Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah setelah jumlah titik panas atau hotspot meningkat menjadi 799 titik. Berdasarkan pemantauan SiPongi hingga Kamis (15/10/2026) pukul 21.00 WIB, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan naik 427 titik dibandingkan sehari sebelumnya. Penguatan operasi dilakukan melalui patroli, pemadaman darat dan udara, pemeriksaan lapangan, serta pembasahan lahan gambut. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya risiko karhutla dan insiden fatal dalam operasi pemadaman di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.
Kemenhut menyampaikan bahwa empat orang meninggal dunia dalam upaya pemadaman karhutla di kawasan TNBTS pada Kamis (15/10/2026). Dua orang lainnya mengalami luka bakar serius dan masih mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Kementerian Kehutanan menyampaikan duka cita kepada keluarga korban serta penghormatan atas keberanian dan pengabdian petugas, relawan, masyarakat, dan seluruh unsur yang terlibat dalam pengendalian karhutla.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa operasi pemadaman karhutla memiliki risiko tinggi. Keselamatan personel perlu menjadi prioritas melalui pemantauan perkembangan api dan arah angin, kesiapan jalur evakuasi, komunikasi antarpersonel, serta penilaian kondisi lapangan sebelum dan selama operasi.
Kalimantan Tengah Catat Hotspot Karhutla Tertinggi
Berdasarkan data SiPongi, enam provinsi prioritas karhutla mencatat total 615 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 389 titik, meningkat dari 130 titik pada hari sebelumnya.
Sumatra Selatan mencatat 122 titik, naik dari 91 titik. Kalimantan Barat memiliki 42 titik, turun dari 59 titik. Selanjutnya, Jambi mencatat 31 titik, meningkat dari sembilan titik, dan Kalimantan Selatan juga mencatat 31 titik, naik dari lima titik. Sementara itu, Riau tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Kemenhut menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Setiap indikasi hotspot tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Penanganan Karhutla Difokuskan di Tanjung Puting
Di Kalimantan Tengah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin meninjau langsung penanganan karhutla di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kamis (15/10/2026).
Penanganan dipusatkan pada sejumlah lokasi prioritas yang sebelumnya diidentifikasi menggunakan drone termal. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian ialah Pesalat karena lokasinya berdekatan dengan zona inti taman nasional dan area penting bagi orangutan.
Hasil peninjauan mendorong penguatan akses menuju lokasi pemadaman. Pemerintah menyiapkan jalur darat sebagai alternatif karena akses sungai sangat dipengaruhi kondisi pasang surut. Jalur tersebut diharapkan mempercepat mobilisasi personel, peralatan, dan logistik.
Pemerintah juga membangun sumur bor di sepanjang jalur menuju lokasi prioritas untuk mendekatkan sumber air dengan titik operasi. Langkah ini diperlukan dalam pemadaman di lahan gambut yang membutuhkan pembasahan intensif hingga bara di bawah permukaan benar-benar terkendali.
Menteri Kehutanan menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, TNI, Polri, masyarakat, dan relawan agar penanganan titik api berjalan secara terkoordinasi. Dukungan operasi udara disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Untuk Kalimantan Tengah, pemerintah mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca pada 15–16 Oktober 2026. Penerbangan dilakukan dari Banjarmasin karena jarak pandang di Palangka Raya dan Pangkalan Bun belum memungkinkan operasi dari kedua lokasi tersebut.
Operasi Dilanjutkan hingga Bara di Gambut Terkendali
Secara nasional, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, pengelola kawasan konservasi, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan berbagai pihak melakukan patroli serta pemeriksaan lapangan terhadap hotspot.
Operasi juga mencakup pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, penyisiran bara, dan pendinginan. Pada kebakaran lahan gambut, operasi tidak berhenti ketika api di permukaan tidak lagi terlihat. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga pembasahan dan pendinginan harus dilanjutkan sampai lokasi dinyatakan aman dari potensi kebakaran berulang.
Dari sisi kesehatan, pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah lokasi di Sumatra, Kalimantan, dan wilayah lainnya masih mengalami kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya secara lokal.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat agar tidak menangani satwa liar yang terluka atau terdampak kebakaran secara mandiri. Masyarakat diminta menjaga jarak, mencatat lokasi dan kondisi satwa jika memungkinkan, kemudian melaporkannya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), balai taman nasional, atau petugas kehutanan terdekat.
Masyarakat dan pelaku usaha diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau kondisi yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






