Headline.co.id, Blora ~ Kemarau ekstrem di Blora memaksa perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, mengangkut air sejauh hampir 2 kilometer untuk menjaga produksi tetap berjalan. Kondisi ini terjadi karena tanah sebagai bahan baku mengeras akibat cuaca panas dan harus disiram sebelum dicetak. Para perajin mengambil air dari sebuah sumur sendang menggunakan sepeda motor dan jerigen. Meski menghadapi kesulitan air, Sarmidi bersama istrinya tetap memproduksi sedikitnya 700 batu bata merah per hari.
Krisis air yang melanda Kabupaten Blora tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menyulitkan sektor usaha mikro, termasuk industri rumahan batu bata merah. Di Desa Sendangmulyo, para perajin harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan agar proses produksi tidak berhenti.
Air diperlukan untuk melembekkan tanah yang menjadi bahan utama batu bata. Tanah yang terpapar cuaca panas dalam waktu lama menjadi keras sehingga tidak dapat langsung dicetak. Karena itu, para perajin mengambil air dari sumur sendang yang lokasinya cukup jauh dari tempat produksi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Perajin Angkut Tiga Jerigen Setiap Perjalanan
Setiap kali mengambil air, para perajin menggunakan sepeda motor untuk membawa tiga jerigen besar. Jarak lokasi pembuatan batu bata dan sumber air mencapai hampir 2 kilometer.
Langkah tersebut dilakukan berulang untuk memenuhi kebutuhan air dalam proses pengolahan tanah. Tanpa penyiraman, material tanah tidak memiliki tekstur yang cukup lunak untuk dicetak menjadi batu bata merah.
Salah satu perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Sarmidi, mengatakan kekeringan berkepanjangan membuat proses produksi menjadi lebih sulit. Ia menyebut ketersediaan air yang terbatas harus dihadapi bersamaan dengan kondisi tanah yang mengeras.
“Kondisinya memang sulit sekali karena air susah didapat. Padahal tanahnya keras, kalau tidak disiram tidak bisa dicetak,” ujar Sarmidi saat ditemui di lokasi produksinya, Sabtu (3/10/2026).
Untuk mempertahankan kegiatan usaha, Sarmidi tetap bekerja bersama istrinya. Keduanya memaksakan diri melanjutkan produksi meski harus mengangkut air dari sumber yang berjarak hampir 2 kilometer.
Produksi Tetap Berjalan di Tengah Kekeringan
Dengan bantuan sang istri, Sarmidi mampu mencetak sedikitnya 700 biji batu bata merah dalam sehari. Produksi itu dilakukan di tengah keterbatasan air yang membuat tahapan awal pengolahan bahan baku membutuhkan tenaga ekstra.
Kemarau ekstrem di Blora, menurut Sarmidi, memiliki dampak yang berbeda terhadap setiap tahapan produksi batu bata. Kesulitan memperoleh air menjadi kendala utama saat menyiapkan tanah, tetapi panas matahari justru mempercepat proses penjemuran.
Batu bata merah yang masih mentah dapat dikeringkan lebih cepat dibandingkan saat musim penghujan. Kondisi tersebut membuat siklus produksi, termasuk hingga tahap pembakaran, menjadi lebih singkat.
Pengeringan di bawah terik matahari juga membuat kualitas batu bata merah produksi Sarmidi tergolong baik. Produk tersebut kemudian diminati pasar dan diambil langsung oleh toko bangunan maupun pengepul yang datang ke lokasi pembuatan.
“Batu bata yang saya produksi biasanya langsung diambil oleh pihak toko bangunan maupun pengepul yang datang langsung ke lokasi pembuatan,” kata Sarmidi.
Permintaan Batu Bata Tetap Tinggi
Dalam satu siklus pembakaran berskala besar, Sarmidi mampu menghasilkan hingga 13.000 biji batu bata merah siap jual. Produksi itu digunakan untuk memenuhi permintaan bahan bangunan di wilayah Blora dan sekitarnya.
Situasi tersebut menunjukkan dampak kemarau ekstrem terhadap perajin batu bata tidak sepenuhnya bersifat negatif. Di satu sisi, keterbatasan air dan tanah yang mengeras memperberat proses produksi. Di sisi lain, cuaca panas mempercepat pengeringan dan mempersingkat waktu menuju pembakaran.
Bagi Sarmidi, keberlangsungan produksi tetap bergantung pada kemampuan memenuhi kebutuhan air untuk mengolah tanah. Karena sumber air berada cukup jauh, pengangkutan menggunakan sepeda motor dan tiga jerigen menjadi bagian dari rutinitas para perajin selama kemarau berlangsung.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















