Headline.co.id, Pekanbaru ~ Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Provinsi Riau mendorong pemerintah daerah memetakan kebutuhan rumah atau tenda oksigen di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Imbauan tersebut disampaikan Sekretaris PDPI Provinsi Riau, Indra Yovi, di Kota Pekanbaru, Kamis (8/10/2026). Fasilitas itu diperlukan untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan, terutama ketika konsentrasi partikulat halus PM2.5 dalam asap meningkat.
Selain menyiapkan fasilitas oksigen, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Riau diminta meningkatkan distribusi masker serta edukasi penggunaannya. Indra juga meminta pemerintah tidak ragu membatasi kegiatan luar ruangan dan memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) apabila kualitas udara masih berada pada tingkat yang membahayakan kesehatan.
Kelompok rentan paling terdampak asap karhutla Riau
Indra mengatakan dampak asap karhutla akan lebih terasa pada kelompok rentan, yakni bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru dan saluran pernapasan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kelompok tersebut mencakup penderita asma, tuberkulosis (TB), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, sinusitis, dan rinitis. Menurut Indra, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat seiring tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5 dalam asap karhutla.
Ia juga menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan bronkitis, baik rawat jalan maupun rawat inap, meningkat pada Agustus dan September dibandingkan Mei, Juni, dan Juli.
“Paparan asap yang terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada orang-orang yang menderita asma, bronkiektasis dan PPOK. Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudah terjadinya infeksi baru dan penurunan fungsi paru. Pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas,” kata Indra.
PDPI minta pemetaan rumah oksigen
Atas kondisi tersebut, PDPI Riau meminta pemerintah daerah mulai mempersiapkan fasilitas yang dapat memberikan bantuan oksigen bagi warga yang membutuhkan. Pemetaan dinilai penting agar kebutuhan rumah atau tenda oksigen dapat disiapkan di daerah yang diperlukan.
“Pemprov, Pemkab dan Pemko Se-Riau sebaiknya sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan Rumah Oksigen/Tenda Oksigen yang nantinya bisa diperuntukkan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen,” ujar Indra.
Indra juga meminta pemerintah terus mengevaluasi kegiatan belajar dari rumah. Menurut dia, pembatasan aktivitas di luar ruangan perlu dilakukan apabila kualitas udara telah berada pada level yang membahayakan kesehatan.
“Termasuk juga selalu mengevaluasi PJJ bagi sekolah, dan jangan ragu memperpanjang PJJ seandainya kondisi udara masih pada level berbahaya untuk kesehatan,” katanya.
Masker N95 dan air purifier direkomendasikan
Untuk mengurangi paparan partikulat asap, PDPI Riau merekomendasikan penggunaan masker N95 karena memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel halus. Namun, Indra menyebut masker bedah masih dapat digunakan dalam kondisi saat ini karena masker N95 kadang sulit didapat dan harganya relatif mahal.
“Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup, karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal,” katanya.
PDPI Riau juga merekomendasikan penggunaan air purifier di dalam ruangan apabila asap masuk ke rumah. Perangkat tersebut dapat membantu mengurangi polusi udara di dalam ruangan.
Sementara itu, aktivitas olahraga di luar rumah, seperti bersepeda dan joging, disarankan ditunda selama kondisi udara belum membaik. “Aktifitas olahraga diluar rumah seperti bersepeda ataupun jogging dengan kondisi sekarang sebaiknya ditunda,” kata Indra.
Imbauan menjaga kesehatan
Masyarakat diminta mencukupi kebutuhan cairan serta mengonsumsi makanan sehat dan bergizi selama terpapar asap. “Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi,” ujarnya.
Indra secara khusus mengimbau kelompok rentan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Lansia dan masyarakat yang memiliki penyakit paru atau saluran pernapasan disarankan menghindari aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum membaik.
“Kelompok rentan seperti lansia, mereka yang memiliki penyakit paru sebaiknya menghindari aktivitas diluar rumah,” katanya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






