Headline.co.id, Kalurahan Bumirejo Di Kulon Progo Masih Menghadapi Tantangan Kemiskinan Struktural ~ dengan sekitar 70% dari 9.000 penduduknya bergantung pada bantuan pemerintah. Sebagian besar warga bekerja di sektor informal yang pendapatannya tidak menentu. Namun, daerah ini memiliki potensi pertanian yang besar, terutama jagung, yang selama ini dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang tidak stabil. Menyadari potensi ini, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim PPK Ormawa Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) mengembangkan program diversifikasi produk berbasis jagung.
Program yang dinamakan Synergy Corn Innovation for Rural Empowerment (Syncorn) ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dengan pendekatan ekonomi sirkular dan zero waste. Beberapa produk yang dikembangkan meliputi keripik jagung, sereal jagung, teh serabut jagung, dan briket bonggol jagung. “Terdapat potensi pertanian melimpah, yaitu jagung. Jagung biasanya dijual secara mentah dengan harga yang fluktuatif,” ujar Koordinator Kiara Nadya pada Kamis, 27 Agustus 2026. Program ini melibatkan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat seperti Kelompok Tani, Kelompok Wanita Tani, dan Kelompok Disabilitas Kalurahan.
Selain itu, mahasiswa dari berbagai program studi di UGM turut serta sebagai relawan, termasuk UKM Peduli Difabel yang menjadi mitra pendampingan bagi Kelompok Disabilitas Kalurahan. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi masyarakat. “Kehadiran relawan dan mitra diharapkan dapat membantu proses produksi berjalan lebih efektif sekaligus mendukung pendampingan kelompok,” tambah Kiara. Tim juga melakukan monitoring dan evaluasi melalui kegiatan coaching bersama Belmawa, serta konsultasi dengan PLUT KUMKM Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kulonprogo untuk legalitas produk.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Setelah dua bulan pelaksanaan, Syncorn menunjukkan perkembangan signifikan dalam kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat mengelola usaha. Proses administrasi dan legalitas produk telah memasuki tahap akhir, menjadi modal penting bagi KUB untuk melanjutkan usaha setelah program berakhir. “Setelah exit strategy, kami berharap KUB dapat terus berjalan secara mandiri dan berkembang lebih baik untuk menghasilkan perubahan yang lebih berkelanjutan bagi peningkatan pendapatan, kemandirian, dan kesejahteraan di Kalurahan Bumirejo,” kata Kiara. Lurah Bumirejo, Sukarni, berharap produk olahan jagung ini dapat menjadi identitas wilayahnya dan memperkenalkan potensi jagung lokal kepada masyarakat luas.




















