Headline.co.id, Bandung ~ (Kemenag) — Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya mengembangkan layanan keagamaan yang berbasis pada astronomi Islam, atau ilmu falak, guna menyediakan informasi ibadah yang akurat, terpercaya, dan mudah diakses oleh masyarakat. Langkah ini mencakup berbagai aspek seperti waktu salat, arah kiblat, kalender Hijriah, hingga edukasi ilmu falak.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menekankan pentingnya astronomi Islam dalam mendukung kebutuhan ibadah umat. Dalam Seminar Nasional Astronomi Islam yang digelar di Aula PP Persis, Bandung, Sabtu (15/8/2026), Arsad menyatakan, “Layanan keagamaan berbasis astronomi Islam diarahkan untuk menghadirkan layanan yang akurat, terpercaya, dan mudah diakses. Kebutuhan ini semakin penting karena masyarakat memerlukan kepastian waktu ibadah.”
Pengembangan layanan ini sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasharuddin Umar yang menginginkan agar Kemenag menghadirkan layanan keagamaan yang memberikan dampak nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat. Astronomi Islam tidak hanya dipandang sebagai bidang keilmuan, tetapi juga sebagai fondasi dalam menghadirkan layanan publik keagamaan yang berkualitas.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Arsad menjelaskan bahwa astronomi Islam menjadi instrumen penting dalam penentuan berbagai aspek ibadah. Misalnya, pergerakan harian Matahari digunakan untuk menghitung waktu salat, sementara koordinat lokasi dan posisi Ka’bah menjadi dasar dalam penentuan arah kiblat. Selain itu, siklus Bulan dan visibilitas hilal memainkan peran penting dalam penyusunan kalender Hijriah serta penentuan awal Ramadan dan Syawal.
Kemenag juga mengembangkan layanan waktu salat berbasis astronomi Islam dan teknologi digital untuk memberikan informasi waktu ibadah yang akurat dan mudah diakses. Layanan arah kiblat disediakan melalui perhitungan azimut berdasarkan koordinat lokasi, serta pengukuran dan kalibrasi arah kiblat masjid dan musala. Instrumen seperti GNSS, kompas, theodolite, dan citra satelit digunakan dalam layanan ini, yang juga disertai dengan konsultasi dan edukasi bagi pengurus masjid.
Dalam hal kalender Hijriah, Kemenag mengintegrasikan data konjungsi, posisi Bulan, visibilitas hilal, hasil rukyat, hingga proses penetapan dan publikasi kepada masyarakat. Arsad menekankan pentingnya keterbukaan dalam proses ini agar masyarakat tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga memahami dasar ilmiah dan keagamaan yang digunakan. “Persatuan tidak selalu berarti satu metode; persatuan berarti mampu hidup bersama dalam satu ruang kebangsaan dengan saling menghormati,” ujarnya.
Sidang Isbat dijadikan model kolaboratif yang mempertemukan data astronomi, pertimbangan syariah, dan kepentingan layanan publik. Proses ini melibatkan pemerintah, ulama, ahli falak, astronom, organisasi masyarakat Islam, dan masyarakat untuk menghadirkan layanan keagamaan yang terpercaya. Transformasi digital juga menjadi bagian penting dari pengembangan layanan falak Kemenag, dengan ekosistem yang mencakup portal falak untuk data dan edukasi, aplikasi waktu salat dan kalender, dashboard hilal untuk data observasi, serta penguatan layanan di KUA dan masjid.

















