Headline.co.id (Mataran, NTB) ~ Seorang oknum dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilaporkan atas dugaan pencabulan terhadap sejumlah mahasiswi penerima beasiswa Bidikmisi. Aksi bejat tersebut disebut telah berlangsung selama empat tahun terakhir, namun baru terungkap setelah para korban menonton serial asal Malaysia berjudul Bidaah.
Baca juga: Komitmen Berkelanjutan: KAI Daop 6 Kucurkan Bantuan Sosial-Lingkungan Ratusan Juta
Joko Jumadi, perwakilan Koalisi Stop Kekerasan Seksual NTB, mengungkapkan bahwa laporan baru masuk ke pihaknya setelah para korban menemukan keberanian untuk bersuara.
“Jadi, karena menonton film Walid (tokoh dalam serial Bidaah), akhirnya kemudian ada keberanian untuk dia berani melapor,” jelas Joko saat ditemui pada Selasa (20/5/2025), dikutip Headline Media dari detikBali.
Baca juga: Tak Hanya di Banguntapan, Perusakan Nisan di Bantul Juga Terjadi di Sewon
Dugaan Pencabulan Terjadi di Asrama
Menurut Joko, pelaku diduga telah melakukan pelecehan seksual sejak tahun 2021 hingga 2024. Lokasi terjadinya kekerasan seksual disebut berada di lingkungan asrama kampus UIN Mataram.
“Korban ini mahasiswi penerima beasiswa Bidikmisi. Kejadiannya di ruang asrama. Ada yang malam hari, disuruh tidur di salah satu tempat, terus melakukannya (pencabulan),” ujar Joko.
Ia menyebutkan bahwa tindakan pelaku tidak hanya berupa perbuatan fisik seperti mencium dan meraba, namun juga memaksa korban melakukan tindakan seksual tertentu.
Baca juga: Breaking News! Polisi Amankan Remaja Asal Banguntapan Terkait Dugaan Perusakan Makam
Manipulasi Emosional Jadi Modus Utama
Tidak ada ancaman langsung dari pelaku kepada korban, namun Joko menegaskan pelaku menggunakan manipulasi emosional sebagai modus.
“Dia memosisikan diri sebagai sosok orang tua, sehingga bisa memanipulasi korban untuk menuruti keinginannya,” terangnya.
Para korban, lanjut Joko, merasa tertekan dan takut kehilangan beasiswa jika menolak keinginan pelaku, meskipun pelaku tidak secara eksplisit mengancam.
“Korban juga ketakutan beasiswanya dicabut, meskipun dia tidak menyampaikan secara langsung,” imbuhnya.
Baca juga: Kronologi Kecelakaan Magetan: Palang Dibuka, KA Malioboro Datang dan Menabrak 7 Kendaraan
Laporan ke Kampus Tidak Ditanggapi
Sebelum akhirnya melapor ke koalisi, para korban disebut telah mencoba melaporkan kasus ini ke birokrasi kampus. Namun sayangnya, laporan itu tidak ditindaklanjuti.
“Beberapa korban ada yang sudah menjadi alumni dan masih aktif menjadi mahasiswi. Yang hari ini kami bawa (untuk diperiksa) baru tiga orang. Besok Kamis (22/5) ada dua lagi,” jelas Joko.
Polisi Turun Tangan
Laporan resmi terkait kasus ini telah diterima oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB pada Selasa (20/5). Dirreskrimum Polda NTB, Kombes Syarif Hidayat, membenarkan laporan tersebut.
“Saat ini korban masih diinterogasi,” ujar Syarif saat dihubungi detikBali.
Ia menambahkan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. “Masih penyelidikan,” singkatnya.
Sementara itu, pihak kampus melalui Kasubag Humas UIN Mataram, Sapardi, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi detikbali.
Baca juga: Misteri Perusakan Nisan Salib di Bantul Terungkap, Kerugian Capai Rp11 Juta






















