Headline.co.id, Aceh Tamiang ~ Di bawah langit cerah Aceh Tamiang, Midah, seorang ibu rumah tangga, berdiri menatap layar ponselnya dengan perasaan lega. Setelah banjir yang melanda dan memutus akses jalan, kini sinyal telepon di ponselnya kembali penuh. Kondisi ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya ketika banjir merendam wilayah tersebut.
Midah, warga Medang Ara di Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menyatakan bahwa menara BTS (base transceiver station) yang berdiri kokoh di dekat pemukimannya bukan sekadar tiang besi penyebar sinyal. Menara tersebut adalah penghubung komunikasi yang sempat terputus saat bencana melanda. “Menara itu adalah jembatan kami untuk berkomunikasi,” kenang Midah. Saat banjir datang, sinyal hilang dan listrik padam, membuat Midah tidak bisa menghubungi kerabatnya dan tidak tahu harus meminta bantuan ke mana.
Seiring surutnya air, jaringan telekomunikasi pun kembali pulih, membawa perubahan nyata bagi Midah. Bukan hanya lantai rumah yang kering, tetapi dering telepon yang kembali terdengar menjadi pertanda baik. “Sekarang saya bisa mendengar suara keluarga saya lagi,” ujarnya dengan nada lega. Midah mengungkapkan betapa pentingnya konektivitas dasar bagi warga desa, meskipun hiburan sedikit terhambat, yang terpenting adalah mendengar kabar dari sanak saudara.
Pemulihan jaringan ini merupakan hasil dari kerja keras pemerintah. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang meninjau langsung lokasi BTS terdampak di Aceh Tamiang pada Minggu (28/12/2025), menegaskan pentingnya konektivitas sebagai kunci pemulihan. “Konektivitas adalah kunci untuk memulihkan kehidupan masyarakat,” ungkap Meutya. Progres pemulihan jaringan di wilayah terdampak telah mencapai lebih dari 95 persen. Namun, di beberapa titik sulit seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues, performa jaringan masih di kisaran 60-80 persen karena kendala pasokan listrik.
Selain memulihkan sinyal, Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengirimkan 118 tangki air bersih berkapasitas 8.000 liter untuk warga. Bantuan ini sangat penting mengingat sumber air warga tercemar lumpur banjir. Meski sinyal dan air bersih sudah tersedia, Midah masih merasa sedih melihat kondisi rumahnya yang rusak akibat banjir. Dinding retak dan perabotan rusak menjadi saksi bisu dari bencana yang melanda.
Konektivitas yang pulih memberinya keberanian untuk menyuarakan harapannya. “Saya berharap rumah kami bisa diperbaiki,” ucap Midah, menitipkan pesan melalui sinyal yang kini telah lancar. Di Aceh Tamiang, menara BTS kini berdiri sebagai simbol kebangkitan. Menara tersebut tidak hanya memancarkan sinyal 4G, tetapi juga doa dan harapan Midah serta ribuan korban lainnya agar kehidupan mereka bisa kembali normal.





















