Headline.co.id, Jakarta ~ Bacaan sholawat nariyah merupakan salah satu redaksi sholawat yang banyak diamalkan umat Islam di Indonesia, terutama dalam tradisi keagamaan warga Nahdliyin. Bacaan ini digunakan sebagai bentuk doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam majelis. Tidak ada waktu tunggal yang diwajibkan dalam bahan rujukan yang digunakan, sementara praktik pembacaannya berkembang dengan jumlah dan kebiasaan yang beragam. Penjelasan tentang teks, arti, serta pengamalannya penting agar pembaca memahami isi doa yang dilafalkan, bukan sekadar menghafalnya.
Dalam bacaan sholawat nariyah terdapat permohonan kepada Allah SWT agar melimpahkan sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, disertai ungkapan harapan agar kesulitan terurai, kesusahan dilapangkan, kebutuhan terpenuhi, dan kehidupan berakhir dalam keadaan baik. Redaksi ini juga dikenal dengan sejumlah nama lain dalam tradisi keislaman, antara lain Sholawat Tafrijiyah, Sholawat Taziyah, dan Sholawat Kamilah.
Bacaan sholawat nariyah yang beredar dalam rujukan keislaman pada Agustus 2026 memuat teks Arab, transliterasi Latin, dan terjemahan yang pada pokoknya sama. Sejumlah penjelasan juga menempatkannya sebagai sholawat yang disusun ulama, sehingga pembaca perlu membedakan antara perintah umum untuk bershalawat kepada Nabi dan redaksi Nariyah sebagai salah satu bentuk amalan yang berkembang dalam tradisi umat Islam.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Bacaan Sholawat Nariyah Arab dan Latin
Teks Arab Sholawat Nariyah yang digunakan dalam rujukan keislaman adalah:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ.
Transliterasi Latinnya dapat dibaca: Allahumma shalli shalatan kamilatan wa sallim salaman tamman ‘ala sayyidina Muhammadinil-ladzi tanhallu bihil-‘uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdla bihil-hawaiju wa tunalu bihir-ragha’ibu wa husnul-khawatimi wa yustasqal-ghamamu biwajhihil-karimi wa ‘ala alihi wa shahbihi fi kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’lumilak. Perbedaan kecil dalam sistem transliterasi dapat ditemukan antarpenulisan, tetapi susunan pokok bacaan tetap merujuk pada redaksi yang sama.
Arti Bacaan Sholawat Nariyah
Secara makna, sholawat ini berisi permohonan agar Allah SWT melimpahkan sholawat yang sempurna dan salam yang utuh kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terdapat harapan agar dengan keberkahan yang dikaitkan kepada Nabi, berbagai persoalan dapat terurai, kesusahan mendapat kelapangan, kebutuhan terpenuhi, hal-hal baik yang diharapkan tercapai, serta seseorang memperoleh akhir kehidupan yang baik.
Bagian akhir bacaan memohon agar sholawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga serta para sahabat Nabi, pada setiap waktu dan tarikan napas sebanyak segala sesuatu yang diketahui Allah SWT. Karena itu, memahami arti bacaan menjadi bagian penting dalam pengamalan agar pembaca mengetahui bahwa inti redaksinya merupakan doa kepada Allah disertai pujian dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sholawat Nariyah Dipahami sebagai Ikhtiar Batin
Dalam keterangan yang disampaikan Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Misbahul Munir Kholil pada 2021, Sholawat Nariyah ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar batin melalui sholawat, tawassul, istighfar, sedekah, dan amal kebaikan. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks doa keselamatan pada masa pandemi, sehingga tidak tepat dipindahkan menjadi klaim tentang peristiwa baru pada 2026.
KH Misbah saat itu mengatakan, “Dalam shalawat Nariyah sudah jelas apa yang dibaca.” Ia menjelaskan bahwa kandungan bacaan tersebut berkaitan dengan permohonan agar ikatan persoalan, kesusahan, kesedihan, dan kegundahan mendapatkan jalan keluar. Penjelasan itu merupakan pandangan keagamaan narasumber mengenai fungsi spiritual sholawat, bukan jaminan otomatis bahwa setiap hajat akan terpenuhi dengan cara atau waktu tertentu.
Pengamalan Berkembang dalam Tradisi Masyarakat
Tradisi pembacaan Sholawat Nariyah di Indonesia tidak berlangsung dengan satu pola yang seragam. Ada kelompok yang membacanya dalam majelis, ada yang menjadikannya wirid pribadi, dan ada pula yang mengamalkannya dalam jumlah tertentu berdasarkan ijazah atau kebiasaan yang diterima dari guru dan lingkungan keagamaannya. Catatan tentang praktik di Buntet Pesantren, misalnya, menunjukkan adanya tradisi pembacaan bersama dengan jumlah yang besar, sementara kelompok lain membacanya dalam jumlah lebih sedikit secara rutin.
Perbedaan jumlah tersebut menunjukkan bahwa pembaca perlu membedakan teks pokok Sholawat Nariyah dengan tradisi pengamalannya. Sumber yang digunakan mencatat angka seperti 11, 41, 100, 313, 1.000, hingga 4.444 kali dalam konteks ijazah, pengalaman, atau kebiasaan tertentu. Angka-angka itu sebaiknya dipahami sesuai konteks sumbernya dan tidak ditulis sebagai ketentuan universal yang wajib bagi seluruh umat Islam.
Perintah Umum Bershalawat dan Posisi Redaksi Nariyah
Dasar umum untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56. Sementara itu, Sholawat Nariyah merupakan salah satu redaksi yang disusun dan diwariskan dalam tradisi ulama. Pemisahan antara dasar umum bershalawat dan bentuk redaksi tertentu membantu pembaca memahami posisi amalan ini secara lebih proporsional.
Karena itu, saat mencari bacaan sholawat nariyah, hal yang paling aman adalah merujuk teks yang jelas, membaca terjemahannya, serta memahami bahwa penjelasan mengenai fadilah dan jumlah bacaan berasal dari tradisi, kitab, ijazah, atau keterangan ulama yang memiliki konteks masing-masing. Dengan cara itu, informasi keagamaan dapat disajikan secara akurat tanpa mengubah pengalaman spiritual atau keyakinan tradisional menjadi klaim faktual yang berlebihan.























