Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT) Food Security mengadakan lokakarya bertema sistem pangan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai sistem pangan dan pertanian serta strategi transformasinya. Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 30 peserta dari PUAPT Working Group Food Security dan dirancang untuk membekali mereka dengan kemampuan analisis yang lebih terintegrasi mengenai persoalan sistem pangan.
Dr. Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., selaku Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, menjelaskan bahwa lokakarya ini merupakan kelanjutan dari kegiatan PUAPT yang telah dimulai sejak tahun 2024. Ia menekankan pentingnya kegiatan ini dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sivitas akademika agar dapat mengikuti perkembangan isu strategis. “Harapannya setelah ada pelatihan ini kita bisa menggunakan pengetahuan yang kita dapatkan sebagai dasar semua kebijakan dan juga peta jalan penelitian kita, terutama dari aspek food security,” ujarnya.
Dalam lokakarya tersebut, Dr. Ir. Ageng Setiawan Herianto, M.Sc., Assistant FAO Representative – Programme in Indonesia, memaparkan pendekatan sistem pangan. Ia menekankan bahwa food security adalah tujuan akhir yang ingin dicapai, sementara pendekatan food system diperlukan untuk memastikan ketersediaan dan aksesibilitas pangan secara berkelanjutan. Pendekatan ini mencakup berbagai aspek mulai dari produksi hingga konsumsi, termasuk food loss dan food waste. “Food security ini itu ultimate objective. Apa yang kita inginkan itu food system, karena harusnya semua itu tersedia bagi setiap orang,” jelas Ageng.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ageng juga menyoroti pentingnya memahami sistem pangan secara menyeluruh, mengingat persoalan pangan terkait dengan berbagai faktor seperti ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa fokus pada satu sektor saja dapat mengabaikan keterkaitan dengan sektor lain. Oleh karena itu, transformasi sistem pangan harus mencakup perubahan orientasi dari sekadar memenuhi kuantitas pangan menuju penyediaan pangan bergizi yang mendukung pola konsumsi seimbang. Diskusi ini memicu berbagai pertanyaan dari peserta, yang menyoroti kompleksitas sistem pangan di Indonesia dalam skala makro.




















