Headline.co.id, Pasuruan ~ Ponpes Al Yasini Pasuruan menunjukkan penguatan ekosistem pesantren melalui kemandirian ekonomi, program ramah lingkungan, dan layanan digital. Praktik tersebut dipaparkan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini Nanik Asnawati saat pesantren di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menerima kunjungan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Sabtu (10/10/2026). Pengembangan berbagai program itu dilakukan untuk menopang kesejahteraan lembaga, memperluas manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, serta memudahkan pengawasan terhadap santri.
Pesantren yang berdiri sejak 1940 tersebut kini mengasuh 4.561 santri. Nanik mengatakan Al Yasini terus berkomitmen merawat tradisi keilmuan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi modern.
Kopontren Al Yasini Miliki 19 Unit Retail
Salah satu penopang kemandirian Ponpes Al Yasini Pasuruan adalah pengembangan unit usaha melalui Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al Yasini. Unit usaha tersebut dikembangkan untuk menopang kesejahteraan pesantren dan masyarakat sekitar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Saat ini, Kopontren Al Yasini memiliki 19 unit retail, produk air minum dalam kemasan Al Yasini yang ada di hadapan Bapak, itu adalah milik kami sendiri, serta KSPPS dengan 10 kantor layanan,” papar Nanik.
Berkat pengembangan usaha tersebut, Kopontren Al Yasini meraih predikat Juara 1 Koperasi Berprestasi Jawa Timur kategori kopontren mandiri. Kopontren itu juga meraih Juara 1 Santripreneur Nasional kategori perdagangan pada 2026.
Menurut Nanik, keberhasilan usaha pesantren tidak hanya diukur dari pertumbuhan unit usaha, tetapi juga dari manfaat yang disalurkan kepada santri dan masyarakat.
“Manfaat usahanya disalurkan setiap tahun melalui beasiswa santri tahfidz, santri berprestasi, bantuan seragam, fasilitas belajar, dan sedikitnya 1.000 paket sembako kami bagikan setiap bulan Ramadan, penyaluran hewan kurban, serta bantuan pembangunan dan renovasi fasilitas masyarakat,” ungkapnya.
Al Yasini juga mengembangkan wakaf uang dan dana abadi melalui usaha produktif berbasis syariah. Pengembangan tersebut diarahkan untuk menopang pengabdian pesantren dalam jangka panjang hingga generasi mendatang.
Bangun Eco-Pesantren Berbasis Eco-Theology
Selain mengembangkan kemandirian ekonomi, Ponpes Al Yasini Pasuruan menjalankan program eco-pesantren berbasis eco-theology. Program ini mengintegrasikan kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari para santri.
“Pesantren memiliki peran untuk menanamkan kesadaran bahwa merawat alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Tuhannya,” jelas Nanik.
Praktik tersebut diterapkan melalui pengelolaan sampah, pembuatan kompos, penghematan air dan listrik, pemanfaatan lampu tenaga surya, pengolahan air limbah, serta biogas. Biogas di Al Yasini telah dikembangkan sejak delapan tahun lalu.
Program lingkungan itu mengantarkan Al Yasini diusulkan meraih penghargaan lingkungan hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur.
Pesantren juga menjalankan program penghijauan yang dimulai 15 tahun lalu. Saat itu, dilakukan penanaman serentak 75 pohon mangga dan kelengkeng. Kini, pohon-pohon tersebut telah berbuah dan dipanen langsung oleh para santri.
Layanan Digital Permudah Pengawasan Santri
Di bidang teknologi, Al Yasini mengoptimalkan layanan digital terintegrasi untuk mendukung pengawasan akademik dan keseharian santri.
“Dalam menghadapi pengembangan teknologi, kami juga mengembangkan pelayanan digital, aplikasi Al Yasini-U, untuk memudahkan wali santri memantau kesehatan, kedisiplinan, prestasi, kehadiran, serta perizinan putra-putrinya,” jelas Nanik.
Pesantren juga menyediakan aplikasi Saku untuk layanan transaksi nontunai berbasis kartu tanda santri. Sistem tersebut membantu orang tua mengatur batas pengeluaran anak.
Pengembangan layanan digital itu menjadi bagian dari upaya Al Yasini beradaptasi dengan teknologi modern, tanpa meninggalkan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.
Menag Dorong Penguatan Ekosistem Pesantren
Dalam kunjungannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mengawal keberlangsungan dan perkembangan pondok pesantren di seluruh Indonesia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui dorongan terhadap kemandirian pesantren dan peningkatan mutu pendidikan.
Menag juga menjelaskan keunggulan metodologi pembelajaran khas pesantren. Menurut dia, pendidikan pesantren tidak hanya mengandalkan deduksi akal dan konsentrasi, tetapi juga melatih santri mengasah intuisi, melakukan kontemplasi atau tafakkur, serta menjalankan penyucian jiwa atau tazkiyah.
“Di pondok pesantren, tazkiyah dulu baru ta’lim (penerimaan ilmu). Pembelajarannya bukan hanya deduksi akal, tetapi ada intuisi, kontemplasi, dan tazkiyah. Hal itulah yang mendatangkan keberkahan sehingga melahirkan tingkat kedalaman spiritual haqqun yaqin,” terang Menag di hadapan para santri.
Nasaruddin mengatakan pembentukan Ditjen Pesantren membawa amanah besar untuk memajukan ekosistem pesantren. Ia berharap lembaga tersebut dapat memperkuat peran Kementerian Agama dalam mengangkat martabat dan memajukan pondok pesantren di Indonesia, termasuk Ponpes Al Yasini.
“Melalui Ditjen Pontren ini, kita berharap agar Kemenag terus bisa lebih mengangkat martabat dan memajukan pondok pesantren di Indonesia, termasuk pesantren Al Yasini,” ucapnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















