Headline.co.id, Sleman ~ Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinsos DIY) bersama Pemerintah Kalurahan Donoharjo menggelar sarasehan penguatan nilai kesetiakawanan untuk membendung dampak negatif globalisasi. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kalurahan Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis (1/10/2026). Sarasehan itu mengangkat tema “Penguatan Nilai Kesetiakawanan, Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa-Yogyakarta dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial”. Forum ini ditempuh dengan menghidupkan kembali nilai tepa selira, kerukunan, dan gotong royong sebagai pijakan menghadapi degradasi moral serta melemahnya kepedulian sosial.
Restorasi Sosial untuk Hadapi Dampak Globalisasi
Sarasehan tersebut dirancang untuk membahas ancaman degradasi moral yang dinilai mulai menggerus nilai-nilai kepedulian di tengah masyarakat. Dinsos DIY dan Pemerintah Kalurahan Donoharjo menempatkan restorasi sosial berbasis budaya Jawa-Yogyakarta sebagai salah satu pendekatan dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Mantan Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, hadir sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa modernisasi memiliki dua sisi. Di satu sisi, modernisasi membawa kemajuan pada sistem material manusia. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut dapat diikuti kemunduran kualitas interaksi sosial yang berujung pada memudarnya muruah kesetiakawanan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Konsep restorasi sosial muncul karena kita mengakui bahwa posisi kehidupan sosial sedang mengalami degradasi. Dengan demikian, kita harus memiliki pijakan untuk melakukan perbaikan,” tegas Endang.
Menurut Endang, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai toleransi dan kepedulian tanpa pamrih. Penguatan tersebut dinilai penting agar perkembangan zaman tidak semakin menjauhkan masyarakat dari hubungan sosial yang saling menghargai.
Patologi Sosial Membayangi Yogyakarta
Endang menyebut urgensi restorasi sosial semakin terlihat ketika dikaitkan dengan sejumlah patologi sosial yang membayangi Yogyakarta. Persoalan tersebut meliputi kemiskinan, perilaku antisosial, kekerasan remaja berkelompok, hingga maraknya kriminalitas jalanan.
Rangkaian persoalan itu menjadi perhatian dalam sarasehan karena berkaitan dengan melemahnya nilai kepedulian dan kesetiakawanan. Forum tersebut tidak hanya membahas dampak perubahan sosial, tetapi juga mengarahkan masyarakat untuk mencari pijakan perbaikan yang bersumber dari nilai-nilai lokal.
Dalam konteks itu, budaya Jawa-Yogyakarta dipandang memiliki kearifan lokal yang dapat menjadi penangkal terhadap kemunduran kualitas interaksi sosial. Nilai-nilai tersebut diarahkan untuk kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Nilai Tepa Selira Ditanamkan dari Keluarga
Endang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali berpegang teguh pada kearifan lokal budaya Jawa-Yogyakarta yang adiluhung. Nilai tepa selira, kerukunan, dan gotong royong diamanatkan untuk ditanamkan sejak dini, dimulai dari ruang lingkup keluarga terkecil.
Penanaman nilai dari keluarga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran kolektif. Dari lingkungan tersebut, kepedulian dan toleransi diharapkan dapat tumbuh sebelum berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui kesadaran kolektif yang dibangun dalam sarasehan, tatanan masyarakat diyakini dapat bertransformasi menjadi ekosistem yang beradab, saling menghargai, dan tangguh di tengah derasnya perubahan zaman.
Kegiatan di Kalurahan Donoharjo itu menegaskan kembali pentingnya restorasi sosial sebagai pijakan perbaikan kehidupan sosial. Dinsos DIY bersama pemerintah kalurahan mendorong agar kemajuan teknologi dan modernisasi tetap berjalan beriringan dengan penguatan budaya, toleransi, serta kepedulian tanpa pamrih.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















