Headline.co.id (Bandung) — Di kaki Gunung Kamojang, aroma kopi khas menyambut setiap pengunjung yang datang ke kedai Ecovil di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Dari tempat inilah lahir Kopi Canaya, karya inovatif anak muda lokal bernama Moh Ramdan Reza (34) atau akrab disapa Deden, yang berhasil mengolah kopi dengan cara tak biasa. Sejak 2018, Deden mengembangkan kopi dengan metode Geothermal Coffee Process (GCP) — sistem pengeringan menggunakan uap panas bumi yang menjadi sumber panas alternatif pertama di dunia. Inovasi ini berawal dari program CSR PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang dan kini sukses membawa kopi lokal ini ke pasar ekspor Jerman dan Jepang.
Inovasi Kopi Ramah Lingkungan dari Energi Panas Bumi
Kopi Canaya memiliki keunikan tersendiri dalam proses pengolahannya. Tidak seperti kopi lain yang dikeringkan di bawah terik matahari, Deden memanfaatkan uap panas buangan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi PGE Kamojang untuk mengeringkan biji kopi. Proses yang biasanya memakan waktu satu bulan kini dapat diselesaikan hanya dalam delapan hingga sepuluh hari, dengan hasil rasa yang lebih konsisten.
“Saya yang memberi nama Canaya. Belum ada kopi yang pengolahannya menggunakan metode pengeringan geotermal,” ujar Deden menjelaskan makna di balik nama produknya. Dalam bahasa Sunda, Canaya berarti belum ada, merujuk pada fakta bahwa teknologi ini memang belum ditemukan di tempat lain.
Metode ini bukan hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan karena mengoptimalkan energi panas bumi yang terbarukan. Hal itu menjadikan Canaya sebagai pionir dalam pengolahan kopi berkelanjutan, sejalan dengan tren global menuju ekonomi hijau.
Dari Kamojang ke Dunia: Canaya di Panggung Internasional
Tahun 2025 menjadi momen penting bagi Kopi Canaya. Produk ini tampil dalam ajang bergengsi World of Coffee (WoC) Jakarta 2025, yang untuk pertama kalinya digelar di Indonesia. Dalam pameran tersebut, Canaya mencuri perhatian para pelaku bisnis internasional dari Jerman, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga Kolombia.
Hasilnya, pebisnis asal Jerman memesan 10 ton kopi arabika Canaya, sementara Jepang meminta 5 ton kopi siap saji dengan harga mencapai Rp450 ribu per kilogram. “Permintaan dari luar negeri luar biasa, bisa sampai 50 ton. Namun kami baru mampu memenuhi sekitar 20 ton karena keterbatasan modal,” kata Deden menjelaskan tantangan produksinya.
Potensi sebenarnya jauh lebih besar. Di kawasan Kamojang saja terdapat 225 hektare lahan kopi arabika dengan hasil produksi mencapai 1.500 ton ceri kopi per tahun. Jika kapasitas pengeringan berbasis geotermal terus diperluas, maka Indonesia berpeluang memperkuat posisinya dalam industri kopi global dengan produk bernilai tambah tinggi.
Dapat Paten Nasional dan Dukungan PGE Kamojang
Keunikan teknologi pengeringan kopi geotermal ini tidak hanya diakui pasar, tetapi juga diakui secara hukum. PT PGE Area Kamojang telah mengantongi Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum dan HAM tahun 2024, yang menjadi dasar legal bagi pengembangan inovasi tersebut.
“Ekspor perdana kopi hasil geotermal ke Jerman dan Jepang membuktikan bahwa produk ini sudah memenuhi standar global,” ungkap Reyhana Rashellasida, Community Development Officer PGE Kamojang. Ia menegaskan, pihaknya siap terus memfasilitasi ekspor Kopi Canaya dan membantu Deden memperluas jangkauan pasar.
Reyhana menilai keberhasilan Deden merupakan contoh nyata sinergi antara inovasi lokal dan dukungan korporasi, yang dapat menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai pelopor energi hijau di sektor pertanian.
Konsistensi Rasa dan Peluang Ekonomi Berkelanjutan
Deden meyakini, keunggulan Kopi Canaya terletak pada konsistensi rasa dan kontrol kualitas selama proses pengeringan. “Kalau ada pembelian berulang, berarti kopi kita enak dan konsisten,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Kombinasi antara teknologi pengolahan presisi dan karakter cita rasa khas Kamojang menjadikan Canaya sebagai produk unggulan yang tak hanya diminati pecinta kopi domestik, tetapi juga diapresiasi di pasar internasional.
Dengan pengembangan kapasitas dan dukungan modal yang lebih kuat, Deden optimistis Kopi Canaya akan menjadi ikon kopi ramah lingkungan Indonesia di masa depan — mengharumkan nama Kamojang sekaligus membuktikan bahwa inovasi dari desa pun bisa mendunia.





















