Headline.co.id, Kubu Raya ~ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya mencatat 22 titik panas atau hotspot kategori sedang pada Selasa (22/9/2026). Sebagian besar hotspot tersebut terdeteksi di Kecamatan Batu Ampar, wilayah selatan Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus menangani sejumlah lokasi dengan dukungan personel TNI dan masyarakat setempat. Penanganan dilakukan untuk memadamkan titik api serta mempercepat pengendalian karhutla di wilayah terdampak.
Kepala BPBD Kubu Raya Arianto mengatakan upaya pemadaman masih berlangsung secara intensif. Personel gabungan dikerahkan untuk menangani titik api yang terdeteksi di sejumlah lokasi.
“Kita terus berupaya memadamkan titik api yang dibantu oleh personel TNI dari Kodim dan dibantu masyarakat setempat,” ujar Arianto di Sungai Raya, Selasa (22/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Penanganan 22 Hotspot Terus Dilakukan
Arianto menjelaskan, unsur terkait di lapangan tetap melakukan penanganan karhutla secara intensif. Dukungan personel TNI dari Kodim dan masyarakat menjadi bagian dari upaya pemadaman yang dilakukan Satgas Karhutla.
BPBD Kubu Raya mencatat 22 hotspot berada dalam kategori sedang. Lokasi hotspot tersebut sebagian besar berada di Kecamatan Batu Ampar yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Kubu Raya.
Dalam penanganan tersebut, Satgas Karhutla berfokus pada pemadaman titik api di sejumlah lokasi. Upaya itu dilakukan bersama unsur terkait agar kebakaran dapat ditangani di lapangan.
Dana Banpres Rp20 Miliar Belum Digunakan
Selain menyampaikan perkembangan penanganan hotspot, Arianto menyebut dana bantuan presiden sebesar Rp20 miliar yang dialokasikan untuk mendukung penanganan karhutla hingga kini belum digunakan.
Menurut dia, dana tersebut direncanakan untuk mendukung sejumlah kebutuhan penanganan karhutla. Kebutuhan itu mencakup insentif petugas pemadam, operasional karhutla, serta sarana dan prasarana.
“Dana Banpres belum sama sekali digunakan. Sebagian dana itu memang digunakan untuk insentif petugas pemadam, operasional karhutla, sarana dan prasarana karhutla,” terangnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah penanganan 22 hotspot yang masih dilakukan di Kabupaten Kubu Raya. BPBD menyatakan unsur terkait tetap bergerak di lapangan untuk menangani titik api.
47 Kelompok Masyarakat Peduli Api
Peran masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla juga ditunjukkan melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Kelompok tersebut dibentuk di sejumlah desa maupun kawasan perkebunan di Kabupaten Kubu Raya.
Hingga saat ini, tercatat terdapat 47 kelompok MPA di Kabupaten Kubu Raya. Kelompok-kelompok tersebut berperan dalam melaporkan potensi kebakaran kepada pihak terkait.
Arianto mengatakan, salah satu desa di Sungai Raya sedang melaksanakan pelatihan MPA. Pelatihan tersebut diberikan oleh Manggala Agni.
“Seperti hari ini ada desa di Sungai Raya yang sedang melakukan pelatihan dan pelatihannya dari Manggala Agni. Hanya saja yang MPA ini bersifat melapor saja, dan sejauh ini sudah ada 47 MPA,” katanya.
Pelatihan itu diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan melaporkan potensi kebakaran. Dengan laporan yang lebih cepat, penanganan terhadap titik api dapat segera dilakukan oleh unsur terkait.
BPBD Kubu Raya bersama Satgas Karhutla, personel TNI, dan masyarakat terus melakukan penanganan di sejumlah lokasi. Pemantauan terhadap hotspot serta dukungan kelompok MPA menjadi bagian dari upaya pengendalian karhutla di Kabupaten Kubu Raya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















