Headline.co.id, Jawa Timur ~ Jumlah santri keracunan MBG Sidoarjo yang membutuhkan penanganan medis setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, bertambah menjadi 500 orang. Para santri mengalami keluhan seperti pusing dan mual setelah menyantap makanan pada Selasa, 1 September 2026, kemudian mendapatkan perawatan dan observasi di delapan rumah sakit di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Hingga Rabu, 2 September 2026, sebanyak 320 pasien telah diperbolehkan pulang, 65 menjalani rawat inap, sedangkan 115 pasien masih dalam observasi.
Penanganan santri keracunan MBG Sidoarjo tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan dengan RSUD Notopuro Sidoarjo menjadi rumah sakit yang menerima pasien paling banyak. Dari total 334 santri yang ditangani RSUD Notopuro, sebanyak 239 orang telah dipulangkan, 92 masih menjalani observasi, dan tiga pasien menjalani rawat inap.
Perkembangan kasus santri keracunan MBG Sidoarjo juga menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur setelah Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak meninjau pasien di RSUD Notopuro pada Rabu dini hari. Berdasarkan kesamaan sumber konsumsi para korban dari pondok pesantren dan sejumlah sekolah lain, Emil menyebut makanan yang dikonsumsi berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
500 Santri Ditangani di Delapan Rumah Sakit
Berdasarkan data penanganan medis terbaru, sebanyak 500 santri telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Dari jumlah tersebut, 320 pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit atau KRS, 65 pasien masih menjalani rawat inap atau MRS, sedangkan 115 lainnya berada dalam tahap observasi.
RSUD Notopuro menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah pasien terbanyak, yakni 334 santri. Sebanyak 239 pasien sudah diperbolehkan pulang, 92 masih menjalani observasi, dan tiga lainnya menjalani rawat inap.
RS Siti Hajar menangani 74 pasien dengan rincian 29 menjalani rawat inap, 40 sudah diperbolehkan pulang, dan lima masih dalam observasi.
Sementara itu, RSU Aisyiyah Siti Fatimah menerima 47 pasien. Sebanyak delapan pasien masih menjalani rawat inap dan 39 lainnya telah diperbolehkan pulang.
RS Delta Surya menangani 20 pasien, terdiri atas 15 pasien rawat inap, satu pasien telah diperbolehkan pulang, dan empat masih menjalani observasi.
Sebanyak 13 pasien berada dalam observasi di RS Pusura. RS Pusdik Bhayangkara Porong menangani delapan santri yang seluruhnya menjalani rawat inap.
RS Arafah Anwar Medika menerima tiga pasien, terdiri atas dua pasien rawat inap dan satu pasien telah dipulangkan. Adapun RS Anwar Medika menangani satu pasien yang masih menjalani observasi.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Porong, Zaid, membenarkan bahwa seluruh santri yang masuk ke rumah sakit tersebut masih membutuhkan perawatan.
“Sampai pagi ini masih ada 8 santri yang menjalani rawat inap,” ujar Zaid.
Data Dinkes Sebelumnya Mencatat 293 Santri
Sebelum jumlah pasien diperbarui menjadi 500 orang, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo pada Selasa, 1 September 2026, mencatat sedikitnya 293 santri membutuhkan perawatan dan observasi medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan tenaga kesehatan masih melakukan observasi untuk mengetahui perkembangan kondisi masing-masing santri.
“Ya tentunya butuh perawatan, untuk observasi ya, diobservasi dulu. Karena saya masih belum lihat ke sana,” ujar Lakhsmie saat ditemui, Selasa.
Saat itu, Dinkes menerima laporan sebanyak 293 santri telah mendapatkan penanganan medis.
“Terakhir 293,” ungkapnya.
Menurut Lakhsmie, para pasien tersebut tersebar di delapan rumah sakit di wilayah Kabupaten Sidoarjo.
“Ada delapan. Delapan rumah sakit,” ujarnya.
Ia menyebut beberapa rumah sakit yang menangani pasien antara lain RSUD Notopuro, RS Islam Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, RS Delta Surya, dan RSU Aisyiyah Siti Fatimah.
“Notopuro, Siti Hajar, RS Bhayangkara Pusdik Porong, Delta Surya, kemudian Fatimah, dan ada beberapa rumah sakit lain,” katanya.
Dinkes Sidoarjo selanjutnya terus menghimpun laporan dari fasilitas kesehatan sehingga jumlah pasien yang tercatat mengalami peningkatan.
Keluhan Muncul Setelah Shalat Ashar
Insiden bermula ketika sejumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengeluhkan gangguan kesehatan setelah melaksanakan shalat Ashar.
Para santri mengalami gejala antara lain kepala pusing dan perut mual. Setelah Maghrib, jumlah santri yang mengeluhkan kondisi serupa bertambah sehingga ratusan santri dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Menu MBG yang disajikan saat itu terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan apel.
Tenaga medis kemudian melakukan observasi serta memberikan perawatan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Emil Dardak Sebut Konsumsi Berasal dari SPPG Kalitengah
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan hasil penelusuran awal menunjukkan adanya kesamaan sumber makanan yang dikonsumsi para korban.
Selain santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, menurut Emil, terdapat siswa dari sekolah lain yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan dari SPPG yang sama.
“Nah, memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manbaul Hikam ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi, kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah,” ujar Emil saat meninjau korban di RSUD Notopuro Sidoarjo, Rabu dini hari.
Meski sumber konsumsi telah ditelusuri ke SPPG Kalitengah, penyebab pasti munculnya dugaan keracunan belum dapat disimpulkan.
Badan Gizi Nasional masih melakukan penelusuran untuk mengetahui faktor yang menyebabkan banyak penerima makanan mengalami keluhan kesehatan.
SPPG Kalitengah Telah Memiliki SLHS
Emil menjelaskan SPPG Kalitengah diketahui telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS. Berdasarkan catatan asesmen, fasilitas tersebut juga dinilai mempunyai sarana dan prasarana yang memadai.
“SPPG ini sudah memperoleh SLHS. Catatan asesmen menunjukkan sarana prasarananya memadai, tenaga penjamah makanan juga sudah mengikuti sertifikasi, termasuk sertifikasi halal,” jelas Emil.
Namun, ia menegaskan kepemilikan SLHS tidak serta-merta meniadakan kemungkinan munculnya persoalan dalam proses penyediaan makanan.
Menurut Emil, pemeriksaan masih perlu dilakukan terhadap berbagai tahapan operasional, mulai dari kondisi bahan makanan hingga waktu dan proses pengolahan.
“Tetap saja dengan sarana prasarana dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya bahan makanannya dari awal, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa menyebabkan masalah,” jelasnya.
Dinkes Jelaskan Syarat SLHS
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina menjelaskan terdapat tiga persyaratan utama yang harus dipenuhi SPPG untuk memperoleh SLHS.
Persyaratan tersebut meliputi tenaga penjamah makanan yang telah mengikuti pelatihan, pemenuhan pemeriksaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan atau IKL, serta tersedianya sarana dan prasarana sesuai standar Badan Gizi Nasional.
“Jika tiga syarat itu terpenuhi, maka SLHS pertama akan dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan,” jelas Lakhsmie.
Kualitas sumber air yang digunakan dalam operasional dapur juga menjadi bagian dari pemeriksaan. Berdasarkan pemeriksaan awal, Lakhsmie menyebut SPPG Kalitengah menggunakan sumber air yang berasal dari PDAM.
Hingga kini, tenaga kesehatan masih merawat dan mengobservasi para santri, sementara penyebab pasti insiden masih dalam proses penelusuran. Temuan mengenai sumber konsumsi dari SPPG Kalitengah belum dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab medis keracunan sebelum pemeriksaan terkait makanan dan proses operasional selesai dilakukan.



















