Headline.co.id, Sleman ~ Dusun Krapyak IX di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, kini menjadi model pengembangan desa percontohan nasional. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi masyarakat setempat dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang berhasil mengubah desa tertinggal tersebut menjadi “Kampung Emas”. Program ini diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada akhir 2023 dan dirancang sebagai model pendampingan desa berkelanjutan.
Melalui skema UNY Bangun Desa, pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, keraton, kampung, dan kampus diterapkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat berdasarkan potensi lokal. Nur Laily Tri Wulansari, Koordinator Bidang Pendidikan Kampung Emas Krapyak IX, menekankan pentingnya perubahan paradigma pendampingan, di mana masyarakat berperan aktif sebagai subjek utama dalam setiap tahap program.
“Sejak awal, masyarakat tidak kami posisikan sebagai objek program, tetapi sebagai subjek utama. Semua kegiatan Kampung Emas dirancang bersama warga, sehingga mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab atas keberlanjutannya. Desa ini perlu didampingi secara serius karena ketimpangan pendidikan dan ekonomi sebelumnya masih terasa sangat kuat,” ujar Nur Laily Tri Wulansari saat ditemui di kediamannya, Minggu (18/1/2026).
Sektor pendidikan menjadi fokus utama melalui program Pendidikan Berkah, yang mencakup pelatihan dan pendampingan formal serta pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk meningkatkan literasi anak dan remaja. Sembilan program unggulan lainnya juga dikembangkan, meliputi seni, olahraga, dan ekonomi produktif seperti industri tahu, pertanian sayur, perikanan, dan peternakan unggas.
Pembangunan infrastruktur fisik dilakukan secara bertahap, termasuk pengerasan jalan desa, penataan irigasi, dan pengelolaan limbah industri tahu agar lebih ramah lingkungan. Fasilitas sosial juga diperkuat dengan pembangunan area outbound dan sarana olahraga panahan. Di bidang kebudayaan, Kampung Emas menghadirkan Pendopo Gamelan dan Dalem Pawiro Diharjo sebagai pusat pelestarian seni tradisi.
Nur Laily Tri Wulansari menambahkan bahwa visi jangka panjang Kampung Emas adalah mewujudkan kemandirian desa yang berakar pada identitas lokal. Tim akademisi UNY secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi agar setiap program tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat yang dinamis. “Ke depan, Kampung Emas Krapyak IX kami arahkan menjadi kampung budaya berbasis pendidikan. Tradisi lokal tetap hidup, namun masyarakat juga memiliki keterampilan modern dan kemandirian ekonomi yang kuat. Kami ingin tempat ini menjadi ruang belajar bersama, di mana kampus, kampung, dan kebudayaan saling bertemu demi masa depan masyarakat yang lebih berdaya,” pungkasnya.



















