Headline.co.id ~ Minum urine untuk bertahan hidup di laut tidak selalu membantu mengatasi dehidrasi. Hal itu kembali menjadi perhatian setelah Esau Sidemo, nelayan berusia 57 tahun asal Desa Bido, Ternate, bertahan selama 26 hari di tengah laut setelah perahunya mati mesin pada 7 Juli lalu. Ia terbawa sekitar 800 mil ke Samudra Pasifik dengan bekal satu liter air mineral tanpa persediaan makanan. Selama terombang-ambing, Esau memakan kelapa yang hanyut, ikan, dan burung, memanfaatkan air hujan, serta mengaku sempat meminum air laut dan urinenya sendiri.
Kisah tersebut mengingatkan pada situasi orang terdampar yang meminum urine ketika tidak lagi memiliki sumber air. Namun, cairan yang terlihat dapat dikembalikan ke tubuh itu justru berpotensi memperburuk dehidrasi, terutama jika diminum berulang kali saat tubuh sudah kekurangan cairan.
Mengapa Minum Urine Tidak Mengatasi Dehidrasi?
Melansir Poison Control, urine manusia terdiri dari sekitar 95 persen air. Sisanya mengandung urea, kreatinin, elektrolit, dan berbagai produk sisa metabolisme lainnya.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ginjal menyaring darah untuk mempertahankan air dan zat yang masih dibutuhkan tubuh. Pada saat yang sama, ginjal membuang kelebihan cairan, elektrolit, serta produk sisa metabolisme melalui urine.
Karena itu, ketika urine diminum kembali, tubuh memang memperoleh sebagian air. Akan tetapi, tubuh juga menerima kembali zat-zat yang sebelumnya sedang dikeluarkan oleh ginjal.
Masalahnya menjadi lebih besar ketika seseorang mengalami dehidrasi. Dalam kondisi tersebut, tubuh berusaha mempertahankan cairan sebanyak mungkin. Ginjal kemudian menghasilkan urine yang lebih pekat sehingga lebih sedikit air terbuang. Semakin parah dehidrasi, urine cenderung semakin pekat.
Jika urine pekat itu diminum kembali, urea dan elektrolit di dalamnya harus kembali diproses serta dikeluarkan oleh ginjal. Kondisi ini dapat memicu osmotic diuresis, yakni keadaan ketika konsentrasi zat terlarut yang tinggi mendorong tubuh mengeluarkan lebih banyak air melalui urine.
Akibatnya, cairan yang diperoleh dari minum urine tidak selalu sebanding dengan cairan yang kemudian hilang saat tubuh membuang kembali zat-zat tersebut. Dalam kondisi kekurangan air, tubuh membutuhkan air bebas, bukan cairan yang membawa kembali produk sisa metabolisme.
Kasus Dehidrasi Berat Setelah Minum Urine
Dampak konsumsi urine berulang kali juga tercatat dalam laporan kasus yang diterbitkan di Frontiers in Medicine pada 2022. Laporan itu menggambarkan seorang pria berusia 40 tahun yang meminum urinenya sendiri selama lima hari karena tidak memiliki akses terhadap makanan dan air.
Saat ditemukan, pria tersebut mengalami dehidrasi berat, hipernatremia atau kadar natrium yang sangat tinggi dalam darah, serta cedera ginjal akut. Peneliti menduga kondisi itu tidak hanya disebabkan oleh kekurangan air, tetapi juga tingginya beban urea akibat konsumsi urine.
Urea tersebut dapat mendorong terjadinya osmotic diuresis sehingga semakin banyak air bebas hilang dari tubuh. Pasien itu kemudian mendapat perawatan dan cairan di rumah sakit.
Urine juga tidak dianjurkan untuk diminum karena mengandung produk sisa metabolisme dan dapat mengandung bakteri. Meski demikian, konsumsi urine dalam jumlah kecil secara tidak sengaja umumnya tidak serta-merta menyebabkan keracunan atau kerusakan ginjal.
Air Laut Juga Dapat Memperparah Dehidrasi
Dalam situasi terdampar di laut, seseorang mungkin menganggap air laut dan urine sama-sama cairan yang bisa digunakan untuk menghilangkan rasa haus. Padahal, keduanya dapat memperburuk keadaan.
Urine menjadi semakin pekat ketika tubuh mengalami dehidrasi. Sementara itu, air laut memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Ginjal tidak dapat membuang seluruh garam tersebut tanpa kehilangan air dalam prosesnya.
Karena itu, meminum air laut untuk mengatasi rasa haus justru dapat memperparah dehidrasi. Risiko minum urine juga meningkat ketika dilakukan secara sengaja dan berulang kali, terutama saat seseorang telah kekurangan air serta tidak memiliki sumber cairan lain.
Tidak Ada Angka Pasti untuk Bertahan dengan Minum Urine
Tidak ada angka pasti yang dapat digunakan untuk menyatakan seseorang mampu bertahan hidup selama sekian hari hanya dengan meminum urine. Kemampuan bertahan hidup setiap orang bergantung pada kondisi tubuh, suhu lingkungan, aktivitas fisik, jumlah cairan yang hilang, akses terhadap air hujan atau sumber cairan lain, serta kondisi medisnya.
Dengan demikian, pengalaman Esau Sidemo selama 26 hari di laut tidak dapat dijadikan patokan bahwa minum urine merupakan cara yang aman atau efektif untuk bertahan hidup. Kondisi tubuh dan lingkungan setiap orang berbeda, sementara konsumsi urine berulang kali dapat menambah beban bagi ginjal dan mempercepat kehilangan cairan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















