Headline.co.id, Jakarta ~ Pemberian protein anak secara berlebihan tidak membuat pertumbuhannya otomatis lebih tinggi, bahkan berpotensi mengganggu kinerja ginjal. Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan, menyampaikan hal itu menanggapi kebiasaan sebagian orang tua menggandakan porsi protein hewani, terutama saat anak mulai mendapat makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Menurut Aman, anak membutuhkan protein dalam jumlah cukup dan gizi seimbang, bukan asupan protein yang berlebihan. Ia juga menganjurkan orang tua berkonsultasi dengan dokter anak jika mengkhawatirkan tumbuh kembang buah hati.
Aman mengatakan, ia pernah menangani anak yang mengonsumsi protein sebanyak 400-500 gram per hari. Alih-alih membuat anak cepat gemuk atau tinggi, asupan tersebut justru merusak kinerja ginjal.
“Saya tidak tahu dari mana ilmu yang menyebut kalau memberi banyak protein itu buat anak jadi tinggi. Yang benar adalah memberikan anak protein yang cukup, itu yang betul,” ujar Aman, dikutip dari , Sabtu (26/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Protein Anak Harus Sesuai Kebutuhan
Menurut Aman, manusia secara genetik tidak terbiasa bekerja keras untuk menyaring lebih banyak sisa makanan yang mengandung protein, terutama protein dari daging. Karena itu, pola makan anak tidak seharusnya hanya berfokus pada pemenuhan protein.
Anak juga membutuhkan berbagai zat gizi lain, seperti karbohidrat, vitamin, mineral, dan lemak. Kekurangan protein memang dapat mengarah pada malnutrisi, tetapi kelebihan protein tidak serta-merta membuat tinggi badan anak bertambah.
“Memang kalau anak kita kekurangan protein, ada yang mengarah pada malnutrisi namanya. Tapi bukan berarti, kalau kita kasih protein berlebihan, anak akan lebih tinggi. Tidak begitu,” tuturnya.
Aman menyarankan orang tua menghadirkan makanan yang bervariasi dalam satu piring agar kebutuhan gizi anak lebih seimbang. Sumber protein pun tidak harus selalu berasal dari bahan pangan hewani, seperti daging sapi, ayam, ikan, atau telur.
Protein nabati dari tempe dan tahu dapat menjadi pilihan. Jika memilih protein hewani, orang tua juga tidak harus membeli bahan makanan yang mahal, seperti daging sapi atau ikan salmon. Menurut Aman, Indonesia memiliki beragam jenis ikan dengan kandungan nutrisi baik dan harga yang lebih terjangkau, salah satunya ikan kembung.
Susu dan Vitamin Tidak Otomatis Menambah Tinggi
Aman juga tidak sependapat dengan anggapan bahwa susu dan suplemen minyak ikan harus dikonsumsi setiap hari agar anak tumbuh lebih tinggi. Susu segar memang baik bagi tubuh karena mengandung kalsium, tetapi susu tidak harus dikonsumsi setiap hari.
Jika ingin diberikan setiap hari, jumlahnya cukup satu hingga dua gelas. Aman menegaskan, dua tahun pertama kehidupan anak harus diutamakan untuk mendapatkan ASI. Setelah berusia lebih dari satu tahun, anak boleh mendapat tambahan susu, misalnya susu segar, bukan susu formula.
“Yang jelas, dua tahun pertama itu harus ASI. Kalau anak mau tambahan susu di atas usia 1 tahun boleh, misalnya fresh milk, bukan susu formula. Kenapa tidak apa-apa kalau tidak ada? karena usia satu tahun anak sudah ikut makanan rumah tangga,” jelasnya.
Vitamin D biasanya dibutuhkan agar penyerapan kalsium berjalan baik. Kekurangan kalsium dan vitamin D dapat membuat anak berpotensi mengalami tubuh pendek. Namun, pemberian kalsium atau vitamin D secara berlebihan pada anak dengan kondisi normal tidak akan membuat tinggi badan meningkat secara tiba-tiba.
“Tetapi kalau normal, dikasih kalsium atau vitamin D berlebihan, itu tidak akan membuat tiba-tiba tinggi. Apa yang membuatnya tinggi? Hidup sesehat dan seideal mungkin, tidur cukup, olahraga cukup, makan cukup, dan bahagia,” kata Aman.
Pertumbuhan Anak Perlu Dipantau dari Waktu ke Waktu
Bagi orang tua yang khawatir terhadap tumbuh kembang anak, Aman menganjurkan pemeriksaan oleh dokter anak. Pemeriksaan diperlukan agar obat atau vitamin yang diberikan sesuai dengan kondisi anak, bukan berdasarkan perkiraan atau pemberian berbagai suplemen sekaligus.
“Jadi pemeriksaan harus detail, misalnya anak kekurangan kalsium, kita kasih seluruh vitamin itu kan tidak bisa, harus kita kasih vitamin D, apalagi tulang juga bisa keropos, patah-patah misalnya, tidak bisa dikasih hal-hal lain,” jelasnya.
Aman menambahkan, hambatan pertumbuhan tinggi badan tidak selalu berkaitan dengan kekurangan nutrisi. Sejumlah faktor lain juga dapat berperan, termasuk gangguan hormonal seperti growth hormone deficiency (GHD), small for gestational age (SGA), dan hipotiroidisme.
Faktor genetik juga bisa memengaruhi pertumbuhan anak. Salah satunya adalah sindrom Turner, yang disebut memiliki prevalensi sekitar 1 banding 1.500-2.000 pada kelahiran bayi perempuan.
Karena itu, penilaian tumbuh kembang tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat tinggi badan anak pada satu waktu. “Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu,” ujar Aman.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















