seluruh rumah sakit yang melayani hemodialisis sudah kembali beroperasi,” tegas Sumarjaya.
Tahap kedua pemulihan menyasar layanan kesehatan primer. Sebanyak 867 puskesmas terdampak bencana, dengan 152 di antaranya sempat lumpuh total. Per 1 Januari 2026, hampir seluruh puskesmas telah kembali beroperasi. Dua puskesmas di Aceh Timur dan Aceh Tenggara yang mengalami kerusakan berat akan dibangun ulang menggunakan konsep bangunan modular yang dirancang untuk digunakan hingga lima tahun sambil menunggu pembangunan permanen.
Tahap ketiga melibatkan pemulihan fasilitas pendukung, termasuk perbaikan sarana dan prasarana penunjang layanan seperti komputer, alat kesehatan, dan fasilitas pendukung lainnya. Fokus utama adalah mengembalikan fungsi dasar pelayanan kesehatan agar masyarakat kembali mendapatkan layanan yang lengkap dan aman. Emergency Medical Team (EMT) yang tergabung dalam Tenaga Cadangan Kesehatan diterjunkan sejak hari pertama bencana untuk memastikan layanan tetap berjalan di wilayah terdampak. “EMT tipe 1 mobile berjumlah tujuh orang. Mereka dilatih bekerja dalam kondisi ekstrem,” jelas Sumarjaya.
Koordinator Lapangan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Kementerian Kesehatan, Budiman, menyampaikan bahwa tantangan akses menjadi ujian tersendiri di sejumlah wilayah terdampak. “Ada desa yang hanya bisa dijangkau lewat jembatan darurat, sling, atau berjalan kaki empat hingga enam jam. Namun tim kesehatan tetap kami tempatkan agar masyarakat tidak kehilangan akses layanan,” ungkapnya.
Pascabencana, tantangan kesehatan tidak hanya berupa luka fisik. Kerusakan lingkungan, sanitasi darurat, dan tekanan psikologis memicu munculnya berbagai penyakit. Kementerian Kesehatan mencatat ISPA, diare, dan penyakit kulit sebagai kasus yang paling banyak ditemukan. Karena itu, layanan kesehatan diperluas dari pendekatan kuratif ke preventif dan promotif. Vaksinasi dilakukan di lokasi pengungsian, surveilans penyakit diperkuat, serta penyediaan air bersih dan sanitasi darurat dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan fasilitas sementara.
“Tenaga kesehatan tidak hanya mengobati, tetapi juga mencegah munculnya masalah kesehatan baru melalui upaya kesehatan lingkungan, edukasi, dan dukungan psikososial, terutama bagi anak-anak,” kata Budiman. Seluruh respons kesehatan pascabencana dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) dari tingkat pusat hingga daerah. Laporan situasi harian menjadi dasar pengambilan keputusan agar pemulihan berlangsung merata dan berkelanjutan.
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tujuan akhir bukan sekadar membuka kembali layanan, melainkan memastikan sistem kesehatan kembali kuat dan siap melayani masyarakat secara aman. “Kami tidak hanya ingin layanan kembali berjalan, tetapi benar-benar pulih seperti semula agar tenaga kesehatan dan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan aman,” pungkasnya.




















