Headline.co.id, Jakarta ~ Isu “biaya admin QRIS” kembali menjadi perhatian publik seiring makin luasnya penggunaan pembayaran digital di berbagai segmen, dari warung mikro hingga ritel modern. Di lapangan, sebagian konsumen masih menjumpai tambahan biaya saat membayar dengan QRIS padahal pembayaran digital pada prinsipnya ditujukan untuk membuat transaksi lebih praktis, efisien, dan transparan.
Mengapa “Biaya Admin QRIS” Sering Menjadi Perdebatan
Seiring QRIS menjadi standar pembayaran yang semakin umum, istilah “biaya admin” sering dipahami berbeda oleh pelaku usaha dan konsumen. Di satu sisi, ada komponen biaya layanan dalam ekosistem pembayaran. Di sisi lain, konsumen berangkat dari ekspektasi sederhana: nominal yang dibayar seharusnya sama dengan harga barang/jasa yang dibeli.
Agar pembaca memahami akar persoalan sebelum masuk ke detail ketentuan, berikut konteks yang paling sering terjadi di lapangan:
- Konsumen membayar QRIS lalu dikenakan tambahan biaya (misalnya Rp1.000) tanpa penjelasan yang jelas.
- Merchant menganggap tambahan biaya sebagai kompensasi atas potongan yang diterima merchant dari transaksi digital.
- Ada percampuran istilah antara MDR, biaya layanan, dan biaya operasional lainnya, sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Klarifikasi BI: MDR Adalah Biaya Layanan untuk Merchant, Bukan untuk Konsumen
Bank Indonesia menegaskan bahwa MDR merupakan biaya layanan yang terkait pemrosesan transaksi QRIS, dan ditanggung oleh merchant (pelaku usaha), bukan dibebankan kepada konsumen. Ketentuan ini penting karena menjadi landasan perlindungan konsumen: pembeli seharusnya membayar sesuai harga barang/jasa, tanpa “biaya tambahan metode pembayaran”.
Ringkasnya, poin kunci yang perlu dipahami publik:
- MDR bukan biaya untuk pembeli, melainkan biaya layanan yang melekat pada penerimaan pembayaran oleh merchant.
- Merchant tidak diperkenankan membebankan MDR kepada konsumen sebagai tambahan biaya pembayaran.
- Untuk usaha mikro (UMI) pada transaksi tertentu, terdapat kebijakan MDR 0% sehingga merchant tidak terkena potongan MDR pada skema yang ditetapkan.
Struktur Tarif MDR QRIS: Berbeda Menurut Kategori Merchant dan Jenis Transaksi
Kebijakan MDR QRIS bersifat bertingkat agar tetap mendorong adopsi pembayaran digital, terutama bagi usaha mikro. Karena itu, penting bagi merchant untuk memahami kategorisasi usahanya dan bagi konsumen untuk memahami bahwa “ada biaya layanan” tidak berarti biaya itu boleh dipindahkan ke pembeli.
Secara umum, struktur MDR QRIS yang perlu diketahui mencakup:
- Usaha Mikro (UMI)
- Transaksi ≤ Rp500.000: 0%
- Transaksi > Rp500.000: 0,3%
- Transaksi ≤ Rp500.000: 0%
- Usaha Kecil (UKE), Menengah (UME), dan Besar (UBE): 0,7%
- Kategori khusus (contoh yang sering ditemui):
- Pendidikan: 0,6%
- SPBU: 0,4%
- Layanan tertentu/PSO/BLU/G2P/P2G dan donasi sosial: 0% sesuai ketentuan kategori
- Pendidikan: 0,6%
Kenapa Masih Ada Tambahan Biaya Saat Bayar QRIS?
Meski ketentuan menegaskan MDR tidak boleh dibebankan ke konsumen, praktik tambahan biaya kadang masih terjadi karena faktor pemahaman dan kebiasaan operasional. Pada beberapa kasus, tambahan biaya diposisikan sebagai “biaya admin” tanpa memisahkan apakah itu MDR, biaya layanan lain, atau sekadar penyesuaian harga yang tidak transparan.
Agar publik dapat menyikapi dengan tepat, berikut penjelasan yang sering relevan:
- Surcharge oleh merchant: tambahan biaya dibebankan ke konsumen untuk menutup biaya MDR ini yang perlu diluruskan karena bertentangan dengan prinsip ketentuan MDR.
- Kurang transparan soal harga: merchant tidak mengomunikasikan harga final sebelum pembayaran, sehingga konsumen baru tahu saat transaksi.
- Kebingungan antara biaya transaksi dan biaya layanan lain: misalnya biaya non-QRIS (transfer/settlement/administrasi internal) yang tidak semestinya dicampur dalam pembayaran QRIS di kasir.
Panduan untuk Merchant: Kepatuhan, Transparansi, dan Pengelolaan Biaya yang Lebih Sehat
Bagi pelaku usaha, kepatuhan bukan hanya soal menghindari komplain, tetapi juga menjaga kepercayaan pelanggan. Pengelolaan biaya transaksi digital dapat dilakukan secara profesional tanpa perlu memindahkan beban MDR ke konsumen.
Langkah praktis yang dapat dilakukan merchant:
- Pastikan kategori usaha tercatat sesuai pada kanal penerimaan QRIS (UMI/UKE/UME/UBE atau kategori khusus), karena ini memengaruhi tarif MDR.
- Jangan menambahkan biaya “QRIS/admin” kepada konsumen di kasir. Jika perlu penyesuaian harga, lakukan secara transparan di daftar harga, bukan sebagai biaya metode pembayaran.
- Hitung MDR sebagai biaya operasional dan evaluasi margin (misalnya melalui penataan bundling, efisiensi biaya, atau strategi harga yang wajar dan terbuka).
- Koordinasi dengan penyedia jasa pembayaran/acquirer jika ada ketidaksesuaian tarif atau pelabelan kategori usaha, agar tidak terjadi salah penerapan.
- Latih staf kasir untuk menjelaskan mekanisme QRIS secara singkat dan konsisten, sehingga mengurangi konflik saat transaksi.
Panduan untuk Konsumen: Apa yang Bisa Dilakukan Jika Diminta “Biaya Admin QRIS”
Bagi konsumen, langkah terbaik adalah tetap tenang, meminta kejelasan, dan mendokumentasikan transaksi bila diperlukan. Tujuannya bukan memperpanjang perdebatan, melainkan memastikan transaksi berjalan sesuai hak konsumen dan ketentuan yang berlaku.
Langkah yang dapat dilakukan konsumen:
- Tanyakan rincian tambahan biaya: apakah itu perubahan harga barang/jasa atau biaya metode pembayaran.
- Minta struk/nota yang mencantumkan harga final dan komponen biaya, bila merchant menambahkan biaya di luar harga barang.
- Pertimbangkan opsi pembayaran lain jika merchant tetap menambahkan biaya dan tidak memberikan penjelasan yang memadai.
- Laporkan melalui kanal resmi bila menemukan praktik pembebanan biaya tambahan yang tidak semestinya, agar ada tindak lanjut edukasi atau penertiban sesuai ketentuan.
- Jaga keamanan transaksi: pastikan nominal yang diinput merchant sesuai, dan simpan bukti pembayaran di aplikasi.
Komitmen TuwagaFinance.id: Mengubah Kebingungan Publik Menjadi Informasi yang Bisa Dipakai
Di tengah cepatnya arus informasi, isu biaya QRIS dapat berkembang menjadi kebingungan massal bila tidak diluruskan dengan konteks yang tepat. TuwagaFinance.id berkomitmen menghadirkan informasi ekonomi-finansial yang terstruktur, termasuk topik sistem pembayaran dan perlindungan konsumen, agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih aman dan rasional.
TuwagaFinance.id akan terus merilis rangkuman isu keuangan harian mulai dari perbankan, pinjaman, kartu kredit, hingga keamanan transaksi dengan prinsip: jelas, terverifikasi, dan aplikatif.
Akses informasi terbaru melalui:
Tentang TuwagaFinance.id
TuwagaFinance.id adalah portal berita ekonomi dan finansial yang menyajikan informasi terverifikasi serta edukasi aplikatif seputar ekonomi, perbankan, pinjaman, kartu kredit, simpanan, dan perlindungan konsumen. Dengan pendekatan editorial formal dan struktur penulisan yang rapi, TuwagaFinance.id membantu pembaca memahami konteks dan langkah praktis dalam pengambilan keputusan keuangan.





















