Headline.co.id, Jakarta ~ Persaingan OMI Kemenag 2026 mulai terasa di tingkat satuan pendidikan menjelang berakhirnya pendaftaran bidang Sains tingkat Kabupaten/Kota pada 2 September 2026. Sejumlah madrasah mulai menggelar seleksi internal untuk menentukan peserta terbaik yang akan mewakili sekolah dalam Olimpiade Madrasah Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Seleksi internal menjadi tahap penting dalam OMI Kemenag 2026 karena kompetisi bidang Sains berlangsung secara berjenjang, mulai dari satuan pendidikan, Kabupaten/Kota, Provinsi, hingga Nasional. Madrasah tidak hanya perlu memilih siswa dengan kemampuan akademik terbaik, tetapi juga mempersiapkan mental peserta menghadapi tingkat persaingan yang semakin tinggi pada setiap tahapan.
Gambaran ketatnya persaingan OMI Kemenag 2026 terlihat di MTsN 3 Pacitan. Sebanyak 50 siswa mengikuti seleksi internal pada Senin, 31 Agustus 2026 untuk memperebutkan sembilan kuota delegasi yang akan mewakili madrasah pada kompetisi tingkat Kabupaten Pacitan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Berdasarkan ketentuan OMI 2026 dalam bahan yang dihimpun, setiap madrasah hanya diperbolehkan mengirimkan tiga peserta terbaik untuk masing-masing bidang studi Matematika, IPA, dan IPS.
Dengan sembilan kuota yang tersedia, peserta harus bersaing sejak tahap awal sebelum dapat melanjutkan perjuangan ke tingkat Kabupaten/Kota.
MTsN 3 Pacitan Seleksi 50 Siswa untuk Sembilan Kuota
Seleksi internal MTsN 3 Pacitan menjadi bagian dari upaya menjaring siswa dengan kemampuan akademik terbaik sebelum diterjunkan ke kompetisi yang lebih tinggi.
Sebanyak 50 siswa mengikuti proses tersebut untuk memperebutkan total sembilan posisi.
Dari jumlah tersebut, masing-masing tiga siswa terbaik akan dipersiapkan untuk bidang Matematika, IPA, dan IPS sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam seleksi tersebut, bidang IPS tercatat menjadi kategori dengan jumlah pendaftar paling dominan.
Kepala MTsN 3 Pacitan Su’aidi Ghufron Amin menjelaskan bahwa seleksi internal bukan sekadar menentukan nama peserta yang akan mewakili madrasah.
Menurut dia, proses tersebut sekaligus digunakan untuk memetakan kemampuan akademik dan membangun kesiapan siswa menghadapi kompetisi selanjutnya.
“Seleksi ini adalah wadah untuk memetakan serta mengasah potensi akademik anak-anak. Kami ingin memastikan sembilan santri yang terpilih benar-benar siap secara materi dan mental,” kata Su’aidi.
Peserta Terpilih Belum Bisa Berpuas Diri
Lolos dari seleksi tingkat satuan pendidikan belum menjadi akhir perjuangan peserta.
Siswa yang berhasil memperoleh kuota delegasi masih harus bersaing dengan peserta dari madrasah lain pada OMI tingkat Kabupaten/Kota.
Su’aidi menilai tingkat persaingan akan semakin kompetitif ketika peserta memasuki tahapan berikutnya.
“Setelah lulus di tingkat satuan pendidikan, perjuangan mereka belum selesai karena harus langsung bersiap menghadapi seleksi OMI tingkat Kabupaten Pacitan yang tentu persaingan semakin kompetitif,” ujarnya.
Karena itu, MTsN 3 Pacitan menyiapkan program pemusatan latihan secara intensif bagi sembilan siswa yang berhasil lolos seleksi internal.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan akademik sekaligus mental peserta sebelum menjalani kompetisi di tingkat Kabupaten.
OMI Sains Berlangsung Secara Berjenjang
OMI 2026 merupakan kompetisi yang diselenggarakan Kementerian Agama bagi peserta didik madrasah.
Kompetisi tersebut terdiri atas dua bidang utama, yakni OMI Sains dan OMI Riset.
Bidang Sains dapat diikuti peserta didik jenjang MI, MTs, dan MA. Sementara bidang Riset diperuntukkan bagi peserta dari jenjang MTs dan MA.
Pada bidang Sains, tahapan kompetisi dimulai dari satuan pendidikan.
Peserta yang berhasil lolos kemudian melanjutkan ke tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan akhirnya Nasional.
Model seleksi berjenjang tersebut membuat madrasah memiliki peran penting dalam menjaring dan mempersiapkan calon peserta sejak tahapan awal.
Pada tingkat satuan pendidikan, bentuk seleksi dapat berupa tes tulis atau mekanisme lain yang ditetapkan masing-masing satuan pendidikan.
Tahap tersebut dilaksanakan oleh Komite OMI Satuan Pendidikan.
Tes Tingkat Kabupaten Mulai Berbasis Komputer
Tingkat kesulitan dan mekanisme pengujian berubah ketika peserta berhasil melaju dari satuan pendidikan menuju tingkat Kabupaten/Kota.
Khusus jenjang MI/SD/sederajat, kompetisi tingkat Kabupaten/Kota menggunakan Tes OMI Berbasis Komputer.
Peserta akan mengerjakan sebanyak 25 soal pilihan ganda.
Soal disiapkan oleh Komite Ahli OMI Nasional, sedangkan proses penilaian dilakukan secara terpusat oleh Komite OMI Nasional.
Sarana pelaksanaan tes dapat disediakan oleh Komite Satuan Pendidikan maupun Komite Kabupaten/Kota.
Peserta yang berhasil lolos kembali menghadapi seleksi pada tingkat Provinsi.
Pada jenjang MI/SD/sederajat, tes tingkat Provinsi terdiri atas 20 soal pilihan ganda dan lima soal pilihan ganda kompleks melalui sistem berbasis komputer.
Tantangan Semakin Tinggi di Babak Nasional
Peserta yang berhasil mencapai tingkat Nasional akan menghadapi format pengujian yang berbeda dibandingkan tahap Kabupaten/Kota maupun Provinsi.
Pada jenjang MI/SD/sederajat, babak Nasional dilaksanakan melalui Tes OMI Berbasis Komputer dan eksplorasi atau eksperimen.
Tes terdiri atas 10 soal isian singkat dan lima soal esai.
Soal dan sarana disiapkan Komite OMI Nasional dengan penilaian yang juga dilakukan secara terpusat.
Perubahan format soal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan peserta tidak hanya diuji melalui pemilihan jawaban yang tersedia.
Peserta juga perlu memahami konsep, menganalisis persoalan, dan menyusun jawaban berdasarkan proses penyelesaian yang tepat.
OMI 2026 Tak Sekadar Uji Hafalan
OMI bidang Sains dirancang untuk mengelaborasi sains dan teknologi melalui integrasi nilai-nilai Islam, sains murni, dan budaya lokal.
Soal yang diberikan diarahkan agar peserta mampu memahami serta menganalisis data, menginterpretasikan hasil eksperimen, memecahkan masalah kompleks, hingga mengembangkan solusi inovatif yang dapat diterapkan.
Peserta tidak hanya dituntut menghafal konsep.
Soal juga mengintegrasikan kurikulum berbasis cinta yang diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap ilmu pengetahuan, bumi dan lingkungan, agama, kesehatan, sesama makhluk hidup, serta inovasi sains dan teknologi.
OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”
Tema tersebut menegaskan posisi kompetisi sebagai wadah pengembangan talenta peserta didik yang menggabungkan kemampuan akademik, nilai keislaman, kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan inovasi.
Kemenag Sosialisasikan Juknis OMI 2026
Persiapan pelaksanaan kompetisi juga dilakukan melalui sosialisasi Petunjuk Teknis OMI 2026.
Jajaran Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanggamus mengikuti sosialisasi secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Tanggamus, Musannip, memimpin jajaran Penmad dalam kegiatan tersebut.
Sosialisasi menjadi ruang untuk memahami ketentuan teknis OMI sekaligus menyamakan persepsi mengenai pelaksanaan kompetisi di tingkat madrasah.
Melalui proses tersebut, jajaran Penmad diharapkan dapat meneruskan informasi dan ketentuan OMI kepada madrasah secara tepat sehingga persiapan peserta dapat dilakukan secara lebih terarah.
Pendaftaran OMI Sains Ditutup 2 September 2026
Di tengah berlangsungnya seleksi di tingkat madrasah, tahapan pendaftaran OMI bidang Sains tingkat Kabupaten/Kota masih berlangsung hingga 2 September 2026.
Berdasarkan Petunjuk Teknis OMI 2026, pendaftaran bidang Sains dimulai pada 27 Agustus 2026.
“Pendaftaran 27 Agustus–2 September 2026,” demikian ketentuan yang tercantum dalam Juknis OMI 2026 sebagaimana terdapat dalam bahan yang dihimpun.
Sementara itu, pendaftaran bidang Riset telah dibuka sejak 22 Agustus 2026.
Bidang Riset memiliki mekanisme berbeda karena peserta mengawali kompetisi melalui penyusunan dan pengajuan proposal penelitian, sedangkan bidang Sains menggunakan pola seleksi akademik berjenjang.
Dengan persaingan yang telah dimulai sejak tingkat satuan pendidikan, madrasah tidak hanya dituntut memilih siswa dengan nilai terbaik. Persiapan materi, pemetaan kemampuan, pembinaan intensif, serta kesiapan mental menjadi bagian penting agar peserta mampu bersaing ketika memasuki OMI tingkat Kabupaten/Kota hingga jenjang yang lebih tinggi.




















