Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah meluncurkan Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata untuk memperkuat budaya pelestarian lingkungan di satuan pendidikan. Gerakan ini digagas melalui kolaborasi Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam kegiatan bertajuk “Mengawali Langkah Bersama untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan” di Jakarta. Program tersebut diarahkan terutama kepada sekolah “Level 0”, yakni satuan pendidikan yang belum pernah tersentuh program Adiwiyata. Peluncuran diikuti 650 peserta secara luring dan terhubung secara daring dengan lebih dari 2.000 sekolah serta instansi di seluruh Indonesia.
Kegiatan itu dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Muhammad Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, jajaran pejabat kementerian, tenaga pendidik, serta siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Sekretaris Utama Kementerian Lingkungan Hidup Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, Gerakan Tobat Ekologis dirancang agar penguatan budaya lingkungan hidup menjangkau seluruh satuan pendidikan secara inklusif. Menurut dia, program tersebut tidak hanya ditujukan bagi sekolah yang telah berpengalaman mengikuti program Adiwiyata.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Penguatan budaya lingkungan hidup perlu menjangkau seluruh satuan pendidikan, termasuk sekolah-sekolah yang belum pernah mengikuti program Adiwiyata. Atas dasar tersebut, Tobat Ekologis pada kesempatan ini diarahkan kepada sekolah level nol,” ujar Rosa, Senin (12/20/2026).
Gerakan Tobat Ekologis Sasar Sekolah Level Nol
Rosa menjelaskan, pelibatan sekolah level nol menjadi terobosan agar gerakan peduli alam tidak berjalan eksklusif di sekolah-sekolah binaan yang telah memiliki pengalaman. Dengan pendekatan tersebut, satuan pendidikan yang belum pernah mengikuti program Adiwiyata dapat mulai membangun budaya lingkungan dari tahap awal.
Ia menegaskan, tobat ekologis tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Gerakan tersebut dirancang sebagai proses perubahan cara pandang dan perilaku yang berlangsung bertahap, mulai dari sadar, refleksi, komitmen, perubahan, aksi, pembiasaan, hingga mengakar menjadi budaya.
Kegiatan yang berlangsung di Jakarta itu menjadi bagian dari upaya pemerintah mempertemukan unsur pendidikan, lingkungan, dan keagamaan dalam satu gerakan. Kolaborasi tersebut melibatkan sekolah umum, madrasah, dan pesantren sebagai ruang pembentukan karakter serta kebiasaan peserta didik.
Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat mengatakan, kerja sama lintas kementerian merupakan kunci untuk menjalankan Gerakan Tobat Ekologis sebagai gerakan nasional. Ia menyebut terdapat tiga perspektif yang menjadi dasar gerakan tersebut, yaitu moral dan kesadaran budaya, pendekatan agama, serta penegakan hukum.
“KLH mencanangkan sebuah gerakan nasional yang kita sebut Gerakan Tobat Ekologis. Intinya ada tiga perspektif: perspektif moral dan kesadaran dari budaya, perspektif agama, dan pendekatan penegakan hukum atau law enforcement,” terang Jumhur.
Kolaborasi Moral, Agama, dan Penegakan Hukum
Jumhur juga menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian generasi muda pada isu lingkungan. Berdasarkan hasil survei yang disampaikannya, sebanyak 80 persen Generasi Z sadar terhadap lingkungan.
Menurut Jumhur, pemerintah berkewajiban memfasilitasi dan mengarahkan kepedulian tersebut melalui ruang-ruang pendidikan. Sekolah dinilai menjadi ruang penting untuk membentuk kesadaran, kebiasaan, serta tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kesiapan Kemenag untuk mengintegrasikan nilai-nilai pelestarian alam ke dalam ratusan ribu lembaga pendidikan keagamaan binaan Kemenag. Ia menilai program Adiwiyata dan sekolah berbudaya lingkungan membutuhkan sinergi dalam penguatan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
“Kementerian Agama menyadari program Adiwiyata dan sekolah berbudaya lingkungan membutuhkan sinergi dalam penguatan karakter serta kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kami berusaha mendukung gagasan-gagasan cerdas ini agar alam berkontribusi aktif mendukung kesejahteraan manusia,” tutur Menag.
Nasaruddin mengingatkan pentingnya perubahan mendasar dalam cara pandang manusia terhadap alam. Ia mengajak insan pendidikan meninggalkan paradigma eksploitasi dan membangun kembali hubungan yang harmonis dengan lingkungan.
“Nah jadi Bapak, Ibu sekalian, tema kita hari ini sangat tepat: pertobatan ekologis. Mari kita kembali bersahabat dengan alam. Jangan menjadikan alam itu hanya sebagai objek, tapi jadikan sebagai partner dalam mendukung kesejahteraan hidup kita bersama dengan mereka,” tegas Nasaruddin dalam sambutannya.
Aksi Lingkungan di Madrasah, Pesantren, dan Sekolah
Menurut Nasaruddin, sinergi trilateral Kemenag, KLH, dan Kemendikdasmen strategis karena penyelamatan bumi memerlukan perpaduan regulasi pemerintah, kurikulum sekolah, dan landasan spiritual keagamaan.
“Dan inilah Kementerian Agama berusaha mendukung gagasan-gagasan ini, bagaimana supaya alam ini berkontribusi aktif untuk mendukung kesejahteraan anak-anak manusia,” pungkas Menag.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi tonggak awal bagi madrasah, pesantren, dan sekolah umum di seluruh Indonesia untuk bergerak secara serentak. Aksi yang didorong mencakup kebersihan, sanitasi, pemilahan sampah, serta konservasi air dan energi.
Melalui tahapan sadar, refleksi, komitmen, perubahan, aksi, pembiasaan, hingga mengakar menjadi budaya, Gerakan Tobat Ekologis diarahkan untuk membangun perilaku lingkungan yang berkelanjutan di satuan pendidikan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






