Headline.co.id, Jakarta ~ Saham BMRI menjadi salah satu saham perbankan yang paling banyak diborong investor asing pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026. Saham PT Bank Mandiri Tbk tersebut mencatatkan beli bersih atau net buy asing sebesar Rp140,01 miliar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,37 persen ke posisi 6.525,69. Aksi akumulasi berlangsung di tengah derasnya arus modal asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
Saham BMRI menempati posisi ketiga dalam daftar saham dengan net buy asing terbesar pada perdagangan Jumat, berada di bawah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp628,49 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp269,09 miliar. Data tersebut menunjukkan saham perbankan berkapitalisasi besar masih menjadi salah satu tujuan utama dana asing di tengah penguatan pasar.
Pergerakan saham BMRI juga melengkapi dominasi saham bank dalam daftar pembelian bersih investor asing pada akhir pekan. Selain BMRI, BBRI, BBCA, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sama-sama masuk lima besar net buy asing pada Jumat, mengindikasikan kuatnya akumulasi investor asing di sektor finansial.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Saham BMRI Catat Net Buy Asing Rp140,01 Miliar
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net buy jumbo sebesar Rp974,57 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Jumat.
BBRI menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar senilai Rp628,49 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBCA sebesar Rp269,09 miliar, kemudian BMRI Rp140,01 miliar.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di urutan keempat dengan net buy Rp137,3 miliar, sedangkan BBNI menempati posisi kelima sebesar Rp113,14 miliar.
Berikut 10 saham dengan net buy asing terbesar pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026:
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp628,49 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp269,09 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp140,01 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp137,3 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp113,14 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp99,03 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp27,61 miliar
- PT Timah Tbk (TINS): Rp26,91 miliar
- PT Mayora Indah Tbk (MYOR): Rp17,08 miliar
- PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS): Rp15,78 miliar
Komposisi tersebut memperlihatkan empat saham bank besar, yakni BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI, masuk jajaran lima saham yang paling banyak dikoleksi investor asing pada akhir perdagangan pekan tersebut.
Investor Asing Net Buy Rp2,23 Triliun dalam Sepekan
Akumulasi asing tidak hanya terjadi pada perdagangan Jumat. Sepanjang periode 18-21 Agustus 2026, investor asing tercatat melakukan beli bersih sebesar Rp2,23 triliun di seluruh pasar.
Jumlah tersebut terdiri atas net buy Rp548,58 miliar di pasar reguler dan sekitar Rp1,68 triliun melalui pasar negosiasi dan tunai.
Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun dari Stockbit, BBRI menjadi pemimpin net buy asing di pasar reguler sepanjang periode tersebut dengan nilai Rp745,3 miliar.
BBCA menyusul dengan pembelian bersih Rp409,1 miliar. Sementara itu, saham komoditas PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada di posisi ketiga dengan net buy Rp329,1 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp251,2 miliar.
Daftar 10 besar net buy asing di pasar reguler periode 18-21 Agustus 2026 adalah:
- BBRI: Rp745,3 miliar
- BBCA: Rp409,1 miliar
- AMMN: Rp329,1 miliar
- ANTM: Rp251,2 miliar
- PSAB: Rp133,6 miliar
- TINS: Rp125,1 miliar
- BRMS: Rp88,6 miliar
- BRPT: Rp40,1 miliar
- BBNI: Rp38,6 miliar
- INCO: Rp37,3 miliar
BMRI tidak tercantum dalam 10 besar net buy asing pasar reguler secara kumulatif selama 18-21 Agustus. Namun, masuknya saham Bank Mandiri ke posisi ketiga pada perdagangan Jumat menunjukkan peningkatan pembelian asing pada akhir pekan.
IHSG Menguat 3,55 Persen dalam Sepekan
Masuknya dana asing berlangsung bersamaan dengan penguatan IHSG. Mengacu pada data BEI, IHSG ditutup naik 24,10 poin atau 0,37 persen menjadi 6.525,69 pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Secara kumulatif, IHSG tercatat menguat 3,55 persen sepanjang pekan.
Penguatan indeks pada Jumat ditopang sejumlah indeks sektoral. IDX Infrastruktur mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,47 persen, kemudian IDX Keuangan naik 0,32 persen dan IDX Barang Konsumer Primer menguat 0,23 persen.
IDX Perindustrian tercatat naik 0,15 persen, sektor terkait transportasi dan logistik sebesar 0,15 persen, sedangkan IDX Energi menguat 0,14 persen.
Di sisi lain, IDX Kesehatan melemah 0,88 persen, IDX Transportasi turun 0,48 persen, IDX Teknologi terkoreksi 0,46 persen, IDX Properti dan Real Estate turun 0,18 persen, serta IDX Barang Konsumer Nonprimer melemah 0,18 persen.
Aktivitas perdagangan di BEI pada Jumat mencatat volume sebanyak 53,24 miliar saham dengan nilai transaksi Rp16,99 triliun. Sebanyak 319 saham ditutup menguat, 294 saham melemah, dan 178 saham tidak mengalami perubahan harga.
Saham Bank dan Komoditas Jadi Buruan Asing
Data perdagangan sepanjang pekan memperlihatkan dana asing terkonsentrasi pada dua kelompok utama, yakni saham perbankan berkapitalisasi besar dan saham berbasis komoditas.
Pada sektor perbankan, BBRI dan BBCA menjadi dua saham dengan net buy terbesar selama 18-21 Agustus. BBRI juga menjadi salah satu penopang utama IHSG pada perdagangan Jumat setelah harga sahamnya naik 2,87 persen menjadi Rp3.230 per saham dan memberikan kontribusi sekitar 14,01 poin terhadap indeks.
Di sektor pertambangan dan komoditas, AMMN dan ANTM mencatat pembelian bersih asing masing-masing Rp329,1 miliar dan Rp251,2 miliar. Saham J Resources Asia Pasifik (PSAB), Timah (TINS), Bumi Resources Minerals (BRMS), serta Vale Indonesia (INCO) juga masuk daftar 10 besar net buy asing sepanjang pekan.
Pasar Masih Mencermati Sentimen Global dan Data Ekonomi RI
Di tengah penguatan IHSG dan masuknya dana asing, pelaku pasar masih menghadapi sejumlah sentimen eksternal. Perkembangan konflik Amerika Serikat-Iran, pergerakan imbal hasil atau yield US Treasury, serta risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang memperlihatkan perdebatan mengenai arah suku bunga Federal Reserve masih menjadi faktor yang membayangi pasar.
Dari dalam negeri, perhatian investor selanjutnya tertuju pada rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) serta data transaksi berjalan kuartal II-2026 dari Bank Indonesia.
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan kondisi eksternal Indonesia sekaligus keberlanjutan arus modal asing ke pasar saham domestik.
Dengan net buy asing mencapai Rp140,01 miliar pada perdagangan Jumat, saham BMRI menjadi bagian dari kuatnya akumulasi asing terhadap kelompok perbankan besar. Perkembangan aliran dana asing dan arah IHSG pada perdagangan berikutnya akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah tren tersebut dapat berlanjut.




















