Headline.co.id, Pariaman ~ Sebanyak 200 anak terdampak bencana dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Pariaman mengikuti kegiatan seni lukis untuk memulihkan kondisi psikososial mereka. Kegiatan tersebut digelar melalui pameran karya di KiN Space, SCBD Park Lot 7A, dan dibuka Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A. Muhaimin Iskandar. Seni lukis dipilih sebagai ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman sulit sekaligus membangun kembali kepercayaan diri setelah menghadapi bencana.
Muhaimin, seperti dikutip pada Kamis (1/10/2026), mengatakan karya anak-anak tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium untuk mengolah pengalaman sulit menjadi karya yang memiliki nilai dan makna. Menurut dia, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan rumah, lingkungan, dan fasilitas umum.
“Luar biasa, anak-anak yang lahir dari keadaan sulit bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Semoga karya-karya ini menambah semangat kalian untuk terus meningkatkan potensi seni dan menjadi bagian dari kemajuan kreativitas di Indonesia,” ujar Muhaimin saat membuka pameran karya lukis anak-anak Aceh Tamiang dan Pariaman.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Seni Lukis Jadi Ruang Pemulihan Anak Terdampak Bencana
Muhaimin mengatakan anak-anak yang terdampak bencana membutuhkan ruang untuk memproses pengalaman, mengekspresikan perasaan, dan membangun kembali kepercayaan diri. Kegiatan kreatif dinilai dapat menyediakan ruang yang aman untuk menuangkan cerita dan pengalaman yang terkadang sulit disampaikan melalui kata-kata.
Atas dasar itu, ia melihat seni lukis sebagai salah satu pendekatan dalam pemulihan psikososial anak terdampak bencana. Seni tidak hanya dipandang sebagai aktivitas kreatif, tetapi juga sebagai sarana untuk membantu anak melepaskan beban emosional setelah menghadapi situasi sulit.
“Bahkan, ini bisa diusulkan menjadi kurikulum penanggulangan bencana, di mana salah satu menu pokok bagi anak-anak adalah melepaskan kelelahan jiwa mereka melalui melukis,” kata Muhaimin.
Menurut Muhaimin, ruang pemulihan tersebut juga dapat berkembang menjadi bagian dari upaya pemberdayaan yang lebih luas. Kreativitas anak-anak dapat terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai sarana ekspresi, tetapi menjadi bekal untuk mengenal dan memasuki ekosistem ekonomi kreatif pada masa depan.
Karya Anak Aceh Tamiang dan Pariaman Dinilai Punya Karakter
Muhaimin mengapresiasi lukisan anak-anak dari Aceh Tamiang dan Pariaman karena dinilai memiliki cerita dan karakter kuat. Karya-karya itu lahir dari pengalaman nyata sehingga memperlihatkan bahwa kreativitas tetap dapat tumbuh di tengah situasi yang sulit.
Ia menilai pengalaman manusia memiliki kekuatan penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi dapat menghasilkan karya dengan cepat, tetapi pengalaman, cerita, dan emosi manusia menjadi unsur yang membuat sebuah karya memiliki jiwa.
“Lukisan yang hidup seperti ini sangat perlu di era sekarang untuk mengimbangi lukisan Artificial Intelligence (AI) yang mungkin cepat dan bagus, namun terasa kering dan tidak memiliki jiwa,” ujarnya.
Dari Pemulihan Trauma ke Ekonomi Kreatif
Muhaimin menyebut ekonomi kreatif sebagai salah satu kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, karya masyarakat perlu mendapat ruang apresiasi sekaligus akses agar dapat terus berkembang dan memiliki nilai tambah.
Dalam konteks tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat memiliki tugas memastikan berbagai program kementerian dan lembaga terkoordinasi serta menghasilkan kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ekonomi kreatif, kata dia, perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah karya anak bangsa.
Muhaimin juga menyambut gagasan agar lukisan karya anak-anak tersebut dipamerkan di ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan. Dengan demikian, semakin banyak masyarakat dapat mengenal dan mengapresiasi kreativitas mereka.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus mendukung pemulihan Aceh Tamiang dan Pariaman, baik dari sisi lingkungan maupun kebangkitan ekonomi masyarakat. Dukungan itu diharapkan dapat memperluas manfaat kegiatan seni bagi anak-anak dan lingkungan mereka.
“Ini adalah sejarah panjang, dari pemulihan trauma hingga menjadi kekuatan ekonomi. Seni adalah medium untuk memproses pengalaman sekaligus membangun kepercayaan diri yang akan melahirkan seniman-seniman unggul di tanah air,” tutur Muhaimin.
Ia berharap 200 anak tersebut terus mengembangkan kepercayaan diri dan kreativitas. Menurutnya, karya yang mereka hasilkan menjadi bukti bahwa dari situasi sulit dapat tumbuh potensi baru yang kelak memberi manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan Indonesia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















