Highlight Berita Smart Packaging dan Digitalisasi Didorong Perkuat Daya Saing Yakuluok Coffee di Papua Pegunungan:
Headline.co.id, Wamena ~ Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena mendorong penguatan daya saing Kelompok Tani Yakuluok Coffee melalui penerapan teknologi smart packaging dan digitalisasi manajemen usaha. Program yang dilaksanakan di Kampung Kuluakma pada 13–17 Juli 2026 tersebut menyasar persoalan kemasan, branding, pencatatan keuangan, hingga pengelolaan usaha kopi dan agrowisata yang selama ini masih dilakukan secara terbatas dan tradisional. Kegiatan melibatkan 24 anggota kelompok kopi Yakuluok bersama masyarakat setempat melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan, uji coba, hingga evaluasi.
Program bertema “Penerapan Teknologi Inovasi Smart Packaging dan Manajemen Digitalisasi untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM Kelompok Tani Yakuluok Coffee di Lembah Baliem Papua” tersebut merupakan bagian dari hibah kompetitif nasional yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Tahun Anggaran 2026.
Yakuluok Coffee menjadi salah satu kelompok tani yang mengembangkan produk kopi lokal di Lembah Baliem. Selain memproduksi kopi dalam kemasan, kelompok tersebut juga mengembangkan kebun wisata kopi dan mulai merintis produk madu sebagai lini usaha baru.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kelompok tani itu turut menyediakan pondok honai dengan memanfaatkan kearifan lokal Papua sebagai fasilitas bagi wisatawan yang berkunjung ke kebun kopi.
Aktivitas tersebut membuat Yakuluok Coffee dikenal sebagai salah satu sentra kopi lokal yang dikunjungi wisatawan dari berbagai negara, antara lain Spanyol, Australia, China, dan Prancis.
Kelompok Tani Yakuluok Coffee sendiri telah menjadi mitra dan kampung binaan sejak 2023 serta terlibat dalam sejumlah kegiatan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat.
Kemasan Menjadi Tantangan Produk Kopi Lokal
Meski memiliki potensi produk dan pasar, pengembangan Yakuluok Coffee masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu persoalan utama berada pada aspek produksi, khususnya ketersediaan kemasan dan identitas visual produk.
Keterbatasan akses fasilitas percetakan label maupun stiker di Wamena, terutama di wilayah Kuluakma, membuat kelompok tani kesulitan menghasilkan identitas visual produk secara konsisten.
Persoalan tersebut diperkuat oleh terbatasnya ketersediaan bahan kemasan di daerah 3T. Akibatnya, kopi yang telah selesai diproduksi terkadang dipasarkan menggunakan kemasan sederhana tanpa mencantumkan label merek Yakuluok Coffee.
Kondisi itu dinilai berpengaruh terhadap citra dan daya saing produk. Padahal, berdasarkan pengalaman kelompok, kualitas kopi Yakuluok telah mendapat perhatian dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan tersebut.
Permasalahan kedua berkaitan dengan tata kelola usaha dan keuangan. Kelompok tani memiliki kebun kopi yang berpotensi terus dikembangkan menjadi destinasi agrowisata, termasuk keberadaan pondok honai sebagai fasilitas pendukung.
Saat ini, tarif kunjungan ke kawasan tersebut sebesar Rp100.000 dengan fasilitas secangkir kopi gratis serta akses ke pondok honai.
Namun, pengelolaan pendapatan masih dilakukan secara tradisional. Pendapatan hasil penjualan harian langsung dibagikan kepada anggota kelompok tanpa didukung pencatatan keuangan yang terstruktur.
Kondisi tersebut menyebabkan kelompok belum memiliki data yang akurat untuk menghitung keuntungan maupun kerugian usaha. Ketiadaan pencatatan juga menyulitkan proses evaluasi kinerja bisnis serta penyusunan rencana pengembangan usaha pada periode berikutnya.
Pelatihan Digitalisasi hingga Uji Coba Packaging
Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim PKM Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena menerapkan sejumlah tahapan kegiatan, mulai dari analisis situasi dan survei lapangan, sosialisasi, uji coba packaging dan pemasaran, hingga pelatihan manajemen digitalisasi.
Tahapan kegiatan kemudian ditutup dengan evaluasi untuk melihat penerapan teknologi dan pemahaman kelompok tani terhadap materi yang diberikan.
Sebanyak 24 anggota Kelompok Tani Yakuluok Coffee bersama masyarakat mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan selama program berlangsung di Kampung Kuluakma.
Tim PKM diketuai Syarifah dengan anggota Hasriani M dan Muhammad Fagi Difinubun. Sejumlah mahasiswa juga terlibat, yakni Fayra Nabillah Azza, Puput Gloria Paliling, Pertoni Wenda, Ribut Fauzi Sanjaya, Leka Wonda, dan Tolison Wenda.
Dalam pelaksanaannya, tim juga menyerahkan sejumlah teknologi dan perangkat pendukung kepada mitra untuk membantu perbaikan proses produksi serta tata kelola usaha.
Syarifah mengatakan, bantuan tersebut tidak hanya difokuskan pada kemasan produk, tetapi juga pada penguatan sistem transaksi dan pencatatan usaha.
“Pada kegiatan yang diselenggarakan DPPM ini kami juga menyerahkan bantuan teknologi berupa Smart Packaging Fullprint 200 gram, software point of sale 5.0, printing thermal, godiebag, nota pembayaran, dan timbangan kopi,” kata Syarifah.
Menurut dia, penyerahan bantuan tersebut telah dituangkan dalam berita acara serah terima yang ditandatangani kedua belah pihak serta diketahui Kepala LPPM Universitas Amal Ilmiah Yapis Wamena.
Branding Yakuluok Coffee Didukung Bank Indonesia Jayapura
Upaya penguatan merek Yakuluok Coffee juga mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia Jayapura. Dukungan tersebut berupa branding Yakuluok Coffee di Etalase UMKM Honai Bank Indonesia Jayapura serta pengajuan alat teknologi printing packaging.
Dukungan itu diharapkan membantu kelompok tani meningkatkan konsistensi identitas produk sekaligus memperluas pengenalan Yakuluok Coffee kepada konsumen.
Penerapan smart packaging menjadi penting karena kemasan tidak hanya berfungsi untuk melindungi kopi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas produk ketika dipasarkan.
Sementara itu, penggunaan software point of sale diarahkan untuk membantu kelompok melakukan pencatatan transaksi secara lebih terstruktur sehingga pendapatan usaha tidak lagi hanya dikelola melalui pembagian hasil harian tanpa dokumentasi.
Data transaksi yang tercatat dapat menjadi dasar bagi kelompok untuk mengetahui perkembangan penjualan serta mengevaluasi kondisi usaha.
Dorong Penguatan UMKM Kopi Lembah Baliem
Program PKM tersebut juga diarahkan agar penguatan teknologi berjalan beriringan dengan potensi usaha yang telah dimiliki Yakuluok Coffee.
Kelompok tani dinilai memiliki peluang pengembangan yang tidak hanya berasal dari penjualan kopi kemasan. Kebun kopi, wisata berbasis pengalaman, pondok honai, hingga pengembangan produk madu dapat menjadi bagian dari diversifikasi usaha kelompok.
Antusiasme anggota kelompok dalam mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan juga menjadi modal bagi pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Melalui kombinasi peningkatan kualitas kemasan, branding, teknologi pencatatan transaksi, serta penguatan pengelolaan usaha, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing Yakuluok Coffee sebagai UMKM kopi lokal di Papua Pegunungan.
Tim PKM berharap penerapan teknologi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dimanfaatkan dalam aktivitas usaha sehari-hari sehingga identitas merek Yakuluok Coffee semakin kuat dan pengelolaan usahanya menjadi lebih terukur.




















