Headline.co.id, Jakarta ~ Produksi padi nasional pada Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS). Angka tersebut naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Data itu disampaikan BPS pada Selasa (6/10/2026) di Jakarta ketika sektor pertanian menghadapi perubahan cuaca dan potensi El Nino yang dapat meningkatkan risiko kekeringan. Pertumbuhan produksi tetap terjadi karena penghitungan luas panen dan produktivitas telah menggunakan data final, sementara pemerintah memperkuat pengelolaan air dan pompanisasi di wilayah yang mengalami keterbatasan air.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng H,artono mengatakan, produksi padi 2026 hingga Agustus tersebut merupakan angka tetap. Status itu ditetapkan karena data luas panen dan produktivitas padi pada periode tersebut telah selesai dihitung menggunakan data final.
“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (6/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Luas Panen Padi Naik 0,11 Persen
Kenaikan produksi padi 2026 hingga Agustus juga diikuti pertumbuhan luas panen. BPS mencatat luas panen padi pada Januari-Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Luas panen padi pada Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare atau naik sebesar 0,11 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.
Pertumbuhan produksi padi tersebut turut menopang ketersediaan beras untuk konsumsi masyarakat. Pada periode yang sama, produksi beras tercatat mencapai 25,29 juta ton atau meningkat 0,07 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.
“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujarnya.
Produksi Padi Dihadapkan pada Potensi El Nino
Capaian produksi tersebut berlangsung ketika sektor pertanian perlu mengantisipasi perubahan kondisi iklim. Potensi El Nino yang diperkirakan terjadi dengan intensitas kuat dapat meningkatkan risiko kekeringan dan memengaruhi ketersediaan air untuk lahan pertanian.
Untuk menjaga produksi tetap berjalan, pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air sehingga petani dapat mempertahankan aktivitas produksi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan petani menghadapi tantangan produksi seorang diri. Pemerintah, kata dia, terus turun langsung untuk memperkuat dukungan sarana produksi sekaligus menjaga ketersediaan air bagi pertanian.
“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” tegas Mentan Amran.
Data Produksi September-November Masih Berstatus Potensi
BPS menyatakan data produksi pada periode berikutnya masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan. Data produksi September-November 2026 saat ini masih berstatus angka potensi, sedangkan data produktivitas masih berupa angka sementara.
Sejumlah faktor dapat memengaruhi realisasi produksi pada periode tersebut. Faktor itu meliputi perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen.
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra masih memiliki potensi panen pada September-November 2026. Wilayah tersebut mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Di Jawa Barat, potensi panen lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Di Jawa Timur, potensi panen tercatat di Ngawi.
Sementara itu, sejumlah sentra di Sulawesi meliputi Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai. Potensi panen di wilayah-wilayah tersebut menjadi bagian dari perkembangan produksi padi nasional hingga akhir 2026 yang masih dipengaruhi kondisi cuaca dan pertanaman di lapangan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















