Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong para imam dan pemimpin agama menggunakan pendekatan keagamaan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pesan itu disampaikan saat Nasaruddin menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026). Dalam khutbah tersebut, ia menilai pendekatan keagamaan diperlukan karena kerusakan alam telah mencapai ambang yang sangat membahayakan. Menurutnya, pesan menjaga lingkungan perlu disampaikan melalui bahasa agama agar lebih menyentuh kesadaran batin dan moral masyarakat.
“Mari juga menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan diri kita untuk tidak gampang merusak alam. Perusakan alam sudah masuk pada ambang yang sangat membahayakan sekarang ini. Mari kita menyentuh mereka dengan menggunakan bahasa agama agar betul-betul memelihara alam semesta ini,” ujar Menag.
Pesan mengenai pendekatan keagamaan untuk menjaga lingkungan itu disampaikan dalam rangkaian International Grand Imam Conference 2026. Pertemuan tersebut diikuti lebih dari 40 imam besar dari berbagai negara.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Dalam khutbahnya, Nasaruddin mengangkat dua tema yang dinilai penting bagi masa depan bersama, yaitu diplomasi keagamaan dan teologi lingkungan atau ekoteologi. Ia menyampaikan bahwa peran agama tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga dapat mendorong tanggung jawab manusia dalam merawat alam.
Pendekatan keagamaan untuk jaga lingkungan
Menurut Menag, persoalan lingkungan tidak cukup dihadapi hanya melalui pendekatan teknis dan regulasi. Kesadaran keagamaan dinilai dapat menjadi bagian dari upaya membangun tanggung jawab manusia terhadap alam karena menyentuh dimensi batin dan moral masyarakat.
Pendekatan tersebut, kata dia, dapat digunakan para pemimpin agama untuk menerjemahkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam nilai-nilai yang lebih mudah dipahami dan diamalkan oleh masyarakat. Dengan cara itu, upaya menjaga alam tidak berhenti pada aturan, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran kehidupan sehari-hari.
Nasaruddin mengaitkan kelestarian lingkungan dengan terciptanya kehidupan yang damai. Ia menilai kondisi alam yang terjaga merupakan salah satu syarat penting bagi manusia untuk hidup damai di muka bumi.
Sebaliknya, eksploitasi alam yang melampaui batas dapat menimbulkan dampak serius bagi kehidupan manusia. Ia mengingatkan bahwa perusakan lingkungan berpotensi mempercepat datangnya bencana besar.
“Jika kita ingin hidup damai di muka bumi ini, persyaratannya adalah kita harus merawat dan memelihara alam. Tapi sebaliknya, jika kita melakukan perusakan alam, mengeksploitasi alam melampaui batas, maka kita sesungguhnya akan mengundang kiamat itu akan datang lebih awal,” katanya.
Peran strategis imam
Menag menilai imam memiliki posisi strategis dalam menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat. Kedekatan imam dengan umat dan legitimasi keagamaan yang dimiliki menjadi modal untuk membangun kepedulian terhadap alam.
Pesan tersebut dapat disampaikan melalui nilai-nilai agama yang dikenal dan dipahami oleh umat. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan diharapkan tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral dan keagamaan.
Dalam khutbahnya, Menag sebelumnya juga menjelaskan bahwa peran imam di era modern tidak terbatas pada kepemimpinan ibadah. Imam dapat menjalankan fungsi sebagai pendidik perdamaian, pembangun jembatan antarkomunitas, dan diplomat masyarakat.
Peran itu, menurutnya, juga mencakup dorongan terhadap kepedulian lingkungan. Imam dapat ikut membangun kesadaran umat mengenai hubungan kelestarian alam, kehidupan manusia, dan perdamaian.
Harapan dari pertemuan imam besar dunia
Nasaruddin berharap pertemuan para imam besar dunia di Jakarta menghasilkan kesepakatan mengenai diplomasi keagamaan. Ia juga berharap forum tersebut memperkuat kesadaran bersama mengenai tanggung jawab manusia dalam menjaga alam.
Pertemuan itu menjadi ruang untuk membahas penggunaan nilai-nilai keagamaan dalam menghadapi persoalan kemanusiaan, termasuk kerusakan lingkungan. Para imam dan pemimpin agama diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat melalui pesan-pesan yang dekat dengan kehidupan umat.
“Di sinilah peranan penting hari ini, kita berkumpul bagaimana menggunakan bahasa agama untuk membangkitkan kesadaran kemanusiaan pada kita semuanya di kolong penghuni langit Tuhan Yang Maha Kuasa ini,” tandas Menag.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















